Krisis keuangan dan ekonomi dalam sejarah dunia, terus bergulir dan menghantam setiap negara sedigdaya apapun. Itu sebuah keniscayaan, namun seberapa kuat dan tahan sebuah sistem pemerintahan dengan seperangkat sistem ekonominya mampu bertahan, menahan dan bahkan bangkit dari krisis yang menerpa?

Saat ini, pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai telah mengakibatkan kontraksi cukup dalam terhadap ekonomi global. Bank dunia menyebut, krisis ekonomi karena pandemi ini terparah sejak Perang Dunia II.

Dikutip dari CNCB Indonesia (25/7/2020), Bank Dunia mencatat, aktivitas ekonomi di antara negara-negara maju menyusut drastis hingga 7% di tahun 2020 dan IMF meramalkan ekonomi global di 2020 akan -4,9%.

Pasar ekonomi berkembang juga menyusut hingga 2,5% . Ini awal kalinya ekonomi negara berkembang terkontraksi sejak 60 tahun lalu. Bahkan dua negara maju seperti Singapura dan Korea Selatan sekarang tengah mengalami resesi ekonomi.

Sudah saatnya dunia secara global mencari solusi mumpuni untuk bangkit. Dari sejarah panjang krisis global, kiranya dapat ditelisik lebih dalam sistem ekonomi apakah yang anti krisis? Sistem ekonomi sosialis pernah berjaya di negara adidaya Uni Soviet hampir 90 tahun lamanya. Sistem ekonomi Kapitalis dengan Amerika sebagai pelopornya saat ini nyata sedang berjuang antara hidup dan matinya. Dan bukan pilihan salah, bahkan tepat jika kembali pada sitem ekonomi Islam dengan sejarah panjangnya selama 13 abad menguasai dunia, berikut dengan capaian kesejahteraan di bawah naungannya.


BEBERAPA FAKTOR YANG MELATARBELAKANGI KEGAGALAN EKONOMI SOSIALIS DAN KAPITALIS DALAM MENGATASI KRISIS EKONOMI GLOBAL

Sosialisme-Komunisme dengan sistem ekonominya pernah diemban menjadi negara adidaya dan bertahan kurang lebih selama 90 tahun. Bagaimanakah sistem ekonomi sosialis ini akhirnya tidak mampu bertahan dalam krisis hingga tumbang? Begitu pula saat ini, Kapitalisme dengan sistem ekonomi kapitalisnya  sedang menunjukkan geliat sakaratul mautnya setelah dihantam pandemi corona. Bagaimana ekonomi kapitalis yang kerap dihampiri krisis di sepanjang hidupnya ini mampu bertahan? Berikut kami mencoba untuk menelisiknya lebih mendalam.

Sistem Ekonomi Sosialisme

Sistem ekonomi Sosialis merupakan sistem ekonomi yang lahir dari pemikiran Sosialisme. Dimana akidah atau pemikiran dasar yang menjadi pondasi Sosialisme adalah Materialisme. Setidaknya ada lima dasar keyakinan yang dianut ideologi ini. Pertama, segala yang ada (wujud) berasal dari satu sumber, yaitu materi. Kedua, tidak meyakini adanya alam ghaib. Ketiga, menjadikan panca indera sebagai satu-satunya alat mencapai ilmu. Keempat, memposisikan ilmu sebagai pengganti agama dalam peletakkan hukum. Dan kelima, menjadikan kecondongan dan tabiat manusia sebagai akhlak.

Sedangkn dalam sistem ekonomi Sosialis memiliki prinsip diantaranya untuk mewujudkan kesamaan (equality) secara riil, menghapus kepemilikan individu (private property) secara keseluruhan ataupun sebagian serta mengatur produksi dan distribusi secara kolektif.

Ekonomi Sosialis bermula pada premis bahwa "setiap individu tidak hidup atau bekerja dalam kesendirian tetapi bekerja sama dengan yang lainnya. Selanjutnya, semua yang dihasilkan individu dalam beberapa arti merupakan produk sosial, dan setiap orang yang berkontribusi pada produksi barang berhak mendapat bagian di dalamnya.”

Berdasarkan prinsip-prinsip diatas, sistem perekonomian sosialis memberikan kebebasan yang cukup besar kepada setiap orang untuk melaksanakan kegiatan ekonomi tetapi dengan campur tangan pemerintah. Pemerintah masuk ke dalam perekonomian untuk mengatur tata kehidupan perekonomian negara serta jenis-jenis perekonomian yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara seperti air, listrik, telekomunikasi, gas, dan lain sebagainya.

Demi memperoleh suatu distribusi yang lebih baik dengan tindakan otoritas demokratisasi terpusat dan produksi kekayaan yang lebih baik adalah tujuan dari sistem ekonomi ini. Sistem ekonomi Sosialis berpandangan bahwa kemakmuran individu hanya mungkin tercapai bila berfondasikan kemakmuran bersama. Sebagai Konsekuensinya, penguasaan individu atas aset-aset ekonomi atau faktor-faktor produksi sebagian besar merupakan kepemilikan sosial.

Kembali kami tegaskan, berdasarkan prinsip dasar sosialis inilah yang menjadikan pengaturan semua kegiatan ekonomi dikendalikan oleh pemerintah, sehingga pemerintah mudah melakukan pengawasan. Tidak ada kesenjangan ekonomi yang mencolok diantara anggota masyarakat. Dan, pemerintah mudah dalam mengatur dan melakukan pembentukan harga pasar atau barang dan jasa.

Berdasarkan asas dan prinsip sistem ekonomi sosialis diatas, yang menjadi sorotan pertama dan utama dari kritik ekonomi sosialis ini adalah pada akidah yang diembannya. Akidah materialisme dengan pandangan yang serba kebendaan yang terurai dalam Materialisme Dialektis telah tampak jelas kebatilannya. Meniadakan adanya Tuhan dan menganggap semua hanya berasal dari materi.

Materialisme Dialektis menyatakan bahwa alam akan mengalami evolusi mengikuti hukum gerak materi dan tidak memerlukan akal holistic apapun. Alam adalah wujud tunggal, tidak pernah diciptakan oleh Tuhan. Dan ini jelas batilnya, sebab sesuatu yang dapat diindera dan dipikirkan sebagai wujud adalah hal yang pasti. Sementara tidak dapat dinafikkan bahwa sesuatu yang dapat diindera dan dipikirkan itu selalu memerlukan yang lain, lemah, terbatas dan mempunyai sifat membutuhkan.

