Semua pemimpin biasanya meninggalkan karya prestasi yang bisa dinikmati oleh generasi berikutnya. Prestasi yang ditinggalkan oleh Kesultanan Buton adalah memiliki benteng terluas di dunia.


"Nah ini, Kesultanan Buton ini meninggalkan prestasi yang sangat membanggakan, itulah benteng terluas di dunia. Itulah prestasi yang luar biasa," ungkap Ustaz Wahyudi Al Maroky, Direktur Pamong Institute dan Penulis buku Khalifatul Khamis (Jejak Islam di Kesultanan Buton) pada acara bedah buku tersebut, Jumat (28/8/2020) di halaman facebook Dakwah Sulteng. 


foto: benteng milik kesultanan Buton. Sumber: travel.kompas.com

Ia menjelaskan ketinggian benteng yang dimiliki Kesultanan Buton bisa mencapai 8 meter dan tebalnya bisa mencapai 2 meter. Termasuk dinding yang tebal sekali yang dibangun di masa dulu. Bahkan, masa sekarang belum tentu mampu membangun benteng seperti itu.

"Jadi, di masa sekarang pembangunan tidak berkualitas seperti masa dulu," tegasnya.

Ia menyayangkan kondisi pembangunan era sekarang. Baru saja dibangun jembatan, beberapa waktu kemudian jembatan runtuh. Baginya, suatu hal yang memalukan, lebih-lebih pemimpin-pemimpin sekarang meninggalkan utang atas infrastruktur yang mereka bangun.

"Maka dari itu, yang membanggakan pada kesultanan Buton mewariskan karya tapi tidak meninggalkan utang kepada generasi selanjutnya. Pemimpin sekarang ini harusnya belajar dari sejarah," pungkasnya.[]



Ketika Belanda datang ke Nusantara, wilayah ini bukan daerah kosong. Sudah ada pemerintahan dan hukum yang berlaku di Nusantara. Pemerintahan yang ada di nusantara kala itu berbentuk Kesultanan dan sebagian ada yang masih berbentuk Kerajaan. 


Adanya pemerintahan di Nusantara yang berbentuk Kesultanan dan Kerajaan itu meniscayakan adanya Hukum  yang berlaku. Dalam sistem kesultanan yang berlaku Hukum Islam. Kemudian dikenal dengan syariah Islam. Sedangkan dalam pemerintahan Kerajaan yang berlaku adalah hukum Raja. Selanjutnya ketika Penjajah Belanda datang ia membawa hukum kolonial.

Dalam upaya menguasai Nusantara, Belanda mendapat perlawanan yang sangat keras dari para Sultan yang sedang menerapkan hukum Islam di Nusantara. Apalagi dalam Islam ada ajaran JIHAD yang sangat ditakuti kaum penjajah. Bahkan hingga kini masih ditakuti pemilik "gen" pewaris penjajahan. Belanda pun berfikir keras untuk bisa menjajah Nusantara dengan leluasa dan mengalahkan para Sultan itu. Belanda pun menerjunkan para ahli untuk mencari solusi.

Adanya hukum islam yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat dan semangat jihad melawan penjajah telah menyulitkan Belanda untuk menjajah nusantara. Belanda melakukan kajian serius dan mendalam.

Untuk bisa menjajah bangsa Indonesia maka Belanda mejalankan dua siasat. Pertama, menjauhkan rakyat dan pemerintahnya dari ajaran Islam. Kedua mencabut hukum islam dari pemerintahan dan menggantinya dengan hukum kolonial.  Ajaran Islam harus dipisahkan bahkan dijauhkan dari kehidupan masyarakat dan pemerintahan. Inilah yang kemudian dikenal dengan sekulerisme.

