Oleh Ainul Mizan (Pemerhati Sosial Politik)

Imam Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar di kantor BNPT (10/6/2020) telah 
menganjurkan agar mengkaji ulang kitab - kitab Fiqih. Menurutnya kebanyakan 
kitab fiqih itu produk Perang Salib. Maka wajar imbuhnya ada pembagian 
darul islam dan darul kufur atau darul harb.

Pernyataan tersebut disampaikannya sebagai masukan untuk menangkal paham 
radikal. Jadi mendekonstruksi kitab fiqih perlu dilakukan.

Mencermati pernyataan Nasaruddin Umar tersebut, maka ada beberapa catatan 
yang harus diperhatikan berikut ini.

_Pertama_, keberadaan dan pengamalan fiqih di tengah - tengah umat Islam 
sudah ada jauh sebelum masa perang Salib.

Abuya Sayyid Muhammad bin Alwiy al Maliki al Hasaniy di dalam kitabnya, 
_Syari'atullahi al Khalidah_ halm 7 menegaskan:
فلو ان المسلمون (اليوم)  عملوا باحكام الفقه والدين كما كان آباءهم لكان ارقى 
الامم واسعد الناس.
Artinya:
Maka sekiranya umat Islam saat ini mengamalkan hukum fiqih dan Islam 
sebagaimana para pendahulunya, sungguh niscaya umat Islam akan menjadi umat 
yang paling berwibawa dan paling bahagia.

Di jaman Rasul Saw dan para sahabatnya, fiqih Islam sudah berkembang. 
Bahkan terjadi perbedaan pandangan fiqih di antara sahabat Nabi Saw. Ambil 
contoh dalam persoalan talak. Abu Bakar ash Shiddiq tidak menilai sebagai 
talak tiga atas seorang lelaki yang mengucapkan talak sebanyak 3 kali 
pengulangan dalam satu waktu. Sedangkan Umar bin Khaththab ra menghukuminya 
sebagai telah jatuh talak tiga.

Oleh karena itu, sanad fiqih diambil dari para sahabat Nabi Saw. Sanad 
fiqih dari Madinah diambil dari Zaid bin Tsabit dan Abdullah ibnu Umar 
radhiyallahu anhuma. Lalu kepada Nafi, Salim, Zuhri, Syafi'i, Malik dan 
Ahmad.

Sanad fiqih dari Mekah berasal dari Abdullah Ibn Abbas, lalu Amr bin 
Dinar,  Sufyan bin Uyainah, Syafi'i, dan Ahmad.

Sanad fiqih dari Iraq diambil dari Abdullah ibn Mas'ud ra, lalu al qomah, 
ibrahim, hamad, Abu hanifah, Muhammad bin Hasan, Syafi'i dan Malik.

Bahkan Imam 4 madzhab fiqih dalam Islam masa hidupnya jauh sebelum perang 
Salib. Imam Hanafi wafat 150 H. Imam Malik wafat 179 H. Imam Syafi'i wafat 
204 H. Imam Ahmad bin Hanbal wafat 241 H. Padahal perang Salib terjadi pada 
490 H hingga 670 H.

Jadi menyatakan sebagian besar kitab fiqih itu produk perang Salib adalah 
sebuah kesalahan fatal.

_Kedua_, pedoman fiqih politik umat Islam tidak dikodifikasi saat perang 
Salib.

Ada 2 kitab fiqih siyasah dalam hal ini yakni, kitab _ahkamus sulthoniyyah_ 
karya al Imam al Mawardi (wafat 478 H), dan kitab _al Ghiyatsi_ karya al 
Imam al Haramain al Juwaini (wafat 478 H).  Jadi meskipun kitab _ahkamu 
ahlu adz dzimmah_ karya Ibnul Qayyim al Jauziyyah, yang beliau masa 
hidupnya terjadi,  perang Salib, lantas diambil kesimpulan fiqih itu produk 
perang Salib, tentunya itu adalah cacat intelektual yang parah.

Bukankah Rasul Saw menyatakan bahwa:
من اذى ذميا فقد اذاني
Barangsiapa yang menyakiti ahlu dzimmah,  maka sungguh ia telah menyakitiku.

سنوا بسنة اهل الكتاب
Perlakukan mereka (kafir non ahlul kitab) itu dengan perlakuan kepada ahlul 
kitab.

Allah Swt berfirman:
وقاتلوهم حتى لا تكون فتنة ويكون الدين كله للّه
Perangilah mereka hingga tidak ada lagi kekufuran dan agama ini semuanya 
untuk Allah.

Nash - nash Islam tersebut berkaitan dengan perlakuan kekuasaan Islam 
terhadap kafir dzimmi dan kafir harbi. Walhasil kodifikasi fiqih Islam itu 
bersumber pada al Qur'an dan Hadits Nabi Saw serta dua sumber lainnya yakni 
ijmak sahabat dan qiyas syar'iy.

_Ketiga_, terjadinya perang adalah sebuah keniscayaan. Yang membedakan 
adalah nilai dan tujuan yang menjadi motivasi dalam melakukan peperangan.

Ideologi Kapitalisme telah menjadikan penjajahan sebagai metode 
menyebarkannya. Tentunya perang yang dilakukan dalam rangka menjajah negeri 
yang lain. Perang Teluk dan perang tahun 2003 yang dilancarkan AS telah 
menyisakan kesengsaraan bagi Irak. Tragedi WTC yang mendorong AS memerangi 
Afghanistan telah menghasilkan kehancuran dan kesengsaraan. Pendudukan 
Israel atas restu AS di tanah Palestina hanya menyisakan penderitaan.

Berbeda dengan perang dan jihad dalam Islam. Islam menaklukan suatu negeri 
dalam rangka menyebarkan kebaikan Islam. Penaklukan Islam di Andalusia, 
telah meninggalkan kemajuan bagi Eropa waktu itu. Cordoba menjadi pusat 
ilmu pengetahuan dunia. Granada dengan al Hamra menjadi saksi kemakmuran di 
jamannya. Begitu pula penaklukan atas Konstantinopel. Muhammad al Fatih 
menjadikan Konstantinopel sebagai ibukota Utsmaniy. Ini menunjukkan bahwa 
Islam datang sebagai rahmat atas seluruh alam.

_Keempat_, janganlah kebencian pada suatu kaum menjadikan hilangnya rasa 
adil dalam menilai dan memutuskan.

Cap radikalisme yang dialamatkan kepada upaya ajakan kembali penerapan 
Islam secara paripurna adalah wujud kebencian. Oleh karena itu, janganlah 
kebencian tersebut menjadikan mereka menjadi lancang dan berani mengotak - 
atik ajaran Islam. Membenci perjuangan Islam itu sebuah dosa, menjadi 
berlipat lagi dosanya ketika mereka lancang mengatakan ini halal dan ini 
haram, seraya mengotak atik Islam sekehendaknya. Apakah mereka lebih takut 
kepada para penjajah Kapitalis maupun Komunis itu, daripada kepada Allah 
SWT dan siksaNya yang pedih??

Post a Comment

Powered by Blogger.