Selanjutnya, prinsip Sosialisme yang ingin mewujudkan persamaan (equality) juga jelas kemustahilannya. Dimana ketidakmungkinan terjadinya persamaan ini karena manusia, memiliki karakter fitrahnya yang menjdi dasar kelahirannya, berbeda-beda tingkat kekuatan fisik dan intelek-tualitasnya, termasuk tingkat pemenuhan kebutuhan-kebutuhannya. Perbedaan kekayaan yang dimiliki manusia serta perbedaan dalam memperoleh ala-alat produksi dan jasa adalah suatu hal yang alami. Jadi ketika berupaya menyamaratakan sudah pasti akan menemui kegagalan karena bertentangan dengan fitrah ketidaksamaan manusia.

Prinsip selanjutnya yang ingin menghapus kepemilikan pribadi secara total juga jelas bertentangan dengan fitrah manusia. Sebab, kepemilikan merupakan wujud naluri mempertahankan diri yang senantiasa ada dalam diri manusia. Begitu juga dengan penghapusan kepemilikan pribadi secara parsial, juga harus lebih dulu diteliti. Apabila pembatasan berdasarkan kadar kepemilikan ini tidk dibolehkan. Namun, apabila pembatasan berdasarkan kepemilikan barang dan jasa dengan mekanisme tertentu tanpa batas kuantitas, ini diperbolehkan.

Prinsip yang terakhir yaitu mengatur produksi dan distribusi secara kolektif tidak bisa dilakukan dengan cara menimbulkan gejolak dan guncangan-guncangan di tengah masyarakat. Sebab, cara ini hanya bisa menciptakan kekacauan bukan mengatur. Jadi untuk mengatur produksi dan konsumsi diperlukan undang-undang dan solusi yang benar, yang asasnya pasti dan sesuai dengan kondisi masalahnya.

Sistem Ekonomi Kapitalisme

Krisis keuangan yang jamak terjadi pada sistem kapitalisme sebenarnya disebabkan tidak hanya sekedar oleh terjadinya kekacauan tertentu semisal terjadinya pandemi seperti saat ini. Pakar Ekonomi Syariah, Dwi Condro Triyono, menyebut bahwa krisis ekonomi akan terus terjadi karena pilar-pilar sistem ekonomi kapitalis ini sangat rapuh. Ada 3 pilar yang menyumbang kerapuhan sistem ekonomi ini. 

Pertama; sistem mata uangnya, yaitu sistem mata uang kertas yang hanya berbasis pada kepercayaan (trust), bukan pada nilai intrinsiknya. Uang kertas Rp 100.000,- nilai intrinsiknya tidak mencapai nilai sebesar itu. Cengkeraman sistem kapitalis juga telah menciptakan standar ganda dengan menjadikan mata uang dollar sebagai standart nilai dan alat pembayaran dalam perdagangan internasional. 

Standar inilah yang menjadi sumber penjajahan dan ketidakadilan. Dengan 1 dollar AS kita bisa mendapatkan Air mineral gelas satu karton, sementara dengan 1 Rupiah Inonesia, satu gelas air minel saja belum dapat. Butuh minimal 500 rupiah baru dapat satu gelas air mineral. Adilkah? 

Uang kertas juga selalu mengalami inflasi yang permanen karena nilai intrinsiknya dan ekstrinsik berbeda. Uang dengan nominal Rp 100.000,- tahun ini nilainya akan berbeda dengan jumlah yang sama pada 10 tahun yang akan datang. 


Kedua; sistem utang piutang, yaitu hutang piutang yang berbasis pada bunga yang bersifat tetap (fixed rate). Sistem hutang piutang ini dijalankan oleh mekanisme perbankan. Hutang piutang ini saat ini telah menjadi kebiasaan berbagai negara terutama negara berkembang dan negara dunia ketiga. Banyak dari negara-negara tersebut akhirnya terbebani dengan teknik hutang ini. Tidak terkecuali Indonesia yang hampir 25% APBN tahunannya adalah untuk membayar cicilan pokok dan bunga hutangnya. 

Ketiga; investasi asing yang berbasis pada perjudian (speculation). Sistem investasi ini diwujudkan dalam sistem pasar modal. Dengan sistem investasi lewat pasar modal atau pasar saham ini investor asing dengan sangat mudah dapat menguasai perusahaan-perusahaan vital sebuah negara. 

Dengan memainkan uang mereka, dalam waktu tertentu mereka dapat membeli saham perusahaan bagus dan menjualnya kembali saat nilainya menguntungkan. Ada sebuah permisalan mudah dari ekonom Sritua Arief. 

Untuk 1 dollar AS investasi asing yang masuk ke indonesia, bisa balik keluar dari indonesia sepuluh kali lipatnya. Maka tidak aneh jika inilah metode perusahaan multinasional untuk menghisap dan mengeksploitasi secara kejam sumber daya alam sebuah negara. 

Fundamentalisme yang rapuh dari sistem ekonomi kapitalisme tersebut, telah menciptakan krisis keuangan yang berulang kali terjadi baik ada pandemi ataupun tidak ada pandemi. Terlebih ada pandemi ini, maka kejatuhan ekonomi akan semakin memperparah keadaan dan tinggal menunggu waktu. 

Inflasi uang akibat harga barang yang terus meroket naik akibat kelangkaan (penimbunan), nilai tukar dollar yang harus dijaga, hutang piutang baik pokok dan bunga yang harus terus dibayar dan hisapan kekayaan negara lewat kedok investasi akan semakin melemahkan perekonomian dan menjatuhkannya dalam lubang kehancuran. Time Will Tell.

Berbicara tentang krisis ekonomi tentunya akan berpengaruh pada ambruknya sektor finasial. Krisis finansial ini sangat berpengaruh pada ambruknya perekonomian banyak negara, termasuk negara-negara maju. 

Jika dibiarkan efek domino resesi akan menyebar sampai macetnya kredit perbankan hingga inflasi yang sulit dikendalikan, atau bahkan sebaliknya terjadi deflasi.


DAMPAK KEGAGALAN SISTEM EKONOMI SOSIALIS DAN KAPITALIS MENGATASI KRISIS GLOBAL TERHADAP CAPAIAN KESEJAHTERAAN UMAT MANUSIAA

Sehebat-hebatnya manusia dalam berusaha menciptakan sistem kehidupan pasti ada cacatnya juga. Karena memang secara fitrah manusia diciptakan seperangkat dengan aturan untuk mengatur kehidupan mereka. Jikalau mereka berusaha mencipta aturan hidup sendiri, wajar jika kesejahteraan sulit diwujudkan dan kezaliman yang malah didapatkan. 

Sistem ekonomi sosialisme dengan sombongnya yang tidak mengakui adanya Tuhan telah berhasil dilumpuhkan oleh kapitalisme. Hal itu telah dibuktikan dengan runtuhnya Uni Soviet dalam penjelasan di bawah ini.