Sekulerisme inilah yang kemudian melahirkan dua praktek penerapan Hukum di nusantara. Hukum Syariat Islam yang dimasa kesultanan mengatur urusan pemerintahan dan masyarakat kini hanya untuk urusan waris dan pernikahan. Sedangkan untuk urusan pemerintahan dan Kemasyarakatan secara umum digunakan hukum kolonial Belanda. 

Sebenarnya Belanda ingin menggusur semua hukum islam dari pemerintahan dan masyarakat. Namun atas saran dari Mr. Scholten van Oud Haarlem, demi kebaikan Belanda, akhirnya mereka hanya menerapkan hukum kolonial dalam sistem pemerintahan. Hal ini dikarenakan kesadaran Hukum Islam di tengah masyarakat sangat kental. Ini amat berbahaya jika dipaksakan langsung dengan hukum kolonial. Maka Belanda menghindari perlawanan yang keras dengan cara membentuk Pengadilan Agama tahun 1882. Ini  khusus mengurusi Perkawinan dan Warisan.

Belanda tidak melarang orang islam beribadah ritual. Islam sebagai agama ritual akan diberi ruang. Namun ia melarang keras jika ajaran agama Islam dipakai untuk urusan masyarakat dan pemerintahan. Belanda berusaha menyusupkan pemikiran dan politik sekular melalui Snouck Hurgronye. Dia menyatakan dengan tegas bahwa musuh kolonialisme bukanlah Islam sebagai agama (H. Aqib Suminto, 1986). 

Belanda berusaha keras menggusur Hukum Islam dan menggantinya dengan hukum kolonial. Dari pandangan Snouck tersebut penjajah Belanda berupaya melemahkan dan menggusur Hukum Islam dengan empat cara. 

Pertama; Belanda berusaha keras menghapus Institusi yang menerapkan Hukum Islam. Cara menggusur Hukum Islam yang paling efektif adalah dengan memberangus politik dan institusi politik/pemerintahan Islam. Belanda berusaha keras untuk menghapus kesultanan Islam. Sebagai contoh adalah Kesultanan Banten. Sejak Belanda menguasai Batavia, Kesultanan Islam Banten langsung diserang dan dihancurkan. 

Seluruh penerapan aturan Islam dicabut, lalu diganti dengan peraturan kolonial. Hukum syariah yang berlaku dihentikan dan kemudian diganti dengan hukum dari Belanda.

Kedua; jika cara pertama mendapat perlawanan keras dan sulit dilakukan maka Belanda menempuh cara kedua. Belanda melakukan politik adu domba. Membujuk raja atau sultan dan keluarga mereka agar mau kerjasama dengan penjajah. Setelah ada yang pro Penjajah maka di bantu dan diadu dengan yang anti penjajah.

Bagi Raja atau Sultan yang tidak mau diajak kerjasama maka akan diadu dengan yang mau kerjasama. Setelah keduanya terlibat pertikaian maka Belanda datang memberi bantuan bagi yang pro penjajah.

Sedangkan yang mau dibujuk dan mau bekerja sama maka akan dibantu dan digiring menerapkan hukum kolonial secara perlahan. Sebagai contoh, di Kerajaan Mataram. Penerapan Islam mulai sedikit demi sedikit digeser ketika Kerajaan Mataram dipimpin Amangkurat I yang bekerjasama dengan Belanda. 

Ketiga: untuk mendukung langkah Pertama dan Kedua, Belanda menyebarkan para orientalis untuk melakukan propaganda ditengah masyarakat. Pemerintah Belanda membuat Kantoor voor Inlandsche zaken yang lebih terkenal dengan kantor agama (penasihat pemerintah dalam masalah pribumi). Kantor ini bertugas membuat ordonansi (UU) yang mengebiri dan menghancurkan Islam. Salah satu pimpinannya adalah Snouck Hurgronye.

