Oleh: Mahfud Abdullah (Direktur Indonesia Change)
Kegagalan sistem kapitalisme yang dianut banyak negara dalam bergerak dengan cepat dan pas dalam jaminan kesehatan, jaminan rasa aman, dan jaminan pangan menunjukkan kegagalan serius sistem ini. Lalu apakah setelah semua ini, manusia masih membutuhkan bukti lagi untuk meyakini bahwa kapitalisme, sebagai sebuah sistem yang mengatur hubungan manusia, adalah sistem yang rusak dan gagal. Sungguh, sistem kapitalisme ini tidak membawa manusia kecuali pada penderitaan dan kesengsaraan?
Meskipun secara umum kita bisa memahami bahwa alasan banyak orang masih percaya pada sistem yang rusak ini, sehingga mereka mengira bahwa dengan mempertahankan sistem ini, mereka akan lepas dari masalah mereka. Namun kita tidak bisa menerima bahwa fenomena seperti ini juga terjadi di negeri-negeri kaum Muslim. Sebab dalam Islam perbuatan maksiat itu diharamkan.
Islam juga menjelaskan bahwa Allah SWT terkadang menguji seorang Muslim di dunia, seperti dengan hadirnya wabah, menyempitkan rizki, dan kesehatannya, serta mengujinya terkait keluarganya, anak-anaknya, harta bendanya, dan yang lainnya. Allah SWT berfirman:
“Sungguh Kami akan menguji kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (TQS. Al-Baqarah [2] : 155).
Namun seorang Mukmin akan menerima semua ini dengan lapang dada. Bahkan ia senang dengan ujian yang Allah berikan pada dirinya, sebab ia melihatnya sebagai kesempatan untuk menebus dosa-dosanya. Rasulullah saw bersabda:
“Apapun yang menimpa seorang Muslim, seperti kelelahan, sakit, kegelisahan, kesedihan, derita dan duka, hingga tertusuk duri, kecuali Allah menghapus dosa-dosanya.” (HR. Bukhari).
Dari Mush’ab bin Sa’ad, dari ayahnya yang berkata: “Ya Rasulullah, siapa manusia yang berat ujiannya?” Rasulullah saw bersabda:
“Mereka adalah para Nabi, lalu yang sederajat dan yang sederajat. Seorang hamba akan diuji sesuai kadar agamanya. Ujian akan terus diberikan kepada seorang hamba, hingga ia dibiarkan berjalan di atas bumi, sedang ia tidak memiliki kesalahan.” (Shahih Ibnu Hibban).
Apa yang terjadi, hingga penyakit orang-orang Barat yang mendukung sistem kapitalisme ini menular kepada negeri kami, yang membuat generasi umat Islam menjadikan kapitalisme sebagai solusi untuk lepas dari masalah?
Untuk mengetahui penyebab semua itu, tidak perlu banyak pengetahuan: Sungguh, sistem kapitalisme benar-benar telah gagal dalam memberikan kebutuhan dasar masyarakat, sehingga meningkatkan angka pengangguran, kemiskinan dan ketidakmampuan masyarakat untuk meraih hidup layak bagi dirinya dan keluarganya. Semua ini membuat tekanan terhadap masyarakat yang setiap harinya terus bertambah.
Sedang sistem kapitalusme ini tidak cukup dengan menciptakan semua tekanan, namun ia juga berusaha memalingkan masyarakat dari agamanya, dengan menyebarkan kebebasan berpikir dan bertingkah laku; serta memerangi sikap konsisten dengan agama, dan menganggapnya sebagai jenis ekstremisme. Sehingga tidak diragukan lagi, bahwa resep yang sempurna untuk mengakhiri meningkatnya angka bunuh diri, adalah menghilangkan tekanan di satu sisi, dan memperkuat akidah masyarakat serta membekalinya kemampuan untuk memikulnya, di sisi yang lain.
Kaum Muslim selama berabad-abad tidak mengenal fenomena ini, meskipun mereka ditimpa berbagai krisis, politik, ekonomi dan militer, namun mereka tetap terikat dengan hukum-hukum Allah, sehingga mereka dengan segera mampu memulihkan kembali keadaan. Dengan demikian, kekuatan akidah dan kejernihannya akan membuat mereka mampu memikul kesulitan dunia, bahkan menganggapnya kecil dibanding pahala di sisi Allah. Sehingga yang terlintas dalam pikirannya adalah ketakutan mengakhiri hidupnya dengan cara yang dimurkai Allah.
Sementara hari ini, dalam naungan sistem kapitalisme yang rusak, yang mengabaikan pemeliharaan terhadap masyarakat, merusak pikirannya, dan membuatnya hidup dalam sebuah masyarakat rimba, dimana dengan legal yang kuat memakan yang lemah. Dengan ini, wajar akan terjadi penyebaran fenomena ini. Kita melihat bagaimana seorang melakukan bunuh diri karena tidak lagi mampu melaksanakan tanggung jawabnya, kehilangan bisnisnya, rahasianya terbongkar, kekasihnya pergi, dan banyak lagi. Semua alasan ini sangatlah mudah jika diselesaikan dengan sudut pandang syariah Islam.
Solusi dari Allah SWT adalah obat mujarab untuk semua masalah kemanusiaan. Bagaimana tidak, solusi itu dikeluarkan oleh Dzat Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui kondisi manusia, karakternya, dan apa yang baik untuknya. Allah SWT berfirman:
“Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (TQS. Al-Mulk [67] : 14). []
x

Post a Comment

Powered by Blogger.