Negara Adidaya Uni Soviet Pengemban Sosialisme

Dalam sejarahnya, ekonomi Soviet adalah yang terbesar kedua di dunia, tetapi antrian panjang dan rak-rak toko yang kosong adalah hal utama yang paling diingat banyak orang. Harga barang-barang memang murah, tetapi kelangkaan barang terjadi secara konstan. Apa sebenarnya yang terjadi?

Ekonomi Uni Soviet berbasis pada sistem kepemilikan negara untuk alat produksi, pertanian kolektif, manufaktur industri, dan perencanaan administratif terpusat. Ekonomi dikontrol oleh negara mulai dari investasi, kepemilikan negara pada aset industri, stabilitas makroekonomi, pengangguran hampir nol, dan keamanan pekerjaan tinggi.

Sepanjang usianya Uni Soviet tidak pernah memiliki ekonomi pasar dalam arti yang sebenarnya. Sebagai gantinya Soviet memiliki ekonomi terencana. Semua barang diproduksi sesuai dengan rencana, seperti paku, pakaian, kertas, susu, roti, tempat tinggal, mobil, dan semua kebutuhan lainnya. Lalu, mungkinkah merencanakan segalanya di negara terbesar di dunia?

Nyatanya itu tidak mungkin. Semua rencana dibuat dari ratusan necara lintas sektor yang tersebar pada puluhan ribu halaman di berbagai wilayah yang bahkan tidak saling berkolerasi dalam banyak kasus. Saat itu, para ahli berpikir bahwa negara terus bertahan dan akan bertahan lebih lama.

Jika konsep ekonomi Soviet harus dijelaskan dalam satu kata, kata itu adalah Gosplan, yang berarti "Komite Perencanaan Negara". Gosplan-lah yang memutuskan apa yang akan diproduksi oleh semua pabrik dan perusahaan di negara itu dan dalam berapa jumlahnya. Begitu pun di tingkat yang lebih jauh ke bawah seperti direktur pabrik dan manajer toko, mereka juga melakukan hal yang sama.

Menurut Ekonom RANAPA Nikolai Kulbaka, masalahnya adalah Gosplan mendasarkan perhitungannya bukan atas kebutuhan yang sebenarnya, melainkan pada gagasan para birokrat tentang apa dan seberapa banyak barang yang perlu diproduksi. Selain itu, kebutuhan orang-orang yang berubah secara berkala juga tidak masuk hitungan.

Industri adalah mesin utama pertumbuhan ekonomi, tetapi sistem Soviet tetap ada dalam mengantisipasi perang lain. Ini berarti bahwa industri berat, seperti industri pertahanan, metalurgi besi, dan apa pun yang akan membantu memenangkan perang, mendapat prioritas dan menyumbang sebagian besar dari produk domestik bruto (PDB) negara itu. Hal itu tidak meninggalkan banyak ruang untuk produksi barang-barang konsumsi biasa.

Contoh sederhana, coba perkirakan berapa banyak kaus kaki, sepatu, sabun atau tissue yang mungkin dibutuhkan warga Soviet. Tentu tidak akan bisa menebaknya dengan benar, begitu pun pemerintah Soviet. Ekonom Ludwig von Mises memotong langsung ke titik pada 1920, dimana ada ekonomi yang direncanakan, di situ ada kelangkaan. Model ekonomi pasar dari permintaan yang mengatur pasokan sama sekali tidak ada di Soviet.

Kelangkaan terjadi, barang-barang mulai dijual dengan harga tetap dan tidak tersedia di mana-mana. Beberapa barang bahkan dijual dengan kerugian karena itulah harga yang ditetapkan Gosplan. Kota-kota dibagi menjadi beberapa kategori: ada yang paling pertama menerima barang, dan ada yang paling terakhir.

Moskow biasanya memiliki semuanya, setidaknya selalu ada sejumlah barang yang dijual, sehingga orang-orang dari seluruh negeri berbondong-bondong ke ibukota untuk berbelanja. Misalnya pada 1939, dinas keamanan NKVD melaporkan bahwa ribuan orang telah berkumpul di luar semua toko serba ada utama kota: "Pada 14 April dini hari, jumlah total pelanggan yang berkumpul di luar toko pada saat pembukaan adalah 30.000 orang. Jumlah itu bertambah pada malam 16 – 17 April yang mencapai 43.800."

Kondisi tersebut lebih tepat digambarkan sebagai bencana nasional ketimbang sebagai norma (hal yang sama juga dapat dikatakan tentang penjatahan). Situasi serupa terjadi pada 1980-an, ketika orang-orang dari kota terdekat datang ke Moskow dengan kereta komuter yang disebut "sosis" untuk membeli sosis di ibukota karena tidak tersedia di tempat lain. Alasan di balik kekacauan ini adalah, pada akhir 1980-an Uni Soviet menghasilkan sekitar 25 juta jenis produk, tetapi pada saat itu tidak ada yang mengerti bagaimana merencanakan produksi dan distribusi dari satu pusat.

Di antara loyalitas dan subsidi yang ekstrem, kelangkaan adalah moderat. Orang membeli apa saja yang tersedia, tanpa banyak pilihan, dan dengan biaya berapa pun. Orang-orang di Soviet tidak kekurangan uang. Bahkan, mereka sering mendapatkan lebih dari yang sebenarnya bisa mereka belanjakan karena barang-barang tidak tersedia secara bebas. Hanya 14 persen barang yang dijual di toko-toko, sedangkan sisanya didistribusikan melalui ekonomi yang dikendalikan.

Untuk membeli mobil secara legal misalnya, Anda harus menghabiskan tujuh atau delapan tahun dalam daftar tunggu. Jadi, jika Anda ingin mendapatkannya tanpa menunggu, ini harus dilakukan secara ilegal di pasar gelap. Masalah utamanya adalah, bahkan kesempatan untuk masuk ke dalam daftar tunggu itu sendiri tidak terbuka untuk semua orang, melainkan hanya melalui perusahaan di mana Anda terdaftar sebagai karyawan. Barang-barang lain yang didistribusikan di antara karyawan perusahaan tertentu, lembaga penelitian dan sebagainya, tersedia lebih awal bagi mereka yang bereputasi baik, yaitu loyal kepada negara.

