Oleh: Alfysyah (Pendidik, Aktivis Muslimah)

Masa New normal Life di Indonesia sudah diberlakukan. Proses rekayasanya pun sudah berjalan meskipun negeri ini terbilang belum siap baik secara finansial, moral, hingga persiapan lainnya. Gelombang 2 penuh kekhawatiran pun menanti di depan mata.

Tak dapat dipungkiri kebutuhan akan dana dalam masa New Normal ini. Dana dan biaya finansial yang tidak sedikit tentunya. Jika new normal diberlakukan saat ini menurut pakar akan terjadi gelombang besar pada bulan Agustus 2020. Hal tersebut jika 40% new normal diberlakukan. Jika 80% diberlakukan perkiraan gelombang wabah sekitar bulan Oktober. 

Hal ini tentu akan memicu pengeluaran APBN lagi. Maka, defisit APBN di masa itu diprediksi menjadi sangat parah. Peluang hutang lagi dan lagi menjadi pilihan nantinya. Semestinya penguasa negeri ini memikirkannya sekarang, mempertimbangkan kebijakan new normal ini. Negara lain saja semisal Korea memberlakukan new normal pada saat angka Covid sudah menurun. Namun kini menarik kebijakan tersebut karena terjadi lonjakan kasus. Hingga 6 juni ditetapkan lagi social distancing untuk memutus rantai penyebaran.

Demikian juga Jedah, melakukan pembatasan pergerakan orang pada jam 3 sore hingga jam 8 pagi. Jamaah umroh yang sudah terlanjur berangkat dipulangkan. Padahal kasus Covid-19 di dua negara itu sudah turun. Maka ketika pemerintah menerapkan kebijakan ini disebut banyak pakar sebagai tindakan prematur. The new normal yang sangat prematur.

Gelombang wabah kedua bukan hanya menggagalkan PSBB yang sebelumnya telah diberlakukan, namun juga akan memporakporandakan ekonomi negeri ini.

Anggaran Negara yang sudah defisit akan semakin deficit. Jebakan hutang menanti di depan mata. Saat itu Negara kita yang menerapkan sistem kapitalis ini akan semakin kacau. Tulisan ini bukan hendak mengendurkan semangat melawan Covid-19, namun hanya mengingatkan akan bahaya yang sedang mengintai di balik kebijakan negara yag keliru.

Sebenarnya kesalahan bersumber bukan dari satu kesalahan saja. Namun berasal dari banyak kesalahan yang mengakar pada satu kesalahan. Kesalahan itu adalah ketika mengatur masyarakat dan Negara ini berbasis sekuler kapitalistik yang berlindung di balik sistem demokrasi.

Adalah wajar jika sistem sekuler kapitalis yang diberlakukan akan banyak sumber pemasukan Negara yang akan hilang. Hanya tersisa dari sumber hutang Luar Negeri (hibah) dan pajak saja. Sumber pemasukan dari bahan tambang, hutan, gas alam, laut, sungai sudah menjadi milik negara lain akibat salah kelola. Kesalahan kelola terhadap SDA tersebut adalah perkara yang niscaya dalam sistem kapitalis. Sebab para kapital yang meminta secara paksa, mereka kuasai SDA tersebut. Negara ini pun secara terpaksa menyerahkan SDA dikarenakan sudah berhutang budi sebegitu banyak pada saat mereka dipilih menjadi pemimpin negeri. Juga balas budi karena dulu sudah dimerdekakan (baca: dijajah lagi secara halus) ketika penjajah fisik pergi dari negeri ini.

Hutang budi itu akhirnya dibayar dengan menyerahkan SDA yang notabene milik rakyat. Perselingkuhan politik terjadi secara apik pada saat pengalihan kepemilikan SDA. Pelan tapi pasti, sejengkal demi sejengkal SDA hingga habis dimiliki oleh asing dan aseng (kapital). Masyarakat tinggal gigit jari ketika mengetahui perselingkuhan ini. Sayangnya, setelah masyarakat mengetahui pun mereka tetap diam, tak bisa berbuat apa-apa, termakan opini yang beredar bahwa tidak mudah mengurus SDA jika tidak minta bantuan asing. Entah terlalu baik atau terlalu polos atau karena bodoh, sikap masyarakat tersebut menjadikan jalan mulus bagi penguasa yang pro kapital.