Berbagai ordonansi dikeluarkanlah oleh Belanda. Ordonansi Peradilan Agama tahun 1882, yang dimaksudkan agar politik tidak mencampuri urusan agama (sekularisasi); Ordonansi Pendidikan, yang menempatkan Islam sebagai saingan yang harus dihadapi; Ordonansi Guru tahun 1905 yang mewajibkan setiap guru agama Islam memiliki izin; Ordonansi Sekolah Liar tahun 1880 dan 1923, yang merupakan percobaan untuk membunuh sekolah-sekolah Islam. Sekolah Islam didudukkan sebagai sekolah liar. (H. Aqib Suminto, 1986). Perjuangan Tak Pernah Padam].

Keempat; upaya menggusur Hukum Islam di nusantara itu belum sepenuhnya berhasil. Hingga kini kedua jejak hukum itu masih ada. Baik hukum islam dan hukum kolonial. Jejak hukum itu dapat kita telusuri sebagai berikut.

Mula-mula para penjaja yang masuk Nusantara adalah VOC tahun 1602, meski ada beberapa aturan adminsitratif namun tidak menggusur Hukum Islam yang berlaku. Selanjutnya Deandles (1808-1811) dan Thomas Raffles (1811-1816) masa ini Hukum Islam tetap berlaku untuk rakyat Jawa. 

Belanda menerapkan hukum kolonial Wetboek van strafrecht voor nederlandsch-indie. Namun tidak secara total karena pada tahun 1882 itu dibentuk pengadilan agama yang khusus menangani Waris dan perkawinan. Pada 1 April 1937 diterbitkan Staatsblad no. 116 yang mencabut kewenangan pengadilan Agama di Jawa dan Madura dalam perkara Waris. 

Era menjelang kemerdekaan ada keinginan kembali untuk menerapkan syariat islam dalam kenegaraan. Tercermin dalam perdebatan di BPUPKI tentang negara Islam. Muncullah kompromi  pada 22 Juni 1945 yang dikenal dengan PIAGAM JAKARTA.  Ditegaskan lagi dalam Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang diawali dengan kalimat Piagam Jakarta. 

Pada era kemerdekaan, pemerintah RI mengeluarkan UU 1/46 tentang peratuan Hukum Pidana.  UU ini melegalkan UU kolonial Belanda (wetboek van strafrecht) menjadi KUHP. Selanjutnya lahir UU 5/60 tentang Agraria, UU 1/74 tentang Perkawinan, UU 4 /79 tentang Kesejahteraan Anak. UU 7/89 tentang Peradilan agama. Sedangkan terkait Hukum Islam menjadi bagian dari Matakuliah terjadi tahun 1968.

Pada awalnya UU 1/46 ini hanya berlaku untuk Pulau Jawa dan Madura. Namun pada tanggal 20 September 1958 dikeluarkan UU 73/58 yang menegaskan kembali berlakunya UU 1/46  untuk seluruh wilyah  RI.

Dari catatan sejarah ini, kita bisa pahami bahwa para penjajah mendapatkan perlawanan keras dalam menggusur pemerintahan dan hukum islam dari nusantara. Untuk mengurangi resistensi/penolakan terhadap penjajah maka mereka tetap diberikan ruang untuk menerapkan hukum islam sebatas urusan individu yang bukan urusan pemerintahan. Sedangkan urusan publik tetap menggunakan aturan penjajahan. Inilah sekulerisme bidang hukum.

Pola penjajahan belanda ini terus dipraktekan hingga kini. Hanya penjajahnya saja yang berganti dan dengan cara yang lebih canggih. Menurut sejarawan Moeflih, Wajar bila sebagian masyarakat Muslim Indonesia sekarang, tanpa sadar, sudah π™¬π™šπ™¨π™©π™šπ™§π™£π™žπ™―π™šπ™™ (terbaratkan) bahkan π™¬π™šπ™¨π™©π™€π™­π™žπ™˜π™–π™©π™šπ™™ (teracuni alam pikiran Barat) disebabkan selama 4 abad, kesadaran dan kemajuan Barat mempengaruhi alam pikiran masyarakat Indonesia terutama setelah kemerdekaan.

