Oleh: Agung Wisnuwardana [Strategic And Military Power Watch]

Rencana aneksasi wilayah Palestina di Tepi Barat oleh Israel, mendapat kecaman oleh banyak negara. Rencana ini tidak bisa terwujud tanpa persetujuan Amerika Serikat. Dari usulan Trump, Ia menyerukan kedaulatan Israel atas sekitar 30 persen wilayah Tepi Barat, di mana Israel telah membangun permukiman selama beberapa dekade, serta penciptaan negara Palestina di bawah persyaratan yang ketat.

Peran Israel sangat penting bagi negara superpower seperti AS. Perannya terkonfirmasi dari ucapan Perdana Menteri entitas Yahudi, Netanyahu yang pernah mengatakan: “Israel adalah benteng peradaban Barat di Timur Tengah, seandainya Israel tidak ada, tentu wilayah Timur Tengah seluruhnya sudah ada dalam cengkeraman kaum ekstremis Islam Israel. Bahkan Israel memainkan peran yang sangat penting dalam perang melawan Islam.”

Dari ungkapan Netanyahu, pemerintah entitas Yahudi ini menyatakan secara telanjang bahwa entitasnya adalah benteng bagi Barat seperti yang diinginkan kaum penjajah. Dalam hal ini, Churchill, mantan Perdana Menteri Inggris, yang telah menjanjikan pembentukan tanah air Yahudi di Palestina, dan mulai menarik mereka dari seluruh penjuru bumi, mengatakan bahwa “Barat telah membentuk negara Israel untuk menjadi pangkalan terdepan di jantung dunia Islam.” Itu setelah kekalahan Barat dalam Perang Salib. Sehingga Barat Salibis ingin membalas dendam terhadap Islam dan kaum Muslim, agar mereka dapat kembali dan melanjutkan keberadaannya di Palestina dengan mendirikan entitas Yahudi untuk menjajah seluruh kawasan Timur Tengah.

Netanyahu mengakui bahwa keberadaan entitasnya adalah untuk memerangi kelompok Islamis, yakni mereka yang menyerukan kembalinya pemerintahan Islam dan mendirikan Khilafah Rasyidah yang berdirinya sangat ditakuti para musuh, dimana misi utamanya adalah membebaskan Palestina dari cengkeraman Yahudi, dan membersihkan semua bentuk pengaruh Barat dari kawasan Timur Tengah.

Persoalan Palestina bukan persoala perbatasan (hudud), tetapi persoalan keberadaan (wujud) Israel. Selama Israel masih bercokol di Tanah Palestina maka isu Palestina, al-Quds, dan al-Aqsha tidak akan berakhir. Persoalan Palestina hanya bisa diselesaikan dengan menghapus entitas Yahudi di Tanah Palestina oleh militer kaum muslimin. Ini karena keberadaan mereka adalah ilegal dan haram. Penghapusan entitas Yahudi sekaligus penjagaan terhadap umat Islam, khususnya di Palestina, hanya bisa sempurna terwujud saat umat Islam berhasil saat militer dan penguasa umat ini mampu menjadi benteng pelindung umat, termasuk Palestina. Abu Hurairah ra. menuturkan bahwa Nabi saw. pernah bersabda:

«إِنَّمَا اْلإِمَامُ جُنَّةٌ، يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ»

“Sesungguhnya Imam (Khalifah) laksana perisai; orang-orang berperang di belakang dia dan berlindung kepada dirinya.” (HR Muslim).

Dengan kepemimpinan Islam itu akan sempurnalah penghancuran entitas Yahudi. Bumi yang diberkahi pun secara sempurna kembali ke pangkuan Islam. Imam yang adil itu pun akan mengembalikan sirah Khalifah Umar al-Faruq yang pernah membebaskan al-Quds dan bumi yang diberkahi di sekitarnya, mengembalikan sirah Sultan Shalahuddin dengan membebaskan bumi yang diberkahi itu dari pasukan Salib, serta mengembalikan sirah Khalifah Abdul Hamid yang menjaga dan memposisikan bumi yang diberkahi itu lebih mahal daripada nyawanya sendiri. Keadilan dan kehidupan yang baik pun akan bisa dirasakan oleh umat manusia, baik Muslim maupun non-Muslim.

Post a Comment

Powered by Blogger.