Sementara, perusahaan-perusahaan itu sendiri tidak akan pernah bangkrut, dan mustahil terjadi. Undang-undang kebangkrutan yang pertama telah ditinggalkan pada 1932. Sebaliknya, kementerian negara mendistribusikan kembali dana dari perusahaan yang menguntungkan ke yang perusahaan tidak menguntungkan — yang menjual produk mereka dengan harga yang tidak layak atau tidak bisa menjual apa pun sehingga barang-barang mereka teronggok penuh debu di gudang. Praktik ini mungkin telah menghilangkan rasa inisiatif, tetapi tidak ada pilihan lain karena tidak ada yang mau dituduh melakukan sabotase industri. Mereka yang didakwa dengan kejahatan ini berdasarkan Pasal 58 – 7 KUHP dapat dipenjara, semua harta benda mereka disita, diusir dari negara itu atau bahkan dijatuhi hukuman mati dan ditembak.

Apakah kepemimpinan politik negara sadar akan semua kecacatan itu? Dilihat dari fakta bahwa pada 1930-an Uni Soviet mulai menjual apa saja yang bisa dijual ke Barat, mulai dari gandum, bulu, hingga mahakarya museum dan seringkali dengan harga yang terlalu rendah, negara ini benar-benar membutuhkan pinjaman dari luar dan mata uang asing.

Pada akhirnya, Komunis menjadi sandera bagi ideologi mereka sendiri karena menurut Marx persaingan menyebabkan krisis. Selain itu, mereka tidak dapat membiarkan persaingan karena sumber daya yang terbatas. Pada 1987, barang-barang konsumen hanya menghasilkan 24 persen dari jumlah total yang diproduksi di negara ini. Sedangkan sisanya dilahap dengan rakus oleh militerisasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Kesadaran akan meledaknya sistem ini baru terjadi pada pertengahan 1960-an. Surat kabar Pravda menerbitkan sebuah artikel dengan tajuk utama "Buka Brankas dengan Berlian" yang menunjukkan bahwa kriteria utama untuk perusahaan haruslah keuntungan dan profitabilitas. Ketua Dewan Menteri Uni Soviet Alexei Kosygin akhirnya menginisiasi reformasi dan berhasil membawa hasil yang efektif: pendapatan nasional meningkat sebesar 42 persen.

Tetapi pada akhirnya, para penentang reformasi pasar berada di atas angin. Musim Semi Praha 1968, yang telah menakuti Politbiro, juga memainkan perannya. Pada akhirnya, semuanya kembali seperti semula. Saat itu, Pengawas Akademik Sekolah Tinggi Ekonomi dan mantan Menteri Ekonomi Evgeny Yasin berpikir bahwa krisis akan segera datang dan Uni Soviet harus melakukan reformasi. Namun itu idak terjadi, pada 1973, OPEC dibentuk dan memutuskan untuk melipatgandakan harga minyak dalam setahun. Soviet mulai menerima pendapatan dari minyak berkat penemuan ladang minyak di Siberia Barat pada 1967 – 1968, dan sistem Soviet terus berjalan. Namun, pada akhirnya terjadi kehancuran total sistem sebagai akibat dari apa yang oleh para ekonom disebut sebagai "badai sempurna".

Menurut Karl Marx, penguasaan kepemilikan aset-aset produksi yang berasal dari individu oleh negara itu hanya bersifat sementara. Dengan kata lain, keberadaan negara hanyalah sekedar batu loncatan. Marx bermimpi, jika seluruh rakyat sudah menjadi perkerja dan sudah memperoleh uoah sebagaimana mestinya, maka negara sudah tidak perlu lagi. Itulah yang disebut surga komunisme. Sebuah masyarakat egaliter, masyarakat yang sama rasa, sama rata, dan sama bahagia.

Pertanyaaanya adalah, mungkinkah impian Marx terwujud? Dengan logika sederhana sangat sulit dibayangkan. Sekalipun manusia diciptakan dalam potensi yang sama, tapi untuk menyama-ratakan manusia sangatlah sulit. Inilah yang menyebabkan surga komunisme dalam ekonomi sosialisme tidak pernah mampu diwujudkan sepanjang sejarah perjuangan mereka. Justru kehancuran yang menerpa mereka, hingga Uni Soviet hancur.

Negara Amerika Mercusuar Pengemban Ekonomi Kapitalisme Global

Krisis ekonomi adalah hal yang sering terjadi dalam perjalanan sistem ekonomi kapitalis. Mengutip Britannica dalam cnbcindonesia.com (10/12/2019) disebutkan bahwa telah terjadi 5 krisis keuangan global yang cukup parah sejak Barat bangkit dengan sistem kapitalismenya.

Krisis pertama kali terjadi pada tahun 1772 yang disebut dengan krisis kredit. Krisis inu terjadi saat Alexander Fordyce yang merupakan mitra perbankan perumahan Inggris “Neal, James, Fordyce and Down” kabur ke Prancis untuk mengindari pembayaran hutangnya. Kabar ini berhembus dengan cepat dan memicu kekacauan sektor perbankan di Inggris. 

Akhirnya para kreditor beramai-ramai melakukan penarikan tunai di bank-bank inggris. Krisis ini berdampak ke Skotlandia, Belanda, negara-negara bagian Eropa dan negara koloni Inggris-Amerika. 

Krisis keuangan parah juga terjadi pada periode tahun 1929-1939 yang disebut dengan great depression. Great Depression ini menurut para sejarah disebut dengan bencana keuangan dan ekonomi terburuk pada abad 20. Menurut para sejarawan, krisis ini dipicu oleh kehancuran pasar saham Wall Steet pada tahun 1929 dan buruknya kebijakan pemerintah AS pada masa itu. 

Krisis yang berlangsung selama 10 tahun ini telah mengakibatkan hilangnya pendapatan secara besar-besaran, tingkat pengangguran yang tinggi, produksi terhenti di berbagai kawasan, terutama di negera-negara industri. Bahkan di Amerika Serikat, pada puncak krisis telah mengakibatkan angka pengangguran mencapai 25%. 

Krisis ketiga terjadi pada tahun 1973. Krisis ini terjadi ketika anggota negara-negara OPEC mengembargo ekspor minyak ke Amerika Serikat akibat pengiriman senjata ke Israel selama perang Arab-Israel. Akibatnya Amerika Serikat dan sekutunya kekurangan minyak dan mengakibatkan harga minyak melonjak naik. Terjadilah krisis ekonomi di Amerika dan banyak negara maju lainnya. 

Krisis keempat terjadi pada tahun 1997 di Asia. Krisis ini muncul pertama kali di Thailand pada tahun 1997 dan sangat cepat menyebar ke seluruh wilayah Asia Tenggara dan mitra dagangnya. Aliran modal yang sangat spekulatif dari negara maju ke negara Asia Tenggara seperti Thailand, Malaysia, Singapura, Indonesia telah mengakibatkan kredit yang berlebihan dan tingkat hutang yang cukup tinggi. 