Akibatnya ada juga muslim yang menolak masyarak ajaran agamanya sendiri (jihad, jilbab, khilafah, dll). Hal itu medti diterima dengan lapang dada. Mesti dimaklumi tanpa amarah apalagi kebencian, karena itulah tugas dakwah untuk membuktikan bahwa Islam adalah rahmatan lil 'alamin. Sebagaimana yang sudah dibuktikan oleh para ulama utusan khilafah Islamiyah zaman lampau alias walisongo beserta ulama lainnya.

Walhasil, tugas kita kini saling menasihati sesama anak negeri agar jangan mau di adu domba oleh para penjajah. Selain itu mesti mengingatkan kembali romantisme sejarah bahwa kita bisa bersatu dan bangkit melawan penjajahan modern, neo-kolonialisme. Kita bisa menjadi negara mandiri dan sejahtera dengan menerapkan hukum yang baik, yang berasal dari Dzat Yang Maha Baik. Bahkan dengan itu kita bisa jadi negara Adi daya. Semoga. []


Oleh: Wahyudi al Maroky
(Dir. PAMONG Institute)

NB : Penulis pernah Belajar Pemerintahan pada STPDN 1992 angkatan ke-4, IIP Jakarta angkatan ke-29 dan MIP-IIP Jakarta angkatan ke-08.



Belum pernah  ditemukan dokumen di arsip Ottoman bukan berarti tidak ada hubungan antara Khilafah Utsmani dengan kesultanan-kesultanan di Jawa.


"Hanya karena saya tidak menemukan dokumennya di arsip Ottoman, saya tidak akan menyatakan hubungan (Kekhilafahan) Ustmani dengan (kesultanan) di Jawa tidak ada," tutur sejarawan Dr. Ismail HakkΔ± KadΔ± dalam wawancara dengan Anadolu Agency , Kamis (27/08/2020) di Turki.

Menurutnya, ungkapan "belum menemukan dokumen" berbeda dengan "relasi itu tidak ada sama sekali". Karena, kalimat "belum menemukan dokumen" memiliki dua kemungkinan. 

Pertama, mungkin saja relasi itu ada namun tidak tercatat dalam dokumen resmi Utsmani. Kedua, mungkin juga dokumen resmi itu memang ada, tetapi belum ditemukan selama penelitian yang dilakukannya.

"Mengapa saya mengambil pendekatan yang hati-hati seperti ini. Misalnya dalam buku yang ditulis Ricklefs berjudul Mystical Sentences in Java seorang bernama Ibrahim digambarkan sebagai utusan Utsmani yang melakukan peran mediasi antara Kesultanan Yogyakarta dengan Belanda pada 1750-an," bebernya.

Ia menjelaskan, informasi dari buku Ricklefs Ibrahim menyatakan dirinya adalah utusan Ustmani. Nama Ibrahim ini tercantum pada sumber-sumber berbahasa Belanda, Perancis, dan Jawa.

"Tentu saja kami tidak langsung menerima apa yang diklaim oleh Ibrahim," tambahnya.

Dikisahkan Ibrahim berhasil membujuk rakyat Jawa dan Belanda dan mengaku bahwa dirinya adalah utusan Ustmani. Namun, sejarawan Turki tersebut membantah, tidak ada tugas seperti itu yang diberikan oleh Utsmani. Karena tidak menemukan dokumen terkait Ibrahim di arsip Ottoman.

"Tapi, seperti yang saya katakan kita perlu bersikap hati-hati. Perlu ditekankan kembali bahwa berisiko jika kita mengatakan hubungan tersebut tidak ada. Dikarenakan belum menemukan dokumennya dan juga mengatakan hubungan itu ada, tetapi tidak menunjukkan bukti sama sekali," pungkasnya.[]


 

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma´ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung [QS Ali Imran : 104]


Ayat di atas adalah SK dari Allah tentang kewajiban dakwah Islam. Dakwah adalah akad kewajiban setiap muslim kepada Allah, bukan kepada manusia. Meski pemerintah dan seluruh manusia menghalangi, status kewajiban dakwah tidak pernah berubah. 

