Sejak kekhilafan runtuh 1924 di Turki oleh antek Inggris Mustafa Kamal Attaturk. Maka mulailah babak baru demokrasi mendominasi sistem di Turki. Pun di beberapa negeri-negeri Islam lainnya. Demokrasi dengan ide yang menghipnotis, seakan menjadi sebuah suatem baru yang menjanjikan keindahan, menjaga kebebasan dan hak asasi berpendapat, berperilaku, keadilan dalam hukum dan sebagainya. 

Ibarat mantra pembius. Fakta demi fakta yang terjadi akhir-akhir ini di berbagai pelosok dunia termasuk di AS pusat negara adidaya demokrasi sedikit demi sedikit membuka penglihatan dan pendengaran umat. 

Tengok saja, sejak kasus pembunuhan dan kekerasan polisi yang menewaskan seorang lelaki kulit hitam, George Floyd, di Minneapolis, Minnesota pada Mei lalu, gelombang unjuk rasa tetap digelar di Portland.

Presiden AS, Donald Trump, menyatakan dia mengirimkan agen federal untuk meredam gejolak di Portland. Namun, hal itu malah membuat para demonstran di kota itu marah (CNNIndonesia, 27/7/2020)

Kondisi ini menunjukkan bahwa persatuan,keadilan, HAM hanya ide utopia. Jika di negara nomor satu pelaksana demokrasi Kapitalisme yang "utuh" saja demikian tidak adilnya memperlakukan manusia. Lalu, layakkah negeri-negeti lain masih berharap untuk maju dengan demokrasinya. Bahkan dengan alasan karena di negerinya (Indonesia) masih proses menuju pelaksanaan demokrasi yang utuh. 

Karenanya untuk mencermati sebuah ide butuh pengkajian mulai dari hal nya. Apakah ide tersebut masuk akal, sesuai fitrah manusia dan menenangkan.

Demokrasi adalah ide turunan dari Kapitalisme. Yang berpangkal dari ide sekulerisme, pemisahan agama dari kehidupan. Hal ini terjadi karena adanya persengketaan antara kaum gerejawan dan kaum cendikiawan di Barat. 

Penyalahgunasn kekuasaan atas nama agama di Barat menimbulkan reaksi dari kaum cendikiawan agar peran agama dihapuskan dari pemerintahan. Maka diambulah solusi jalan tengah (halul wustha) yaitu ide sekulerisme. Agama dianggap sebagai masalah individu. Dan agama harus dijauhkan dari kehidupan khususnya dalam negara.

Namun, yang disayangkan di tengah lemahnya kaum muslimin mengenal kesempurnaan agamanya.  Sebagian Justru ikut menolak peran agama dalam mengatur negara dengan alasan tak jauh beda dengan kekhawatiran di barat. Dimana pihak penguasa menjadikan pihak gerejawan sebagai pelegal kepentingannya.

Islam Sistem Pemersatu

Sejak dari fakta historis munculnya. Islam telah membuktikan menghapus ketidakadilan ras. Tengok saja bagaimana Islam memulyaka Bilal bin Rabah awalnya seorang budak hitam. Zaid Bin Harizah berlatah budak. Bahkan putranya Osamah bin Zaid di usia yang amat muda menjadi pemimpun pasukan. Dimana pasukannya adalah sahabat senior.

Karena jelas dalam Islam "bahwa sesungguhnya kemuliaan itu karena ketakwaanya. Bukan di lihat dari fisik atau rasanya.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :
ﺇِﻥَّ ﺃَﻛْﺮَﻣَﻜُﻢْ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﺗْﻘَﺎﻛُﻢْ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia  hari antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu” (QS. Al Hujurat: 13).

Begitu pun fakta sejarah bersatunya bangsa-bangsa di bawah kepemimpinan Khilafah. Mulai dari wilayah Afrika, Cina, Asia. 1/3  
Dunia dengan berbagai macam ras, suku bahasa dan budaya melebur menjadi satu umat yang khas. Yang berislam disatukan dengan kalimat tauhid lama Ilaha illallah. Sedang yang kafir dzimi bersatu dengan satu kemaslat yang jelas dan terjamin hak-hak mereka sebagai warga negara daulah Khilafah Islamiyah. 

Sungguh Maha benar Allah dengan segala firman-Nya. Dalam Surat Al-Hujarat : 13

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.

Layak jika peradaban Islam berdiri dan bertahan selama 14 Abad memayungi manusia dengan segala nya. Non Islam hidup rukun dengan keyakinan agamanya. Karena jelas dalam Islam tidak ada pemaksaan dalam beragama. 

Keadilan Islam dalam menegakkan hukum syariatlah yang menjadi magnet berbondong-bindongnya manusia memeluk agama rabb-Nya. 
Tentu ini bertolak belakang dengan sistem demokrasi yang diterapkan. Meski mayoritas umat muslim. Tak mampu mendapat hak dan keadilan. Justru tak jarang menjadi kambing hitam penguasanya.  Terlebih ketika muslim menjafi minoritas. Diskriminasi kerap terjadi. sebagaimana yang terjadi Rohingya, Uighur dan lainnya.

Alih alih demokrasi Kapitalis mampu mempersatukan umat manusia. Mempersatukan sesama antar umat beragama saja tidak mampu. Demikianlah satu sistem uang lahir dari akar yang rapuh. Tak mungkin menghasilkan pohon yang kuat. Sungguh sangat penting ayat berikut sebagai perenungan.

أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىٰ تَقْوَىٰ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىٰ شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim.[]

Oleh Yuyun Rumiwati

Post a Comment

Powered by Blogger.