Dengan kondisi tersebut, pada juli 1997, pemerintah Thailand meninggalkan kebijakan nilai tukar tetapnya(fixed exchanged rated) terhadap dolar AS dan memicu gelombang kepanikan pasar keuangan negera-negara asia tenggara yang lain. 

Akibatnya para investor asing menarik investasinya yang bernilai milyaran dollar dari negera-negara tersebut. Nilai tukar mata uang jatuh termasuk di Indonesia dari Rp 2.000 pada juni 1997 menjadi Rp 16.000 pada juni 1998. 

Krisis kelima terjadi pada tahun 2008 yang dikenal dengan krisis suprame mortage. Krisis ini terjadi karena kredit macet yang dialami oleh pasar perumahan di AS dan investor terbesar di dunia, Lehman Brothers. Kehancuran Lehman Brothers menyebar ke berbagai lembaga keuangan dan bisnis utama lainnya. Kekacacauan ini juga menarik sejumlah besar dana talangan atau bailout seperti bailout bank century di Indonesia.

Jika AS sebagai nahkoda ideologi kapitalisme dunia sudah menuju kebangkrutan yang nyata, tentunya hal tersebut akan diikuti oleh seluruh negara pengekor dan negara yang menjadi lahan jajahan AS tersebut. Wajar saja, jika AS pun kalang kabut dengan ancaman krisis di tengah mata, negeri-negeri lain pun juga demikian. 

Ekonomi Kapitalisme memang rentan krisis, tapi sistem ini selalu berusahan memulihkan kondisinya. Pertumbuhan ekonomi yang bertumpu pada hutang dan penjualan kertas saham. Inilah rahasia untuk membangun kesuksesan ekonomi kapitalisme dalam mendongkrak pertumbuhannya, yang kemudia dikenal dengan  “economic bubble” atau dikenal dengan ekonpomi balon. Sebab, nampaknya ekonomi tumbuh tetapi pada hakikatnya adalah membesar utang, bukan pertumbuhan sektor riil. 

Tapi, utang ribawi yang dijadikan penopang ekonomi kapitalisme inilah yang suatu saat akan mengalami letusan ekonomi balon, sehingga membuat ekonomi kapitalisme hancur berantakan. Selain riba haram dan zalim, ekonomi yang ditopang riba inilah yang akan membunuh perlahan ekonomi kapitalisme dari dalam.  

Karena hakikatnya, ekonomi kapitalisme memang zalim hanya memikirkan keuntungan kapitalis dan menjadikan rakyat tumbal atas segala kerakusan para oligarki kapitalis. Wajar jika kesejahteraan sulit diwujudkan, kecuali pada golongan kaum kapitalis borjuis semata.

Kegagalan kapitalisme dalam menciptakan kesejahteraan individu inilah yang akan menjadi pemantik hijrahnya dunia menuju sistem alternatif yang mampu menjamin kesejahteraan individu yaitu ekonomi Islam dalam naungan penerapan syariat Islam dan khilafah. 

Karena setiap insan mendambakan hidup sejahtera, tercukupi kebutuhan hidupnya, dan terjaga harta dan nyawanya. Hal tersebut tidak bisa dilakukan oleh sistem kapitalisme dan hanya mampu diwujudkan dengan sistem Islam paripurna.

PROPOSAL SISTEM EKONOMI ISLAM MAMPU MENJAMIN KEBERHASILAN DALAM MENGATASI KRISIS EKONOMI GLOBAL SEHINGGA DAPAT DICAPAI KESEJAHTERAAN UMAT MANUSIA

Di dalam sistem pemerintahan khilafah yang pernah tegak selama kurang lebih 1300 tahun lamanya, bukan tidak mungkin tidak pernah diuji dengan krisis baik dalam bentuk wabah atau pun bencana alam. Khalifah Umar bin Khattab dalam masa pemerintahannya pernah mengalami krisis. Krisis saat itu yang pernah dialami khalifah adalah wabah thaun dan paceklik. Lalu sistem ekonomi Islam dapat menyelesaikan krisis sebagaimana yan dicontohkan khalifah Umar bin Khattab?

Ketika terjadi krisis, Khalifah Umar memberi contoh langsung dan terbaik saat bencana dengan cara berhemat dan bergaya hidup sederhana, bahkan lebih kekurangan dari masyarakatnya. Beliau tidak akan makan enak saat bencana, dipastikan makanannya tidak lebih enak dari rakyat yang terdampak bencana.

Diriwayatkan dari Anas, "Perut Umar bin al-Khathab selalu keroncongan di tahun kelabu, sebab ia hanya makan dengan minyak. Ia mengharamkan mentega untuk dirinya. Ia memukul perut dengan jari-jarinya dan berkata, 'Berbunyilah karena kita tidak punya apa pun selain minyak hingga rakyat sejahtera.'"

Selain itu, pakaian, tempat tidur dan gaya hidupnya semua benar-benar disesuaikan dengan kondisi yang dihadapi masyarakat. Dengan sikap tersebut, beliau bisa merasakan betul bagaimana penderitaan yang dialami oleh rakyatnya. Inilah pemimpin yang lahir dalam sistem islam, totalitas tanggungjawab ada dan melekat pada diri seorang kepala negara. Bukan basa basi, namun nyata menyesuaikan seluruhnya dengan kondisi masyarakat hingga selesai bencana, bukan sekedar pencitraan belaka.

Kemudian Khalifah Umar segera mengeluarkan kebijakan untuk menanggulangi krisis ekonomi secara cepat, tepat dan komprehensif. Untuk mengoptimalisasi keputusannya, Khalifah segera mengerahkan seluruh struktur, perangkat negara dan semua potensi yang ada untuk segera membantu masyarakat yang terdampak.

Pertama, memastikan semua penanganan berjalan baik, seluruh aparat terlibat membantu dengan optimal menanggulangi krisis dan tidak akan ada ruang untuk ABS (asal bapak senang). Kontrol khalifah atas kinerja seluruh aparat inilah yang menciptakan sense of crisis pada diri setiap aparat untuk turut meradakan penderitaan rakyat.

Diriwayatkan dari Aslam, "Pada tahun kelabu (masa krisis), bangsa Arab dari berbagai penjuru datang ke Madinah. Khalifah Umar ra. menugaskan beberapa orang (jajarannya) untuk menangani mereka. Suatu malam, saya mendengar beliau berkata, "Hitunglah jumlah orang yang makan malam bersama kita."