Tak ada perlawanan yang berarti dari masyarakat yang lugu ini. Kecuali dari beberapa aktivis yang akhirnya dibungkam dan dijahit mulutnya karena terlalu kritis kepada penguasa. Beberapa aktivis masuk bui, dikriminalisasi, diframe sebagai orang yang bermasalah, dan lain-lain. Perlakuan penguasa tersebut akhirnya semakin membungkam mulut masyarakat biasa dan menggentarkan aktivis yang kritis. Jadilah semua diam dan hasilnya seluruh SDA negeri ini hilang tanpa jejak dan menjadi milik asing, tak tersisa kecuali sedikit. Akhirnya 80% masyarakat memperebutkan yang sedikit dan bertengkar karena SDA yang tersisa hanya sedikit.

Penguasa itu adalah perisai. Di belakang perisai masyarakat berlindung. Jika perisai itu diberikan kepada para kapital, lalu apakah kuburan yang akan dihadiahkan untuk rakyat? Menjadi tumbal itu adalah konsekuensi bagi masyarakat. Masyarakat harus siap jika diminta. Namun itu hanya terjadi dalam sistem kapitalis. Tak akan pernah terjadi pasa saat Islam diterapkan. 

Jika sistem Islam ada hari ini, new normal tidak akan diberlakukan. Sebab angka Covid belum hilang. APBN yang banyak sumbernya itu cukup untuk menangani penganggulangan wabah selama masa karantina berapapun lama waktunya. Bahkan surplus karena ketundukan kepada syariat Allah akan menjadikan wabah segera berakhir. Sebab wabah itu ujian, maka jika kembali bertaubat niscaya Allah bukakan jalan untuk mengendalikannya. Jika pun ada yang wafat, mereka layak mendapatkan pahala syahid sebagaimana yang dijanjikan Allah. Sebab itu qodho yang merupakan hak preogratif Allah. Artinya, setelah menempuh cara untuk mengatasi pandemi sesuai dengan syariat, maka ada wilayah lain yang tidak bisa dicampuri yaitu wilayah yang manusia tidak sanggup mengendalikannya yaitu kematian, dan lain-lain. Sebab, wilayah pengendalian wabah itu dalam kuasa manusia.

Maka, karantina/ lock down yang diajarkan Nabi sebagai wahyu adalah satu-satunya cara memutus rantai penularan virus, termasuk memberlakukan new normal atau tidak sebenarnya tergantung sistem apa yang mengarahkannya. Jika sistem Islam yang digunakan maka saat ini belum saatnya, terlalu prematur. Bersabarlah hingga grafik melandai, kasus hilang atau berkurang. Satu hal lagi, hutang karena devisit APBN itu akan memancing kemurkaan Allah, dan wabah tak akan berhenti. Lalu bagaimana caranya?

Tentu dengan kembali pada Islam, sistem yang menjadikan APBN menjadi normal bahkan surplus. Tentu saja dengan menerapkan sistem pemerintahan, ekonomi, kesehatan, dan lain-lain sesuai Islam secara serentak. Sebab, sistem itu akan berhasil jika hanya diterapkan secara serentak, berkesinambungan dan kompatibel. Sistem kompatibel itu akan menjadi rahmat seluruh alam. Sekali merangkuh gayung, dua tiga pulai terlampaui. Sekali sistem Islam secara kaffah diterapkan, APBN akan baik bahkan surplus, wabah akan hilang dan hutang tak pernah ada. Bagaimana? Apakah tidak ingin menerpakan sistem alternatif ini?

Post a Comment

Powered by Blogger.