Adalah sunnatullah dakwah Islam selalu mendapat halangan dari musuh-musuh Allah. Adalah aneh jika dakwah Islam berjalan mulus tanpa halangan. Lihatlah para Nabi seperti Ibrahim, Nuh, Luth, Musa, dan Yusuf yang mendapat penentangan dari kaum pembangkang Allah. Rezim penguasa saat itu adalah penghalang utama dakwah Islam. Rezim Fir’aun adalah contoh sempurna penghalang dakwah Islam yang dibawa Nabi Musa.

Begitupun apa yang dialami oleh Rasulullah Muhammad SAW. Tak ada sejengkal langkah dakwah Rasulullah yang sepi dari gangguan, halangan dan ancaman penguasa rezim kafir Quraisy pimpinan abu jahal dan abu lahab. Tidak hanya sampai disitu, gerombolan kaum munafik pimpinan abdullah bin ubay bahkan mengkhianati perjuangan Rasulullah. 

Tatkala Rasul saw diutus dengan membawa Islam, masyarakat membicarakan dirinya dan dakwahnya, sementara Quraisy paling sedikit berkomentar tentang dakwah Nabi. Sebab mereka pada mulanya belum menyadarinya, dan menganggap perkataan Muhammad tidak lebih dari sekadar cerita para pendeta dan ahli hikmah belaka. 

Mereka pun meyakini bahwa masyarakat akan kembali kepada agama nenek moyangnya, sehingga mereka tidak mempedulikan dan tidak pula melarangnya. Sewaktu Muhammad lewat di majelis mereka, mereka hanya mengatakan, “Inilah putra ‘Abdul Muthallib yang biasa membicarakan sesuatu dari langit.” Sikap seperti itu terus berlangsung demikian.

Namun, setelah dakwahnya berjalan dalam waktu yang belum terlalu panjang, mereka mulai menyadari bahaya dakwah tersebut dan sepakat untuk menentang, memusuhi, dan memeranginya. Mereka menyimpulkan dengan pikiran yang dangkal untuk memerangi dakwah Muhammad dengan berbagai tekanan dan mendustakan kenabiannya. Kemudian mereka mendatangi beliau sambil mengajukan berbagai pertanyaan tentang mukjizat yang menjadi penguat risalahnya. 

Demikianlah, mereka terus-menerus menyerang Rasul dan dakwahnya dengan cara hina dan menyakitkan. Mereka terus menerus mempergunjingkan hal itu, tetapi hal itu tidak membelokkan Rasul dari dakwahnya. Bahkan beliau tetap meneruskan seruannya kepada manusia menuju agama Allah, disertai dengan memaki-maki berhala-berhala itu, mencelanya, merendahkannya, dan menganggap bodoh atas akal orang-orang yang menyembahnya dan menyucikannya. 

Urusannya menjadi semakin besar bagi Quraisy. Mereka lalu menggunakan berbagai sarana untuk memalingkan Muhammad dari dakwahnya, namun tidak berhasil. Sarana sarana terpenting yang mereka gunakan untuk menyerang dakwah ini ada tiga, yaitu: (1) Penganiayaan, (2) Berbagai propaganda di dalam dan di luar kota Makkah, dan (3) Pemboikotan. 

Seperti itulah kafir Quraisy secara terus-menerus menyiksa Nabi dan para sahabatnya. Ketika kafir Quraisy menyadari bahwa perlawanan terhadap dakwah dengan menggunakan cara tersebut tidak membawa hasil, maka mereka beralih dengan cara lain, yaitu dengan senjata propaganda memusuhi Islam dan kaum Muslim di mana-mana, baik di dalam kota Makkah maupun di luar Makkah, seperti di Habsyi. 