Orang-orang yang ditugaskan pun menghitung orang-orang yang datang. (Ternyata) berjumlah tujuh puluh ribu orang. Jumlah orang-orang sakit dan yang memerlukan bantuan  sebanyak empat ribu orang. Selang beberapa hari, jumlah orang yang  datang dan yang memerlukan bantuan mencapai enam puluh ribu orang. Tidak berapa lama kemudian, Allah mengirim awan. Saat hujan turun, saya melihat Khalifah Umar ra. menugaskan orang-orang untuk mengantarkan mereka ke perkampungan dan memberi mereka makanan dan pakaian ke perkampungan. Banyak terjadi kematian di tengah-tengah mereka. Saya melihat sepertiga mereka mati. Tungku-tungku Umar sudah dinyalakan para pekerja sejak sebelum subuh. Mereka menumbuk dan membuat bubur."

Kedua, memastikan betul bahwa program tanggap darurat berjalan dengan baik dan bantuan sampai kepada yang membutuhkan dengan baik dan mencukupi pula. Tersebar merata tidak sampai ada yang kekurangan atau di satu titik berlebih dan di titik lain tidak ada sama sekali.

Abu Hurairah ra. menceritakan dengan gamblang bagaimana Khalifah Umar ra. melakukan itu semua. Ia berkata, "Semoga Allah merahmati lbnu Hantamah. Saya pernah melihat dia pada tahun kelabu memanggul dua karung di atas punggungnya dan sewadah minyak berada di tangannya. Ia meronda bersama Aslam. Saat keduanya melihatku, Umar bertanya, "Dari mana engkau, wahai Abu Hurairah?" Saya menjawab, "Dari dekat sini."

Saya pun membantu dia memanggul. Kami memanggul hingga tiba di perkampungan Dhirar. Tiba-tiba ada sekelompok orang berasal dari dua puluh kepala keluarga datang. Umar bertanya, "Ada apa kalian datang?" Mereka menjawab, "Lapar."

Mereka pun mengeluarkan daging bangkai yang mereka makan dan tumbukan tulang yang mereka telan. Saya (Abu Hurairah) melihat Umar meletakkan selendangnya. Ia  kemudian memasak dan memberi mereka  makan hingga kenyang. Selanjutnya, Aslam tiba di Madinah dengan  membawa kain bordiran hingga berkeringat dan memberikannya kepada mereka. Selanjutnya, ia selalu mendatangi mereka dan juga yang lain  hingga Allah menghilangkan musibah itu dari mereka."

Ketiga, memobilisasi bantuan dari daerah sekitar dan memotivasi agar berlomba-lomba meringankan saudaranya.

Khalifah Umar langsung bertindak cepat ketika melihat kondisi keuangan Baitul Mal tidak mencukupi penanggulangan krisis. Khalifah Umar segera mengirim surat kepada para gubernurnya di berbagai daerah kaya untuk meminta bantuan. Petugas Khalifah Umar langsung mendatangi Amru bin al-Ash, gubernur di Mesir, "Dari hamba Allah, Umar bin al-Khaththab, Amirul Mukminin, untuk Amru bin al-Ash. Semoga kesejahteraan terlimpah padamu. Selanjutnya, tegakah kau melihatku dan orang-orang di sekitarku, sementara engkau dan orang-orang di sekitarmu hidup penuh kenikmatan? Tolonglah kami, tolonglah kami."

Amru bin Ash membalas, "Untuk hamba Allah, Amirul Mukminin, dari Amru bin al-Ash. Semoga kesejahteraan terlimpah kepadamu. Saya memuji Allah yang tidak ada Tuhan selain-Nya. Selanjutnya, bantuan akan segera tiba. Untuk itu, bersabarlah. Saya akan mengirim kafilah untukmu. Yang depan berada di dekatmu, sementara yang belakang berada di dekatku. Saya berharap bisa membawa bantuan melalui laut."

Gubernur Mesir, Amru bin al-Ash mengirim seribu unta yang membawa tepung melalui jalan darat dan mengirim dua puluh perahu yang membawa tepung dan minyak melalui jalur laut serta mengirim  lima ribu pakaian kepada Khalifah Umar.

Khalifah Umar juga mengirim surat kepada para gubernurnya di Syam. "Kirimkan makanan yang layak untuk kami karena sudah banyak yang binasa kecuali jika Allah merahmati mereka."

Surat serupa juga dikirim kepada para gubernurnya di Irak dan Persia. Semuanya mengirim bantuan untuk Khalifah.

Keempat, khalifah langsung memimpin taubatan nashuha, menyerukan taubat meminta ampun kepada Allah agar bencana ini segera berlalu. Karena bisa jadi bencana atau krisis yang ada akibat kesalahan-kesalahan atau dosa yang dilakukan oleh khalifah atau masyarakatnya.

Abullah bin Umar ra. meriwayatkan, ia berkata, "Pada suatu malam di waktu sahur saya mendengar ia berdoa, "Ya Allah, janganlah Kau binasakan umat Muhammad saat saya menjadi pemimpin mereka."

Ia pun berdoa, "Ya Allah, janganlah Kau binasakan kami dengan kemarau dan lenyapkanlah musibah dari kami." Ia mengulang-ulang kata-kata tersebut.

Kelima, khalifah memberhentikan sementara hukuman had bagi pencuri karena terpaksa demi sekedar menyambung hidup. Dan menunda pungutan zakat saat krisis atau bencana.

Disinilah tampak jelas Islam memiliki cara tersendiri dan khas dalam menanggulangi krisis dan bencana. Kebijakan yang religius, strategis, totalitas, menyeluruh dan penuh keteladanan. Ini semua dijalankan dalam bingkai keimanan dan ketakwaan dalam Islam.

Keimanan dan ketakwaan inilah yang mendorong para pemimpin dan pemangku jabatan dalam khilafah untuk selalu menciptakan kebijakan-kebijakan yang mampu menjadi penyeesaian bagi umat manusia.

Sistem ekonomi Islam dalam bingkai khilafah unggul dan mampu bertahan ketika terjadi krisis karena beberapa hal, yaitu:

Pertama, sistem Islam akan mengakhiri sistem mata uang kertas yang rentan terjadi fluktuasi dan tentu akan menghapuskan dominasi dolar sebagai standart nilai dan alat pembayaran perdagangan internasional. Sistem ekonomi Islam akan menjadikan dinar dan dirham sebagai nahkoda untuk alat pembayaran. Dinar dan dirham tersebut mempunyai nilai intrinsik dan ekstrinsik yang sama. Jelas ini mampu membuat ekonomi Islam kuat dan tak terbelenggu oleh dolar. Selain itu teruji memiliki fluktuasi yang sangat kecil.

