Apa maksud dari menghapus konten radikal dalam 155 buku pelajaran Akidah Akhlak, Fiqih, Sejarah Kebudayaan Islam, Alquran dan Hadis, serta Bahasa Arab?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ada tiga makna radikal: 

1. secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip): perubahan yang --
2. amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan)
3. maju dalam berpikir atau bertindak 


Karena konteksnya adalah buku pelajaran agama Islam dan dikaitkan dengan makna radikal dalam KBBI, maka penghapusan itu bisa bermakna:

1.Menghapus konten yang secara mendasar sampai kepada hal yang prinsip dalam Islam. Hal yang prinsip dalam Islam itu jelas sumbernya dari Al-Qur’an, Hadits, Ijma Shahabat dan Qiyas Syar’i. 

Salah satu contoh hal yang prinsip: Islam mengharamkan riba (salah satu variannya: bunga bank). Jadi, pengharaman riba itu juga termasuk kata radikal. Apakah pemerintah sudah menghapus konten pengharaman riba? Karena itu termasuk radikal juga lho!


2.Islam itu selain mengatur individu dan kelompok, juga mengatur negara serta hubungan luar negeri. Jadi bila negeri yang mayoritas berpenduduk Muslim ini menerapkan undang-undang dan pemerintahan yang tidak islami, tentu saja Islam amat keras menuntut perubahan. 

Salah satu contoh hal yang menunjukkan amat keras menuntut perubahan: Islam mewajibkan umatnya melakukan muhasabah lil hukkam (mengoreksi kepada penguasa). Nah, apakah pemerintah sudah menghapus konten muhasabah lil hukkam, amar makruf nahyi munkar, dakwah dan semisalnya? Karena itu termasuk radikal juga lho!


3.Siapa saja yang meyakini Islam satu-satunya agama dan ideologi yang benar, serta mempelajari dan memahami Islam dengan benar, tentu saja akan maju dalam berpikir dan bertindak. 

Karena sangat paham bahwa manusia, kehidupan dan alam semesta ini asalnya tidak ada, jadi ada karena diciptakan oleh Allah SWT. Manusia, kehidupan dan alam semesta pasti akan berakhir (Qiamat). Lalu manusia akan dihisab di Akhirat (kehidupan setelah kiamat). 

Manusia yang selama di dunianya beriman dan taat akan semua perintah Allah SWT akan dimasukkan ke Surga. Sebaliknya, bila tidak beriman atau mengaku beriman tetapi perintah Allah SWT malah dilalaikan malah dihapus dalam buku pelajaran tentu saja Neraka adalah tempat kembalinya.

Jadi sangat terbayang jelas bahwa dalam memenuhi kebutuhan fisik dan keinginan naluri manusia, baik dalam kesendirian, berkelompok, bernegara maupun berhubungan luar negeri hanya disandarkan pada perintah dan larangan Allah SWT saja. Karena hanya itulah misi hidup manusia di planet Bumi ini.

Pemahaman yang benar seperti itu tentu saja akan membuat seseorang, kelompok, maupun negara akan maju dalam berpikir dan bertindak. 

Contoh maju dalam berpikir dan bertindak: Berjuang menerapkan syariat Islam secara kaffah dalam naungan khilafah. Khilafah adalah sistem pemerintah yang menerapkan syariat Islam secara kaffah di dalam negeri sedangkan hubungan luar negerinya berporos pada dakwah dan jihad. Kepala negara yang menerapkan sistem ini disebut khalifah. 

Apakah pemerintah sudah menghapus konten khalifah dan atau khilafah? Karena itu termasuk radikal juga lho!

Terkait pertanyaan di nomor tiga ini, pemerintah sudah menjawabnya. Begini jawabannya:

“Dalam buku agama Islam hasil revisi itu masih terdapat materi soal khilafah dan nasionalisme. Meski demikian, buku itu akan memberi penjelasan bahwa khilafah tak lagi relevan di Indonesia.”

Itu menunjukkan apa? Pemerintah sebenarnya tahu bahwa khilafah adalah ajaran Islam di bidang pemerintahan. Sebelum dihapus, juga jelas di buku Fiqih menegakkan khilafah itu fardhu kifayah. Dan di buku Sejarah Kebudayaan Islam juga ditunjukkan bukti sejarah penegakkan khilafahnya. Jadi pemerintah sangat kesulitan menghapusnya. Maka yang paling mungkin dilakukan ya memfitnahnya dengan kata, “Tak lagi relevan.” 

Pernyataan “tak lagi relevan” itu, meski ditulis di 155 buku pelajaran agama Islam di madrasah tetap tidak menggugurkan kewajiban menegakkan khilafah. Bahkan, meskipun dilarang atas nama apa pun oleh siapa pun, tetap saja khilafah adalah ajaran Islam yang wajib ditegakkan.

Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah (keseluruhan/totalitas), dan janganlah kalian turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu” (QS al-Baqarah [2]: 208).

Dalam ayat tersebut secara gamblang Allah SWT mewajibkan kaum Muslimin menerima seluruh syariat Islam secara totalitas, serta keharaman untuk pilih-pilih dalam syariat. Orang yang menghalalkan yang haram (termasuk riba/bunga bank), dan meninggalkan kewajiban (termasuk kewajiban menegakkan khilafah), berarti telah mengikuti langkah-langkah setan (makhluk durhaka yang mengajak maksiat kepada Allah SWT), padahal setan adalah musuh yang nyata bagi kaum Muslimin. []



Oleh Joko Prasetyo
Jurnalis

Post a Comment

Powered by Blogger.