Pemerintah telah memperbarui data pasien positif virus corona pada konferensi pers di Graha BNPB, Jumat (10/7/2020)  pukul 15.30 WIB.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Republik Indonesia, Achmad Yurianto mengatakan pada hari ini terjadi penambahan kasus, baik yang positif, dinyatakan sembuh, maupun meninggal dunia.

Berdasarkan laporan data tersebut, tercatat adanya 1.611 kasus baru.Total kasus yang terjadi di Indonesia sebanyak 72.347 pasien positif virus corona.(palu.tribunnews.com, 10/7/2020)

Dilansir dari kompas.com, 30 Juni 2020 lalu, Presiden Joko Widodo meminta pemberlakuan fase kenormalan baru atau new normal tidak dipaksakan oleh pemerintah daerah. Apalagi, jika suatu daerah memutuskan masuk ke fase new normal tetapi kasus Covid-19 di daerah itu masih tinggi.

Jokowi meminta para kepala daerah mendengar masukan para pakar epidemiologi dan saintis sebelum memberlakukan new normal. Jika sudah diterapkan harus dimonitor dan dievaluasi, Jika kadarnya malah meningkat maka pembatasan diberlakukan kembali.

Padahal saat pemerintah memutuskan untuk menerapkan new normal bulan Mei 2020 lalu, para pakar epidemiologi mengatakan bahwa Indonesia belum memiliki kurva epidemiologi Covid-19 yang sesuai dengan standar ilmu epidemiologi.

Jika new normal tetap dijalankan maka akan sangat beresiko untuk nyawa rakyat. Namun pemerintah tetap menginstruksikan penerapan new normal, dalihnya stabilitas ekonomi negara mengkhawatirkan akibat dari aktivitas ekonomi masyarakat menurun sejak diberlakukan pembatasan sosial.

Alhasil sejak 2 bulan diterapkannya normal di berbagai daerah tren kasus Covid-19 mengalami peningkatan, tercatat lima provinsi dengan penambahan kasus baru tertinggi, yakni Jawa Barat (962 kasus baru), Jawa Timur (517 kasus baru), DKI Jakarta (284 kasus baru), Sulawesi Selatan (130 kasus baru) dan Sulawesi Utara (126 kasus baru).(kompas.com, 9/7/2020)

Meskipun demikian pemerintah daerah yang menyumbang kasus Covid-19 tertinggi di Indonesia masih memberlakukan new normal.

Memang dalam menghadapi situasi sulit seperti ini rakyat sangat membutuhkan kebijakan yang tepat. Kebijakan yang bukan didasarkan hanya kepentingan ekonomi atau ujicoba, artinya kapabilitas kepemimpinan dan sistem yang mengatur rakyat akan teruji, apakah mampu menyelesaikan dan menangani wabah.

Nyatanya sejak diawal rakyat merasakan adanya penanganan wabah yang sangat lambat, malah pemerintah cenderung meremehkan pandemi ini. Saat kondisi semakin runyam hubungan antar pemangku kebijakanpun tidak harmonis. Kebijakan yang ada malah inkonsisten bahkan kebijakan yang dikeluarkan mengancam nyawa rakyat.

Hal ini sebenarnya tidak lepas dari dilema yang menimpa mereka untuk memilih antara memulihkan perekonomian atau kesehatan rakyat. Sebab jika mereka memilih untuk memulihkan ekonomi terlebih dahulu tentu hal ini akan beresiko terhadap nyawa manusia yang sejatinya merekalah subjek penggerak ekonomi dan faktor utama produksi.

Namun jika mereka memberikan kesehatan rakyat terlebih dahulu, maka mereka harus menanggung kebutuhan rakyat secara mutlak, sedangkan sumber APBN mereka dari sektor pajak dan hutang.

Tentu kondisi ini menjadi dilema yang sangat besar untuk pemimpin, baik di daerah maupun pusat. Padahal Indonesia memiliki sumber daya alam melimpah yang justru diserahkan ke asing.

Solusi Dilema dalam Sistem Islam

Dilema ini sebenarnya tidak lepas dari paradigma sistem kapitalis yang mereka terapkan saat ini. Sebab sistem yang menegasikan aturan pencipta ini memandang jika negara yang harus menanggung kebutuhan rakyat adalah sebuah beban. karena mereka harus mengeluarkan budget yang besar tanpa memperoleh keuntungan. oleh karena itu, wajar jika new normal tetap diberlakukan untuk menjalankan ekonomi, meski harus mengorbankan nyawa rakyat

Padahal kondisi seperti ini  tidak akan terjadi dan wabah akan segera selesai jika sistem Islam yang digunakan untuk mengatur urusan rakyat. Sebab sistem Islam telah memiliki mekanisme yang jelas dalam mengatur negara termasuk menangani wabah

Pertama, dalam sistem Islam, Khalifah atau pemimpin dipandang sebagai pelayan umat yang bertugas mengurus kebutuhan rakyat. amanah ini akan mereka pertanggungjawabkan di dunia dan di akhirat. paradigma ini membuat mereka mengerahkan seluruh potensi yang mereka miliki agar hukum-hukum syariat yang mengatur umat bisa terlaksana.

Kepemimpinan adalah amanah. Siapa saja yang memegang amanah kepemimpinan ini pasti akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT di akhirat kelak.

Rasulullah saw. bersabda:

فَاْلإمَامُ رَاعٍ وَ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Seorang imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Hakikat kepemimpinan tercermin dalam sabda Rasulullah saw.:

سَيِّدُ الْقَوْمِ خَادِمُهُمْ

“Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.” (HR Abu Nu‘aim).

Kedua, jika terjadi wabah Khalifah akan memutuskan pemisahan antara yang sehat dan yang sakit sejak awal sehingga penyakit tidak meluas dan wilayah yang tidak terdampak dapat melakukan aktivitas sosial ekonomi secara normal.

Ketiga, Khalifah akan berintegrasi dengan wali yang berada di daerah wabah, agar rakyat di daerah tersebut mendapat jaminan kebutuhan baik logistik maupun medis dengan kualitas terbaik. jaminan ini akan ditanggung oleh pemerintah secara mutlak.

Keempat, departemen kemaslahatan umum bidang kesehatan dan biro at-Thawari atau lembaga yang menanggulangi bencana akan membantu Khalifah untuk mempercepat penyaluran dana dan pelayanan kepada warga terdampak wabah. dana ini berasal dari pos kepemilikan umum dan kepemilikan negara baitul maal.

Kelima, Khalifah akan memberikan dana yang cukup untuk para ilmuwan terutama di bidang virologi biomolekuler sehingga mereka akan fokus untuk segera menemukan vaksin dan obat-obatan baik herbal maupun kimia yang berpotensi untuk menyembuhkan penyakit.

Inilah mekanisme yang jelas dalam sistem Islam untuk menangani wabah baik dari kepemimpinan kebijakan dana maupun inovasi pengobatan.[]

Oleh Nabila Zidane
Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Post a Comment

Powered by Blogger.