Kedua, dalam sistem ekonomi Islam tidak dibenarkan adanya riba dalam segala aktivitas ekonominya. Sehingga sektor non riil yang menjadikan uang sebagai komoditas tidak dibenarkan dan jelas ditutup segala bentuk akad yang terdapat perjudian atau riba. Segala hutang piutang termasuk kegemaran hutang oleh negara untuk pembiayaan APBN tidak akan terjadi. Dari sini maka pintu terjadinya pelemahan ekonomi akibat beban pembayaran hutang dapat dikurangi. Secara politis, pintu untuk dikuasainya kedaulatan negara oleh asing juga dapat dicegah.  

Ketiga, syariat Islam akan menghapus sektor non riil seperti pasar saham yang penuh dengan spekulasi dan perjudian. Sistem ekonomi islam akan memaksimalkan usaha peningkatan laju pertumbuhan sektor riil saja.

Selain dari 3 hal tersebut, sistem ekonomi islam sebenarnya memiliki paradigma mendasar yang bertentangan dengan sistem kapitalisme. Jika kapitalisme fokus pada peningkatan laju produksi untuk melihat terpenuhinya kebutuhan manusia atau tidak, atau dengan kata lain terpenuhinya kebutuhan secara kolektif  yang terlihat dari produksi dan pendapatan nasional maka dalam sistem islam yang menjadi fokus adalah sampai atau tidaknya distribusi kebutuhan pokok manusia kepada setiap individu warga negara. 

An Nabhani (2010) menyatakan bahwa yang perlu dibahas dalam sistem ekonomi adalah bagaimana memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok setiap individu, bukan bagaimana memproduksi barang-barang ekonomi.  

 Berdasarkan hal tersebut, jika seandainya terjadi pandemi akibat sebuah penyakit, maka fokus negara adalah tetap memastikan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan pokok setiap individu, tidak perlu melihat indikator-indikator ekonomi kapitalis seperti pertumbuhan ekonomi, produksi kasar nasional dan sejenisnya yang selama ini menjadi tolak ukur keberhasilan ekonomi sebuah negara. 

Maka dengan demikian tidak perlu negara berbusa-busa dalam menyuntikkan stimulus fiskal untuk menyelamatkan neraca keuangan negara, terlebih sudah dihapuskannya ketergantungan pada dolar, hutang piutang ribawi dan investasi pasar saham pada pembahasan sebelumnya. 

Sistem islam juga mempersiapkan bangunan ketahanan yang kuat tatkala islam membagi kepemilikan dengan 3 jenis. Ada kepemilikan umum, negara, dan individu. Apa yang menjadi kepemilikan umum seperti tambang, hutan dan laut atau sejenisnyam tidak boleh dikuasai bahkan dimiliki oleh individu atau korporasi tertentu. Wilayah tersebut harus dikuasai oleh negara dan keuntungannya dikembalikan ke umat. 

Inilah yang terjadi pada sistem kapitalisme  yang zalim ini saat ini. Adanya   kebebasan kepemilikan, telah menjadikan hak untuk umum atau negara telah dikuasai oleh segelintir orang saja. Akhirnya sumber-sumber pendapatan potensial yang harusnya bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan umat hilang. 

Sebagai penutup, sistem ekonomi Islam selain bebas dari riba, juga mampu mewujudkan perdagangan yang sehat. Tentunya dengan meniadakan monopoli, kartel, mafia, penipuan, dan segala akad yang bertentangan dengan Islam. Hal tersebut akan mempercepat memulihkan kondisi ekonomi jika terancam krisis.[]

Oleh Ika Mawarningtyas Analis Muslimah Voice
Dewi Srimurtiningsih Analis Mutiara Umat

Duet Dosen Online UNIOL 4.0 Diponorogo



Dalam surat resmi tertanggal 10 Juli 2020, Menhan Prabowo bermaksud mengakuisisi 15 jet tempur Austria. Surat tersebut secara khusus ditujukan kepada Claudia Tanner, Menhan Austria.

15 Jet tempur yang dimaksud adalah jenis Eurofighter Typhoon Tranche - 1. Artinya Eurofighter Typhoon Austria tersebut adalah generasi pertama. Sementara Austria sendiri telah memoratoriumkan Typhoon Tranche - 1 miliknya tersebut sejak dibelinya pada tahun 2003. Memang sempat beberapa kali mengikuti misi tempur sebagai jet penjaga.

Eurofighter Typhoon Tranche - 1 termasuk jet tempur generasi keempat seperti Rafale, Sukhoi 27 dan 30. Hanya saja Eurofighter Typhoon Tranche - 1 ini masih di bawah Sukhoi 27 dan 30 yang sudah dimiliki oleh Indonesia. Hal ini terjadi mengingat Eurofighter Typhoon Tranche-1 ini sudah final pengembangannya. Artinya tidak ada lagi produksi Eurofighter Typhoon Tranche-1. Sedangkan Eurofighter Typhoon Tranche - 2 dan Tranche - 3 telah diproduksi. Di samping itu, Eurofighter Typhoon Tranche - 1 ini tidak dilengkapi dengan radar penjejak IRST yang biasanya ada pada jet tempur generasi keempat. Padahal dengan adanya penjejak IRST yang disebut PIRATE pada jenis Eurofighter, memungkinkan bisa mendeteksi lawan dari jarak jauh tanpa dideteksi lawan. Tatkala sudah mendekati lawan, radar dihidupkan dan lawan baru sadar disaat sudah terkena misil lock.

Itu dari sisi teknologi pesawatnya. Sedangkan dari aspek konversi dan pelatihan TNI untuk mengawaki Typhoon Tranche - 1 lebih mengkhawatirkan. Generasi Typhoon Tranche - 1 ini bukanlah double seater. Akan tetapi termasuk varian kursi tunggal (single seater). Artinya proses konversi dan pelatihan akan dilakukan oleh AU Jerman mengingat model Eurofighter Austria mengikuti model Jerman. Di sinilah letak kelemahan utamanya. Kecakapan pilot Indonesia akan terbaca oleh negara lain. Hampir sebagian besar pilot Indonesia akan mengikuti proses konversi tersebut.

Berbeda bila dual seater. Pada konversi pertama cukup beberapa pilot saja. Selebihnya proses konversi tersebut bisa dilakukan di dalam negeri. 

Di samping itu juga, biaya operasional Eurofighter Typhoon Tranche 1 ini sangat mahal. Biayanya sekitar Rp 100 trilyun untuk 30 tahun. Artinya biaya operasional Rp 3 trilyun per tahun. Belum lagi untuk biaya sekali landing sekitar 15 ribu dollar US setara dengan Rp 225 juta (konversi 1 dollar US senilai Rp 15 ribu).

