Belum pernah  ditemukan dokumen di arsip Ottoman bukan berarti tidak ada hubungan antara Khilafah Utsmani dengan kesultanan-kesultanan di Jawa.


"Hanya karena saya tidak menemukan dokumennya di arsip Ottoman, saya tidak akan menyatakan hubungan (Kekhilafahan) Ustmani dengan (kesultanan) di Jawa tidak ada," tutur sejarawan Dr. Ismail Hakkı Kadı dalam wawancara dengan Anadolu Agency , Kamis (27/08/2020) di Turki.

Menurutnya, ungkapan "belum menemukan dokumen" berbeda dengan "relasi itu tidak ada sama sekali". Karena, kalimat "belum menemukan dokumen" memiliki dua kemungkinan. 

Pertama, mungkin saja relasi itu ada namun tidak tercatat dalam dokumen resmi Utsmani. Kedua, mungkin juga dokumen resmi itu memang ada, tetapi belum ditemukan selama penelitian yang dilakukannya.

"Mengapa saya mengambil pendekatan yang hati-hati seperti ini. Misalnya dalam buku yang ditulis Ricklefs berjudul Mystical Sentences in Java seorang bernama Ibrahim digambarkan sebagai utusan Utsmani yang melakukan peran mediasi antara Kesultanan Yogyakarta dengan Belanda pada 1750-an," bebernya.

Ia menjelaskan, informasi dari buku Ricklefs Ibrahim menyatakan dirinya adalah utusan Ustmani. Nama Ibrahim ini tercantum pada sumber-sumber berbahasa Belanda, Perancis, dan Jawa.

"Tentu saja kami tidak langsung menerima apa yang diklaim oleh Ibrahim," tambahnya.

Dikisahkan Ibrahim berhasil membujuk rakyat Jawa dan Belanda dan mengaku bahwa dirinya adalah utusan Ustmani. Namun, sejarawan Turki tersebut membantah, tidak ada tugas seperti itu yang diberikan oleh Utsmani. Karena tidak menemukan dokumen terkait Ibrahim di arsip Ottoman.

"Tapi, seperti yang saya katakan kita perlu bersikap hati-hati. Perlu ditekankan kembali bahwa berisiko jika kita mengatakan hubungan tersebut tidak ada. Dikarenakan belum menemukan dokumennya dan juga mengatakan hubungan itu ada, tetapi tidak menunjukkan bukti sama sekali," pungkasnya.[]

Post a Comment

Powered by Blogger.