Mereka menggunakan cara propaganda itu dengan segala bentuknya dan modelnya, seperti berdebat, menggugat, mencaci, melemparkan berbagai macam isu atau tuduhan. Propaganda itu juga digunakan untuk menyerang akidah Islam dan para pemeluknya, membusuk-busukkan isinya dan menghina esensinya. Mereka melontarkan kebohongan kebohongan tentang Rasul dan menyiapkan semua kata-kata yang ditujukan untuk propaganda memusuhi Muhammad, baik di Makkah maupun di luar Kota Makkah, terutama propaganda di musim haji. 

Mengingat betapa pentingnya propaganda memusuhi Rasul bagi kafir Quraisy, maka sekelompok orang dari mereka berkumpul di rumah Walid bin al-Mughirah. Di rumah itu mereka bermusyawarah mengenai apa yang akan mereka katakan tentang Muhammad kepada orang-orang Arab yang datang ke Makkah di musim haji.

Sebagian mereka mengusulkan hendaknya Muhammad dicap sebagai seorang dukun. Namun, Walid menolaknya seraya mengatakan bahwa Muhammad itu tidak memiliki karakter dukun, baik gerak-gerik maupun gaya bicaranya. Sebagian yang lain mengusulkan agar menuduh Muhammad sebagai orang gila. Usulan ini pun ditolak oleh Walid, karena tidak satu pun tanda-tanda yang menunjukkan Muhammad itu gila. 

Sebagian lagi mengusulkan agar mencap Muhammad sebagai tukang sihir. Usulan ini juga ditolak oleh Walid, karena kenyataannya Muhammad tidak pernah meniupkan mantera-mantera sihir pada buhul-buhul tali, juga tidak pernah melakukan aksi penggunaan sihir sedikit pun. Setelah mereka berdebat dan berdikusi, akhirnya sepakat untuk menuduh Muhammad sebagai tukang sihir lewat ucapan, lalu mereka membubarkan diri.

Tetapi propaganda-propaganda tersebut tidak membawa hasil apa-apa dan tidak mampu menghalangi manusia dari dakwah Islam. Lalu, mereka menemui Nadhir bin al-Harits dan menugaskannya untuk melakukan propaganda memusuhi Rasul saw. Nadhr melaksanakan tugas tersebut dengan cara setiap Rasul berada di suatu tempat untuk mengajak manusia kepada agama Allah, maka Nadhir mengambil tempat duduk di belakang majelis beliau, seraya mengisahkan kisah-kisah Persia dan agamanya. Dia mengatakan, “Dengan apa Muhammad akan menceritakan sesuatu yang lebih baik dari kisahku. 

Bukankah dia hanya bercerita tentang orang-orang terdahulu seperti yang juga kulakukan?” Kaum Quraisy pun menggunakan kisah-kisah itu dan menyebarkannya di tengah-tengah masyarakat. Mereka juga melontarkan isu bahwa apa yang Muhammad sampaikan tidak lain adalah ajaran yang pernah disampaikan oleh seorang pemuda tanggung Nasrani yang bernama Jabr dan bukan berasal dari sisi Allah. Isu tersebut terus menyebar luas dan banyak sekali yang terpengaruh, hingga Allah menolaknya dalam surat an-Nahl: 103:

“Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, ‘Sesungguhnya al-Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad).’ Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa ‘Ajm, sedang al-Quran ini dalam bahasa Arab yang nyata.” (TQS. an-Nahl [16]:103). 

Demikianlah, berbagai propaganda menemui kegagalan dan tenggelam. Kekuatan kebenaran yang diserukan Rasul saw dengan amat gamblang, dan tampak pada lidah beliau, mengungguli seluruh propaganda busuk. 

