Oleh : KH. Hafidz Abdurrahman

Muhammad al-Fatih, ketika membebaskan Konstantinopel, 1453, saat itu beliau bukanlah Khalifah, tetapi Sultan dari sebuah Kesultanan Utsmani di wilayah Turki

Ketika itu, Khalifah masih dijabat oleh Bani Abbasiyah, setelah ibukotanya dipindahkan dari Baghdad ke Mesir.

825 tahun sebelumnya, Rasulullah bersabda, "Konstantinopel pasti akan dibebaskan melalui tangan seorang kesatria. Maka, sebaik-baik pemimpin adalah dia, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan itu" (Hr Ahmad), maka tahun 1453 bisyarah itu nyata. Sabda Nabi terbukti, dan tidak bohong

Iya, karena Nabi tidak pernah berbohong, baik ketika serius maupun bergurau. Bahkan, dengan kedipan mata pun Nabi tak sanggup berbohong. Maka, yang disabdakan itu pasti, dan pasti terwujud

Maka, bagi kaum Muslim, Hagia Sophia bukan sekedar masjid, ia adalah simbol kebenaran sabda Rasulullah, pengingat sekaligus penyemangat, "Kızıl Elma" dalam keyakinan Utsmani, pencapaian dan penghargaan tertinggi secara kolektif

Saat Sultan Muhammad al-Fatih membebaskan Konstantinopel, ini adalah tempat pertama yang beliau kunjungi.

Sejarah mencatat, ia memandang Hagia Sophia yang megah, turun dari kudanya, melepas helm perangnya, lalu bersujud ke arah kiblat, mengambil segenggam tanah Konstantinopel lalu menaburkan ke atas kepalanya. Simbol kerendahan hati, bahwa dia hanya tanah

Hari itu, Selasa 29 Mei 1453, pagi hari saat matahari terbit, Konstantinopel dibuka, perintah pertama Al-Fatih adalah fungsikan Hagia Sophia menjadi tempat shalat

Maka hari yang sama, saat matahari mulai kehilangan sinarnya, waktu Ashar, janji itu sempurna, adzan berkumandang di langit Konstantinopel. Isak tangis dan haru menjadi pelengkapnya

Namanya diperindah, Masjid Ayasofya. Tempat terindah di seluruh muka bumi itu, arsitektur paling ternama yang pernah dibuat itu, di saat yang sama adalah tempat untuk mengagungkan Allah

Allahuakbar, Allahuakbar.. Allahuakbar Allaaahuakbar! Adzan khas Turki, dengan penekanan awal dan akhir, seolah menjadi menara-menara suara, Hagia Sophia, kini menjadi tempat sujud kembali, setelah fungsinya dikembalikan

Masjid #Ayasofya tak henti melaksanakan tugasnya. Sampai tahun 1934, ketika kabinet Turki memaksanya menjadi musium

Tahun 2020, 86 tahun kemudian, Erdogan dan pemerintahannya membatalkan keputusan itu, membuka jalan untuk Ayasofya kembali lagi menjadi Masjid, Allahuakbar!

Meski kita tahu, keputusan ini sarat dengan kepentingan politik yang ada di belakangnya. Tetapi, keputusan ini menyatukan mata dan hati kaum Muslim di seluruh dunia. Mereka bangga dengan era kejayaan mereka, saat dipimpin Islam

Bayangkan, seandainya #Ayasofya benar-benar di bawah kekuasaan Khalifah yang agung, sekelas Sulaiman al-Qanuni, maka ini bukan hanya menjadi kenangan indah, tetapi benar-benar menjadi simbol kekuatan dan kemuliaan

Insya Allah, itu tidak akan lama lagi. Maka, bisyarah Nabi kedua akan terwujud dengan izin Allah

Post a Comment

Powered by Blogger.