Tentunya hal demikian sangatlah boros bagi Indonesia. Di tengah pandemi, justru Menhan akan memborong 15 jet tempur Austria yang harganya mencapai 2,2 milyar Euro. Sudah boros, bekas lagi. Lantas darimana disebut memodernisasi alutsista?

Sebenarnya Indonesia sudah melirik untuk membeli 11 jet Sukhoi 35. Varian Su-35 ini pengembangan dari Su - 27 dan SU - 30. Varian SU -35 ini termasuk generasi kelima guna menandingi jet tempur F-35 Lightning II AS yang termasuk pesawat siluman. Hanya saja dibatalkan. Pemerintah AS menekan Indonesia untuk tidak membeli produk Rusia SU-35 (www.sindonews.com, 14 Maret 2020). 

Adanya tekanan AS pada Indonesia terungkap pertemuan antara Prabowo dengan Menkeu, Sri Mulyani dan Menlu, Retno Marsudi. Intinya bahwa akan membahayakan hubungan perdagangan jika Indonesia tidak membatalkan kesepakatan dengan Rusia. Tidak hanya dengan Rusia, AS pun menekan Indonesia untuk tidak membeli alutsista dari China. 

Dari sinilah kita bisa memahami bahwa membuat kesepakatan dengan Austria masih lebih kondusif. Walaupun di sisi yang lain berpotensi melabrak UU No 16 Tahun 2012 tentang Indonesia tidak lagi menjadi negara buangan alutsista bekas. Pertanyaannya, bagaimana Indonesia bisa mewujudkan UU No 16 Tahun 2012 tersebut, sementara tidak berdaya terhadap tekanan negara besar seperti AS? Bahkan Indonesia harus rela menjadi korban dari perang dagang antara AS dan China.

Membangun Alutsista dengan Islam

Oleh karena itu, Indonesia perlu mengambil langkah - langkah strategis dalam membangun kemandirian alutsistanya. Indonesia melakukan modernisasi alutsistanya tanpa intervensi dan tekanan dari negara manapun. 

Pertama, Indonesia harus membangun alutsistanya di atas landasan basis ideologi yang jelas. Dengan begitu arah pembangunan alutsista jelas dan terarah. Kita bisa ambil pelajaran dari mangkraknya industri pesawat N-235 Gatutkaca buatan Prof.Habibie. Karena tidak ada visi ideologi, kecuali hanya visi ingin menunjukkan Indonesia bisa membuat pesawat sendiri. Di samping itu, visinya hanya sebatas pesawat penumpang. Sementara ongkos pengembangan produksi sendiri lebih mahal, akibatnya terhentilah produksinya. Indonesia kembali menjadi konsumen pesawat orang lain. 

Di sinilah pentingnya visi ideologi tersebut. Sebagai negeri muslim terbesar, visi ideologi Islam dalam membangun alutsista menjadi hal yang strategis. Visi ideologis Islam dalam membangun alutsista adalah firman Alloh SWT yang artinya:

"Dan persiapkanlah oleh kalian apa saja dari kekuatan yang bisa kalian persiapkan yang dengannya kalian mampu menggentarkan musuh - musuh Alloh dan musuh kalian, yang kalian tidak mengetahuinya sedangkan Alloh mengetahuinya...(TQS at Taubah ayat 60). 

Visi ideologis Islam adalah visi jihad dan menyebarkan Rahmat Islam. Maka untuk menunjangnya basis industri negara adalah industri perang (alutsista) dan peralatan. Dengan demikian, Indonesia akan berproses dengan pasti menjadi negara industri. Indonesia akan memodernisasi industri alutsistanya karena didorong kesadaran visi ideologis Islam.

Kedua, ketersediaan dana yang memadai tentu untuk mendukung pengembangan alutsista. Oleh karena itu, penerapan sistem ekonomi Islam menjadi sebuah keniscayaan. 

Ketiga, upaya untuk mendapatkan mata uang asing sebanyak - banyaknya demi kepentingan melakukan revolusi industri. Misalnya mendapatkan dari negara maju seperti AS dengan mata uang dollarnya dan atau dari Eropa dengan mata uangnya Euro. 

Dengan mendapatkan mata uang tersebut, dapat digunakan untuk membeli peralatan industri dan termasuk juga alutsista tercanggih di dunia. Hal ini dilakukan dengan mengekspor komoditas yang dibutuhkan mereka seperti rempah - rempah dan lain - lain. Ekspor dilakukan tatkala kebutuhan dalam negeri sudah tercukupi.

Ketiga, melakukan upgrading alutsista yang dibeli dari luar negeri berapapun biaya yang dikeluarkannya. Jadi kalaupun membeli alutsista dari luar dalam kerangka berpikir untuk melakukan pengembangan lebih lanjut.

Keempat, mengoptimalkan semua potensi ilmuan dan ahli teknik dalam memproduksi, mengupgrading dan menemukan teknologi alutsista yang mutakhir. Bahkan jika diperlukan, negara akan mengkontrak seorang ilmuan teknologi dari luar. 

Hal demikian pernah dilakukan oleh Sultan Muhammad Al Fatih dengan mengkontrak Orban. Adalah Orban seorang ilmuwan pembuat meriam canggih. Akhirnya dihasilkanlah meriam super gun untuk menjebol benteng Konstantinopel. 

Akibat berikutnya, Khilafah Utsmaniy menjadi negara terdepan dalam teknologi perang. Keadaan ini terlihat pada saat terjadi Perang Mohacs. Walaupun Utsmaniy menghadapi koalisi negara Eropa yang dipimpin Austria, Utsmaniy dapat memenangkan peperangan. Dengan ratusan meriamnya, Utsmaniy menjadi negara dengan alutsista tercanggih pada jamannya.

Kelima, Terhadap negara - negara maju yang terikat perjanjian damai dengan kaum muslimin, negara bisa melakukan manuver politik mengisolasi negara maju tersebut dari pergaulan internasional.

Dalam kurun waktu perjanjian maksimal 10 tahun, bisa digunakan oleh negara Islam melakukan transaksi dengan industri alutsista internasional. Jadi dengan demikian betul - betul murni kepentingan transaksi, bukan kepentingan politik. 

Demikianlah beberapa hal yang bisa dilakukan tahapannya dalam membangun kemandirian alutsista. Visi ideologis Islam dalam alutsista akan menempatkan Indonesia dan negeri Islam yang lain menjadi negara merdeka dan berdaulat. Merdeka dari intervensi asing. Berdaulat dengan visi ideologis Islamnya yakni dakwah dan jihad atau perang. []

Oleh Ainul Mizan 
Peneliti di LANSKAP
Powered by Blogger.