Cahaya Islam yang baru terbit mampu menceraiberaikan semua isyu dan propaganda. Karena itu, Quraisy beralih pada senjata ketiga, yaitu pemboikotan dan mereka sepakat untuk memboikot Rasul dan para kerabatnya. Mereka membuat perjanjian tertulis, yang isinya memboikot Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthallib secara total.

Quraisy tidak akan melakukan pernikahan dengan mereka juga kalangan Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthallib tidak boleh menikahi mreka. Quraisy tidak akan menjual komoditas apapun kepada mereka dan tidak pula membeli apapun dari mereka. Mereka menempelkan naskah perjanjian tersebut di bagian dalam Ka’bah dengan diberi penjelasan tambahan serta piagam. Mereka meyakini bahwa strategi pemboikotan tersebut akan berpengaruh lebih besar dari pada dua strategi sebelumnya yaitu penyiksaan dan propaganda.

Masa pemboikotan berlangsung selama tiga tahun dan mereka menunggu apakah Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthallib akan meninggalkan Muhammad juga apakah kaum Muslim mau meninggalkan keislaman mereka. Sehingga Muhammad akan benar-benar sendirian dengan kemungkinan dia akan meninggalkan dakwahnya atau dakwahnya tersebut tidak lagi berbahaya baik bagi Quraisy maupun agama mereka. 

Hanya saja, hal tersebut tidak berpengaruh sedikitpun pada Rasul saw, melainkan makin berpegang teguh kepada tali agama Allah, makin kuat menggengam agama Allah dan semakin bersemangat di jalan dakwah mengajak manusia kepada Allah. Demikian juga kekuatan dan keteguhan orang-orang Mukmin yang menyertai beliau tidak surut. Penyebaran dakwah Islam di kota Makkah dan di luar Makkah tidak mengalami kemunduran sama sekali.

Penyiksaan, propoganda busuk hingga pembaikotan adalah sunnatulah yang akan dihadapi muslim yang memilih jalan dakwah. Sebab meskipun Rasulullah adalah manusia agung yang memiliki kemuliaan akhlak yang tak tertandingi, justru mendapatkan ujian dakwah yang sangat berat. 

Namun istimewanya dakwah para Nabi dan Rasul dalam membangun hukum syariah di tengah-tengah masyarakat tidak pernah dikatakan kalah oleh Allah. Bahkan Nabi Luth hingga tinggal sendirian di tengah di tengah manusia durjana penentang Allah sekalipun. 

Bahkan hingga Nabi Nuh yang hanya tinggal beberapa orang pengikutnya sekalipun. Sebab kemenangan ada dalam keimanan, bukan pada jumlah. Kekalahan ada dalam kekafiran dan kemunafikan yang menghalangi dakwah itu sendiri.

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. Dan barangsiapa mengambil Allah Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah Itulah yang pasti menang. 

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, dan mohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat [QS An Nashr : 1-3]

Sementara para penghalang dakwah adalah mereka yang memuja hukum thoghut karena kekafiran dan kemunafikan mereka. Perhatikan firman Allah : 

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya [QS An Nisaa : 60]

Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu [QS An Nisaa : 61]. 

Rasul dan kaum Muslim atas pertolongan Allah berhasil mengakhiri pemboikotan dan mereka kembali sehingga beliau saw dapat melanjutkan aktivitas dakwahnya, hingga jumlah kaum Muslim bertambah banyak. Demikianlah, berbagai langkah Quraisy dalam bentuk penganiayaan, propaganda, dan pembaikotan telah gagal dan tidak mampu memaksa kaum Muslim meninggalkan agamanya. Aksi tersebut tidak berhasil menghentikan Rasul dari dakwahnya, hingga Allah SWT memenangkan dakwah Islam meski dihadang oleh berbagai kesulitan dan siksaan.

