"Saya meluruskan dulu, Pak Luhut itu bukan menantang, Pak Luhut itu mengajak mereka yang punya data dan fakta terkait dengan utang Indonesia untuk datang diskusi konstruktif. Beredar di sana kan Pak Luhut menantang padahal tidak,"_
(Jodi Mahardi, Juru Bicara Kemenko Marves, 9/6).

Saya sebenarnya lelah meladeni narasi yang diedarkan Pak Luhut maupun Jubir Kemenko Marves soal utang negara, khususnya di masa Pandemi Covid-19. Namun, model komunikasi publik yang tak menentramkan dada, cenderung mengumbar keangkuhan, rasa merasa paling tahu dalam segala hal, 'mengintimidasi' pihak-pihak yang memiliki aspirasi berbeda, perlu diluruskan.

Soal tantangan pak Luhut, itu secara substansi bisa dipahami dari rangkaian redaksi yang diunggah. Karenanya, sudah benar portal berita Kompas menurunkan berita dengan judul "Luhut Tantang Pengkritik Utang Negara: Enggak Usah Ngomong di Medsos dan TV, Ketemu Saya Sini".
Coba perhatikan pernyataan yang dijadikan rujukan judul portal kompas :

"Jadi kalau ada yang mengkritik kami (pemerintah), sini saya juga pengin ketemu. Jadi jangan di media sosial saja. Nanti ketemu kami, ngomong. Enggak usah ngomong di TV-lah, ketemu saya sini ,"
Rangkaian kalimat yang dinyatakan pak Luhut ini memang bisa ditafsirkan sebagai sebuah tantangan atau minimal sebuah ajakan. Ajakan untuk diskusi terkait utang negara di masa Pandemi Covid-19.

Pihak Pak Luhut juga tak pernah mempersoalkan berita yang diturunkan kompas. Sebab, sebagai warga negara apalagi sebagai pejabat Menko Marves, pak Luhut sangat memiliki hak dan berwenang untuk menegur atau paling tidak mengajukan komplain terhadap kompas atas pemberitaan yang dianggap bias. 

Nyatanya, tidak ada satupun komplain baik dari pak Luhut selaku prinsipal maupun Jodi Mahardi selaku jubir Kemenko Marves yang komplain ke harian kompas. Sampai tulisan ini dibuat, judul berita "Luhut Tantang Pengkritik Utang Negara: Enggak Usah Ngomong di Medsos dan TV, Ketemu Saya Sini" masih tayang di portal berita Kompas.

Baiklah, jika benar klarifikasi Jodi Mahardi, yang menerangkan pak Luhut tidak pernah menantang, agar menjadi jelas urusannya sekarang saya yang menantang balik pak Luhut untuk diskusi, masih dalam topik yang sama, yakni soal meningkatnya utang negara di situasi pandemi Covid-19.

Atau, jika sekiranya bahasa "menantang" dianggap terlalu vulgar, saya ubah dengan kalimat yang lebih halus, yakni saya mengajak pak Luhut untuk diskusi, masih dalam topik yang sama, yakni soal meningkatnya utang negara di situasi pandemi Covid-19.

Baik dengan redaksi "tantangan" atau menggunakan diksi "ajakan", intinya saya siap diskusi dengan pak Luhut, masih dalam topik yang sama, yakni soal meningkatnya utang negara di situasi pandemi Covid-19.
Tapi diskusi ini harus diketahui publik, saya sudah menawarkan mode live online, karena saya banyak punya kawan yang bisa live streaming baik via Facebook, YouTube, dll. Media diskusinya bisa menggunakan Zoom.

Lagi pula, saya menantang diskusi tentang persoalan bangsa dan negara, bukan persoalan pribadi pak Luhut. Karenanya, jika diskusi dilakukan cuma empat mata, selain khawatir itu dianggap program Tukul Arwana, saya juga menghindari praduga Publik tentang anggapan terjadinya gosip menggosip antara kita, bukan diskusi.

Lagipula, diskusi ini penting untuk meluruskan praduga Publik terhadap pak Luhut, jika dianggap selama ini kebijakan pemerintah khususnya yang dikeluarkan pak Luhut telah benar. Diskusi juga penting, untuk mengoreksi para pengkritik, agar jangan hanya ramai di sosial media, tetapi tak berani diskusi tatap muka langsung dengan pak Luhut.

Lebih penting lagi, pak Luhut perlu membuktikan apakah jawaban tantangan dan tantangan balik dari anak muda bernama Ahmad Khozinudin, itu benar-benar memiliki basis argumentasi, atau sekedar ciamik dalam rangkaian unggahan artikel.

Saya yakin, pak Luhut memiliki persepsi, kepiawaian, dan pemahaman yang utuh dan menyeluruh tentang perekonomian bangsa khususnya masalah utang yang disoal banyak pihak. Karena itu, ini sebenarnya kesempatan pak Luhut untuk mengklarifikasi publik, bahwa pak Luhut juga jago dalam segala hal (bukan hanya purnawirawan jenderal TNI), tetapi juga piawai dalam mengelola Utang Negara. 

Bagaimana pak Luhut ? Kapan kita diskusi ?

Post a Comment

Powered by Blogger.