Tanah Air ini,  kembali menjadi sorotan dunia. Bukan karena prestasi yang diraihnya. Tetapi karena kenaikan kasus corona kian hari terus bertambah. Juga opini publik di Indonesia bahkan internasional belakangan ini terkait dengan istilah New Normal.

Melansir data dari laman Worldometers, total kasus Covid-19 di dunia terkonfirmasi sebanyak 15.080.860 (15 juta) kasus. Kasus aktif hingga saat ini tercatat sebanyak 5.360.055 dengan rincian 5.296.258 pasien dalam kondisi ringan dan 63.797 dalam kondisi serius, dengan 618.407 kematian.(kompas.com, 22/7/2020)

Berdasarkan data di situs Kementerian Kesehatan diketahui bahwa saat ini 91.751 kasus Covid-19 di Indonesia, terhitung sejak diumumkannya pasien pertama pada 2 Maret 2020. Jika dibandingkan data kemarin, berarti ada penambahan 1.882 kasus baru dalam 24 jam terakhir.(kompas.com, 22/7/2020)
Berdasarkan wilayah, di Indonesia yang melaporkan peningkatan jumlah kasus terbanyak, mulai dari DKI Jakarta dengan 361 kasus baru, Jawa Tengah 354 kasus baru, Jawa Timur 237 kasus baru, Sulawesi Selatan 125 kasus baru, dan Gorontalo 105 kasus baru.(detik.com, 20/7/2020)

Di Kabupaten Sumedang tercatat bahwa kasus konfirmasi atau positif Covid-19 mencapai 17 kasus. Juru Bicara Gugus Tugas Penanggulanan Covid-19 Kabupaten Sumedang, Iwa Kuswaeri mengatakan, terdapat penambahan satu kasus konfirmasi positif Covid-19 di wilayah Kabupaten Sumedang. Iwa mengungkapkan, penambahan satu kasus positif Covid-19 ini diketahui setelah Gugus Tugas Penanggulangan Covid-19 Kabupaten Sumedang melakukan swab test di salah satu mall.(pikiran-rakyat.com, 21/7/2020)

Kesalahan Penanganan Sejak Awal

Sejak awal pemerintah bersikukuh untuk tidak melakukan lockdown, melainkan PSBB. Serta diterapkannya skenario New Normal. Hal ini dilakukan dengan berbagai alasan, mulai dari pemerintah tidak mau menjamin seluruh kebutuhan rakyat, ekonomi lumpuh menjadi penyebab pandemi tak terkendali, dan lain sebagainya.

Ikut hati mati, ikut mata buta. Ya, ketidaksigapan pemerintah yang menyebabkan terus bertambahnya kasus Covid-19 di Tanah Air. Pemerintah gegabah dalam menentukan kebijakan, yang terkesan coba-coba dan dipaksakan. Jika kebijakan penanganan yang diambil tidak memperhitungkan untung dan rugi, maka kondisi parah saat ini tidak akan terjadi.

Realitas menunjukan bahwa umat masih banyak mengalami problematika kesehatan, diperparah dengan diadopsinya sistem kesehatan kapitalisme. Dimana kesehatan tidak sepenuhnya dijamin oleh negara, yaitu berbagai indikator kesehatan masih buruk, akses kesehatan yang masih tergolong rendah, distribusi dan kualitas fasilitas serta SDM kesehatan yang tidak merata. 

Di tengah tingkat penyebaran kasus yang tinggi, pengujian mungkin tidak akan mencegah penularan kecuali jika dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas isolasi massal untuk orang yang terinfeksi di wilayah padat penduduk, di mana orang-orang tinggal di lingkungan yang dekat dengan keluarga besar.

Deklarasi darurat kesehatan, telah memberikan dasar hukum untuk tindakan sosial jarak, butuh dua minggu lagi. Tergolong lemah oleh standar global, pembatasan ini tidak melarang perjalanan domestik masuk dan keluar dari daerah yang terkena dampak meskipun ada ketakutan yang besar akan penularan.
Jadi, jika penanganan wabah ini ingin diselesaikan tuntas sampai dengan akar permasalahan, maka kebijakan yang diterapkan harus didasari pada panggilan keimanan. Yaitu bersandarkan pada Islam.

Solusi Islam dalam Menghadapi Wabah Virus Corona

Dalam hadits nabi, Rasulullah sholallahu 'alaihi wa salam bersabda, "Jika kalian mendengar wabah melanda suatu negeri. Maka jangan kalian memasukinya. Dan jika kalian berada didaerah itu janganlah kalian keluar untuk lari darinya". ( HR. Bukhari & Muslim). Inilah yang disebut Lock Down oleh bangsa Barat.

Lockdown ini bisa berhasil jika pemerintah memberi perintah yang sama dan tepat dari ujung pangkal, tidak diserahkan ke daerah. Terpenting, yaitu tercukupinya kebutuhan yang menjadi hajat hidup masyarakat selama lockdown diberlakukan serta tidak memberikan akses masuknya WNA didalam Negeri sampai wabah benar-benar tuntas. Bukan karena kepentingan ekonomi dan manfaat, justru komponen utama periayahan umatlah yang menjadi prioritas. 

Dapat disimpulkan bahwa Sistem Islamlah yang mempunyai solusi dalam seluruh problematika kehidupan. Berikhtiar dengan maksimal karena wabah ini adalah ujian sebagaimana hadits Rasulullah sholallahu 'alaihi wa salam, "Tha'un merupakan azab yang ditimpakan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Kemudian Dia jadikan rahmat kepada kaum mukminin".

Maka tidaklah seorang hamba yang dilanda wabah lalu ia menetap dikampungnya dengan penuh kesabaran dan mengetahui bahwa tidak akan menimpa kecuali apa yang Allah SWT tetapkan, baginya pahala orang yang mati syahid. ( HR. Bukhari dan Ahmad)

Hanya dengan sistem Islam yaitu Khilafah, wabah akan ditangani dengan tuntas, yang menghadirkan peran negara secara utuh dan menyeluruh untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan mendasar, serta menyelamatkan dan mengutamakan nyawa rakyat. Inilah sistem yang saat ini dibutuhkan dan diharapkan oleh dunia. Wallaahu a'lam bish-shawwab.[]


Oleh Fitria Zakiyatul Fauziyah Ch
Cimalaka, Sumedang

Post a Comment

Powered by Blogger.