Demikian pula dakwah menegakkan Islam kaffah hari ini, maka sunnatullahnya akan dihadang oleh musuh-musuh Allah dari kaum kafir dan munafik. Generasi sekarang belum pernah menyaksikan Daulah Islam menerapkan Islam. Begitu pula generasi yang hidup masa Daulah Islam (Daulah Utsmaniyah) yang berhasil diruntuhkan Barat.

Mereka hanya dapat menyaksikan sisa-sisa negara tersebut dengan secuil sisa-sisa Pemerintahan Islam. Karena itu, sulit sekali bagi seorang muslim untuk memperoleh gambaran tentang Pemerintahan Islam yang mendekati fakta sebenarnya sehingga dapat disimpan dalam benaknya.

Anda tidak akan mampu menggambarkan bentuk pemerintahan tersebut, kecuali dengan standar sistem demokrasi yang rusak yang anda saksikan, yang dipaksakan atas negeri-negeri Islam. Kesulitannya bukan hanya itu. Masih ada yang lebih sulit lagi yaitu mengubah benak (pemikiran) yang sudah terbelenggu oleh virus pemikiran Barat. 

Virus pemikiran tersebut merupakan senjata yang digunakan Barat untuk menikam Daulah Islam, dengan tikaman yang luar biasa, hingga mematikannya. Barat lalu memberikan senjata itu kepada generasi muda negara tersebut, dalam kondisi masih meneteskan darah “ibu” mereka yang baru saja terbunuh, sambil berkata dengan sombong, “Sungguh aku telah membunuh ibu kalian yang lemah itu, yang memang layak dibunuh karena perawatannya yang buruk terhadap kalian.

Aku janjikan kepada kalian perawatan yang akan membuat kalian bisa merasakan kehidupan bahagia dan kenikmatan yang nyata.” Kemudian, mereka mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan si pembunuh, padahal senjata sang pembunuh itu masih berlumuran darah ibu mereka. 

Perlakuan pembunuh itu kepada mereka seperti serigala yang membiarkan mangsanya lari, lalu dikejar lagi agar dapat ditangkap dan dimangsa. Mangsanya itu tidak akan bangun lagi kecuali diterkam kembali hingga darahnya mengucur atau dibanting ke dalam jurang, kemudian serigala itu memangsanya.

Jadi jika dakwah syariah dan khilafah yang ingin mengembalikan kehidupan yang lebih baik dari sistem kapitalisme dan komunisme mendapatkan jutaan hadangan dan hambatan adalah tanda bahwa jalan dakwah ini sudah benar. Penghambat terbesar sebagaimana sejarah dakwah Rasul adalah rezim penguasa yang anti Islam. 

Bahkan jika menilik sejarah perjuangan Rasulullah, saat tekanan dari musuh-musuh Allah semakin memuncak, itulah tandanya kemenangan Islam semakin dekat. Dua tahun setelah peristiwa Isra’ Mi’raj sebagai cara Allah menghibur Rasulullah atas segala kesusahan dakwah, maka Islam tegak dengan tegaknya Daulah Madinah yang kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia dengan sistem khilafah Islamiyahnya. 

Wahai kaum muslimin, yakinlah dengan janji Allah berikut : 

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. [QS An Nuur : 55].

Dan (telah menjanjikan pula kemenangan-kemenangan) yang lain (atas negeri-negeri) yang kamu belum dapat menguasainya yang sungguh Allah telah menentukan-Nya. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu [QS Al Fath : 21]. 

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat [QS An Nasr : 1-3]. 

Jadi, wahai para pejuang agama Allah, hapus air matamu, serahkan semuanya kepada Allah dan teruslah berjuang hingga tetes darah terakhir. Teruslah berjuang hingga ajal menjeput kita. Saat kita mengambil jalan dakwah, itulah kemenangan sejati, saat berdiri sebagai penghalang, itulah kekalahan dan kehinaan dunia akherat.[]


Oleh: Ahmad Sastra
Dosen Filsafat
Powered by Blogger.