Image result for URBAN FARMING

Oleh : Siti Rima Sarinah

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bogor, lahan sawah hanya 320,7 hektare dari total 11.850 hektare. Penyusutan lahan pertanian di kota Bogor disiasati oleh Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto, dengan menggandeng Southeast Asian Regional Center For Tropical Biology (Seameo Biotrop) atau Organisasi Kementerian Pendidikan se-Asia Tenggara untuk menjalin kerjasama urban farming (pertanian perkotaan). Jalinan kerjasama ini dimulai sejak tahun 2018 dengan sejumlah program yang telah di kolaborasikan diantaranya school garden, pemasaran online hingga perbaikan gizi untuk menekan angka stunting.
.
Direktur Seameo Biotrop Irdika Mansur menjelaskan telah melakukan transformasi dari yang mula hanya lembaga penelitian hingga kini pihaknya telah mengembangkan hasil penelitian untuk diaplikasikan di sekolah dan masyarakat luas. Biotrop telah membina lebih dari 100 SMK di Indonesia untuk mendukung program revitalisasi SMK dan ketahanan pangan yang bekerjasama dengan Direktorat Pembina-SMK (Kemendikbud). Sejumlah SMK yang telah bermitra telah mendapatkan keuntungan secara nyata. Bahkan pertahunnya sejumlah SMK telah memiliki omset mencapai Rp 2,2 miliar. https://www.ayobogor.com/…/lahan-perkebunan-kurang-pemkot-b…
.
Fakta kota Bogor sebagai kota jasa dan pariwisata, yang tentunya pembangunan kotanya concern pada pembanguan fasilitas dua aspek tersebut. . Hal ini sejalan dengan Visi dan Misi Kota Bogor untuk tahun 2019-2024. yaitu "mewujudkan Bogor sebagai Kota Ramah Keluarga" dan "Mewujudkan kota Bogor yang sehat, cerdas dan sejahtera". Dan adapun yang menjadi program unggulan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor kedepan yaitu pengembangan jasa dan ekonomi kreatif, penguatan spiritualitas dan nilai budaya untuk keluarga tangguh dan masyarakat madani.
.
Fakta diatas sangat berkorelasi pada penyebab sempitnya lahan pertanian di Kota Bogor, yang kondisinya berbeda dengan wilayah Kabupaten Bogor yang masih luas (masih banyak lahan). Urban farming di Kota Bogor bisa menjadi salah satu solusi ketahanan pangan namun, solusi ini bukanlah solusi menyeluruh, karena masalah ketahanan pangan menuntut solusi integral dan tidak pragmatis.
.
Urban farming adalah konsep memindahkan pertanian konvensional ke pertanian perkotaan, yang berbeda ada pada pelaku dan media tanamnya. Pertanian konvensional lebih berorientasi pada hasil produksi, sedangkan urban farming lebih fokus kepada karakter pelakunya yakni masyarakat urban. Di negara-negara lain, urban farming dapat memberikan manfaat terhadap kebutuhan pangan kota, tapi di Indonesia masih sebatas tren gaya hidup. Tren tersebut belum sepenuhnya dioptimalkan untuk pemenuhan kebutuhan pangan. Bahkan pemerintah sendiri dinilai masih kurang serius menjadikan pangan sebagai isu utama. Pembahasan pangan hanya dilakukan saat ada krisis dan setiap kali krisis solusinya adalah impor.
.
Dari sini kita bisa melihat bahwa upaya yang dilakukan pemerintah daerah dan pemerintah pusat saling bertolak belakang dalam mengatasi ketahanan pangan. Justru adanya program urban farming "dimanfaatkan" pemerintah sebagai ajang bisnis dan bentuk pemberdayaan ekonomi masyarakat, sehingga masyarakat secara mandiri dan kreatif memenuhi kebutuhan pangan tanpa perlu melibatkan pemerintah.
.
Namun, program urban farming memiliki ketebatasan, karena hanya bisa memenuhi beberapa macam tumbuhan saja dan hanya mampu memenuhi skala kebutuhan rumah tangga dan itupun tidak selalu tersedia, karena skala kecil dan tidak selalu bisa di panen setiap hari. Inilah gambaran masyarakat yang kreatif dan mandiri yang di inginkan oleh pemerintah yaitu, masyarakat yang menyediakan bahan pangan sendiri, sebagai contoh "mau makan sambal, harus tanam cabe sendiri"
.
Seharusnya negara memetakan wilayahnya, mana lahan untuk pertanian, perumahan, industri, sekolah, dan sarana fasilitas umum lainnya, dan memerlukan planologi (tata kota) sebagai planner untuk kerapian wilayah. Juga membuat regulasi agar lahan pertanian tetap peruntukannya dan tidak tersingkirkan oleh kepentingan yang lainnya. Dan yang lebih penting negara harus melakukan proteksi dari subsidi pupuk, bibit, peralatan, riset dan lainnya. Dan untuk SDM, bagaimana negara harus mempersiapkan kurikulum sekolah/perguruan tinggi sebagai penunjang lahirnya para ahli di bidang pertanian seperti insinyur pertanian. Sehingga dengan cara ini negara bisa mandiri dan rakyat akan tercukupi kebutuhan pangannya.
.
Gambaran peran negara diatas, hanya bisa dilakukan oleh sistem pemerintahan yang bersumber dari sang pencipta manusia yaitu sistem Khilafah. Dimana Khalifah menjadi penanggung jawab untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang di hadapi oleh rakyatnya, termasuk persoalan ketahanan pangan. Dengan mengambil solusi yang bersifat menyeluruh dan bertujuan untuk mensejahterahkan rakyat, serta mencukupi dan menjamin ketersediaan seluruh kebutuhan rakyat. Dan tentu hal ini tidak akan di jumpai dalam sistem kapitalis yang diterapkan di negeri-negeri muslim saat ini, karena sistem ini hanya menjadikan rakyat sebagai "sapi perahan" yang kapanpun bisa dimanfaatkan oleh penguasa dengan dalil masyarakat mandiri dan kreatif, padahal hal tersebut adalah bukti kebobrokan sistem kapitalis yang sudah tidak layak dan tidak mampu mengatasi problematika kehidupan manusia. Wallahu A’lam

Post a Comment

Powered by Blogger.