Pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) tak henti-hentinya mendapat sorotan publik.  Tidak sedikit dari RUU yang digodok oleh elit politik menuai kontroversi. Mulai dari RUU PKS (Penghapusan Kekerasan Seksual), hingga RUU Omnibus Law yang dinilai merugikan pihak buruh, sampai RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP) yang beberapa waktu lalu muncul sebagai kontroversi. Walau RUU ini pembatasannya masih ditunda dan pemerintah masih mengkajinya, tapi tak dapat dipungkiri telah menimbulkan kontroversi di tengah publik.

Draf RUU Haluan Ideologi Pancasila terdiri dari 10 bab. Yakni Ketentuan Umum; Haluan Ideologi Pancasila; Haluan Ideologi Pancasila sebagai Pedoman Pembangunan Nasional; Haluan Ideologi Pancasila sebagai Pedoman Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Adapun yang menuai kontroversi di antaranya Pasal tentang ciri pokok Pancasila. Disebutkan bahwa ciri pokok Pancasila berupa trisila, yaitu sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi, serta ketuhanan yang berkebudayaan.

Salah satu yang mengkritisi pasal tersebut adalah Wakil Ketua MPR RI Fraksi Partai Demokrat, Syarief Hasan. Dalam pasal tersebut disebutkan ciri pokok Pancasila adalah Trisila yang terkristalisasi dalam Ekasila. Karena istilah tersebut tak pernah disebutkan dalam lembaran negara, menurutnya ini membuat bias Pancasila.

“Selain itu, Trisila juga hanya mencantumkan tiga nilai dan Ekasila hanya mencantumkan satu nilai gotong royong. Trisila dan Ekasila mengabaikan nilai ketuhanan Yang Maha Esa dan nilai-nilai lainnya yang telah jelas disebutkan di dalam Pembukaan UUD NKRI 1945,” kata Syarief sebagaimana dikutip dari Antaranews (16/6/2020).

Yang dipersoalkan dari RUU Haluan Ideologi Pancasila ini juga karena ketiadaan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (Tap MPRS) Nomor XXV Tahun 1966 dalam konsideran. Tap yang diteken Ketua MPRS Jenderal A.H. Nasution menyatakan Partai Komunis Indonesia sebagai organisasi terlarang dan larangan menyebarkan ajaran komunisme, Marxisme, dan Leninisme. Dengan tidak adanya Tap MPRS tersebut berarti pemerintah mencabut larangan Partai Komunis Indonesia untuk berada di negara ini. 

Hal tersebut menimbulkan kecemasan dari beberapa masyarakat bahwa RUU HIP ini akan menjadikan Indonesia sebagai negara komunisme. Banyaknya gelombang penolakan terhadap komunisme tak terlepas dari faktor sejarah. Umat Islam pun memiliki memori buruk terhadap komunisme. Jika komunisme diperbolehkan tumbuh subur di Indonesia, maka ini seolah mengorek luka lama.

Selain karena faktor sejarah, komunisme juga dapat memberikan bahaya yang sangat besar bagi negara ini. Sebab mereka tidak percaya keberadaan Tuhan. Mereka menganut paham materialisme, yaitu paham yg memandang kehidupan, manusia dan alam semesta merupakan materi yang mengalami evolusi internal semata. Selain itu, komunisme mengambil jalan (metode) kekerasan untuk perubahan masyarakat.

Sebenarnya, selain komunisme, sistem yang kita pakai sekarang ini tak lepas dari bahaya. Indonesia adalah salah satu negara yang menganut ideologi kapitalisme-sekulerisme. Ideologi ini asasnya adalah pemisahan agama dari kehidupan dan negara. Dengan diterapkannya sistem kapitalisme, dapat kita lihat terjadi carut-marut di negara ini. 

Mulai dari ketidakadilan dalam penegakan hukum, maraknya kasus pelecehan dan kekerasan seksual serta zina, ekonomi riba, dan masih banyak lagi problematika umat yang belum terselesaikan secara  solutif. Termasuk kian maraknya RUU yang dinilai kontroversial, karena tidak pro terhadap kepentingan rakyat banyak. Lalu, akankah kita diam bertahan dengan sistem hidup yang ada saat ini?

Tidak ada jalan keselamatan dan kesejahteraan serta mendatangkan keridhaan Allah SWT melainkan hanya dengan Islam. Islam sebagai sistem kehidupan yang sempurna menata dunia & akhirat. Sejarah telah membuktikan bahwa kejayaan Islam justru tercapai ketika Islam tidak hanya diposisikan sebagai agama ritual tetapi juga sebagai aturan hidup yang mengatur seluruh aspek dalam kehidupan. Islam adalah sebuah sistem hidup, sebuah ideologi yang tidak bisa diterapkan secara sebagian. 

Islam telah mengatur semua aspek kehidupan yang mana aturan tersebut datangnya dari Allah SWT yang tidak boleh diragukan lagi kebenarannya. Oleh karena itu, sudah selayaknya kita memperjuangkan tegaknya Islam sebagai sistem hidup agar kehidupan kita berkah dan mendapat ridho dari Sang Pemilik Alam Semesta. Wallahu a'lam bish shawab.[]

Oleh: Rahmadani

Post a Comment

Powered by Blogger.