Oleh: Abu Mush'ab Al Fatih Bala (Penulis Nasional dan Pemerhati Politik Asal NTT)

RUU HIP memang pantas ditolak karena adanya hidden agenda didalamnya. Kesatuan umat dalam menolak RUU ini pantas diapresiasi. Umat tak ingin komunis bangkit dan menggeser peranan Agama di Indonesia.

Telah banyak duka dan luka karena komunisme. Pembantaian demi pembantaian dan nyawa-nyawa tak berdosa sekarat di tangan kaum komunis. Kebangkitan komunisme akan merusak Indonesia melebihi kerusakan yang diakibatkan karena pandemi Covid-19.

RUU HIP sebenarnya adalah hasil busuk dari ideologi kapitalisme. Walaupun diduga berunsur komunis, RUU ini terlahir dari mekanisme demokrasi yang merupakan turunan langsung dari kapitalisme.

Asas kapitalisme adalah sekularisme yang menjauhkan peran agama dari kehidupan. Ketika agama (baca: Islam) tidak dipakai sebagai solusi kehidupan, demokrasi yang dibangun atas dasar sekularisme sangat rentan terhadap berbagai pemikiran atau ideologi berbahaya.

Demokrasi pun bisa ditembus unsur komunisme yang diduga berada dalam RUU HIP. Demokrasi tak cukup kuat untuk menyaring ide-ide sesat karena demokrasi dirancang untuk menegakkan kebebasan berpendapat. Yang penting suara terbanyak menjadi suara tuhan.

Ketika suara terbanyak itu menghendaki adanya RUU yang diduga memuat unsur komunis maka peluang menjadi UU pun semakin besar. Bermusyawarah pun tak perlu karena akan dikalahkan dengan voting.

Itu lah mekanisme gagal demokrasi. Suara terbanyak memuluskan kepentingan mayoritas tanpa ada standar halal haram. Sehingga apa pun bisa dilakukan yang penting menguasai suara terbanyak.

Di banyak negara, partai pemenang pemilu beserta koalisinya yang berhak menentukan kebijakan-kebijakan negara walaupun bertentangan dengan aspirasi masyarakat.

Sayangnya ketika tengah hangat pembicaraan tentang RUU HIP, ada pembahasan tentang Khilafahisme. Yang jelas untuk menentang ajaran-ajaran Islam.

Sebuah manuver politik untuk menghantam ajaran Islam khususnya Khilafah. Komunis tahu bagaimana caranya memanfaatkan demokrasi untuk meraih kekuasaan dan menghantam Islam. Komunis menggunakan demokrasi untuk menghantam Islam dan kapitalisme sedangkan Kapitalisme juga menggunakan demokrasi untuk menangkal pengaruh Islam dan komunisme.

Demokrasi ternyata menjadi alat bertarung komunisme dan kapitalisme. Meskipun demikian, demokrasi, kapitalisme dan komunisme sering menyerang Islam karena dianggap membahayakan kepentingan mereka. Entah Komunisme atau Kapitalisme yang berkuasa tetap saja yang paling dimusuhi adalah Islam. Lihat saja perlakuan negara kapitalisme seperti AS dan Komunisme seperti China dan Rusia dalam memperlakukan negeri-negeri Kaum Muslimin.

Inilah benturan peradaban yang niscaya akan terus terjadi antar tiga ideologi dunia yakni Islam, Kapitalisme dan Komunisme. Kapitalisme masih kuat di Indonesia.

Kapitalisme terus bercokol dan membiarkan para kapitalis besar menyedot kekayaan alam Indonesia. Kapitalisme berusaha untuk mencegah kekuatan Islam. Sedangkan Komunisme ,walaupun memilih taktik demokrasi untik berkuasa, telah terdeteksi oleh umat.

Umat hanya memerlukan penyadaran bahwa selain komunisme, kapitalisme juga sangat berbahaya. Komunisme dan kapitalisme anti Islam.
Komunisme anti Tauhid anti Tuhan. Kapitalisme takut kapitalis disikat habis ideologi Islam. Jika ideologi Islam tegak kepentingan komunisme dan kapitalisme akan terancam.
Umat akan kembali sejahtera. Kesadaran umat akan bahaya komunisme sudah terbentuk dengan baik tinggal beberapa langkah lagi untuk memahami bahwa kapitalisme jauh lebih berbahaya dari komunisme.

Masyarakat memerlukan momentum yang tepat untuk sadar dan membuang Kapitalisme dan Komunisme. Lalu bergerak menegakkan Islam. []

Post a Comment

Powered by Blogger.