Menjelang 17 Agustus, masyarakat Indonesia biasanya mulai disibukkan dengan berbagai kegiatan dalam rangka memeriahkan hari kemerdekaan. Mulai dari latihan paskibraka, lomba baris-berbaris, hingga lomba makan kerupuk yang menghibur. Akan tetapi semenjak pandemi mendera, tak banyak yang bisa dilakukan oleh warga mengingat himbauan untuk menjaga jarak (social distancing) masih berlaku. Di sisi lain New Normal life pun menyisakan banyak permasalahan ketidakpatuhan warga terhadap AKB (Adaptasi Kebiasaan Baru) sehingga kemeriahan hari kemerdekaan menjadi suatu hal yang seolah tabu untuk diadakan.

Berkaitan dengan hal itu, beberapa daerah telah mengeluarkan aturan berupa Surat Edaran yang berisi larangan untuk mengadakan lomba atau kerumunan massa. Misalnya saja Pemerintah Kota Padang, Sumatera Barat, melarang warga mengadakan lomba pada 17 Agustus 2020. 

Pelarangan kegiatan lomba tersebut tertuang dalam Surat Edaran Wali Kota Padang Nomor : 200/463/Kesbangpol/2020 tentang partisipasi menyemarakkan HUT ke-75 RI.
Surat Edaran Wali Kota Padang tersebut menindaklanjuti Surat Edaran Menteri/Sekretaris Negara Nomor B-457/M. Sesneg/Set/TU.00.04/06/2020 tanggal 23 Juni 2020. Surat Edaran Mensesneg itu perihal partisipasi menyemarakkan peringatan HUT ke-75 RI.

"Larangan mengadakan kegiatan lomba dalam arti kata untuk mendatangkan orang banyak, " ujar Wali Kota Padang Mahyeldi dalam surat edaran yang diterima Kompas.com, Senin (10/8/2020).

Meski demikian, masih ada pula beberapa daerah yang tetap menggelar ritual peringatan hari kemerdekaan RI seperti upacara dan lomba-lomba yang menghibur dengan memperhatikan protokol kesehatan. Hal ini menunjukkan animo masyarakat yang masih tinggi terhadap peringatan hari kemerdekaan negerinya.

=====

Mengapa spirit untuk memperingati hari kemerdekaan masih tinggi di tengah masyarakat? Padahal realitas menunjukkan bahwa negeri ini masih jauh dari kata merdeka. Karut-marutnya problematika di berbagai bidang kehidupan sungguh tak bisa dipungkiri, ditambah kondisi pandemi yang semakin membuka kedok penguasa yang tak amanah urus rakyatnya. Ancaman resesi ekonomi, maraknya kekerasan seksual, tingginya angka kriminalitas, dan fenomena dinasti politik mewarnai kehidupan bernegara saat ini. Lalu, apakah kondisi demikian melayakkan kita untuk dikatakan merdeka?

Memang benar, mengenang jasa para pahlawan mungkin menjadi alasan utama bagi sebagian besar orang yang memperingati kemerdekaan republik ini. Akan tetapi, bukankah sebuah pengkhianatan terhadap perjuangan para pahlawan kemerdekaan namanya ketika aset kekayaan negeri satu per satu berpindah ke tangan asing dan aseng? Sungguh negeri ini masih dijajah oleh musuh tak kasat mata. Dan sayangnya, mereka menetapkan agen-agennya di dalam negeri ini sendiri yang menjadi musuh dalam selimut demi memuluskan jalan penguasaan atas negeri. Inilah penjajahan gaya baru neokolonialisme yang melahirkan praktik ekonomi neoliberalisme, kehidupan serba bebas tanpa adanya keterlibatan Sang Pencipta. Penjajahan ini lebih berbahaya dan lebih banyak memakan korban dibanding penjajahan fisik dengan mengangkat senjata.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia kata merdeka bermakna bebas (dari perhambaan, penjajahan, dsb); berdiri sendiri; tidak terkena atau lepas dari tuntutan; tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu. Lalu bagaimana definisi merdeka dalam pandangan Islam?
Dalam banyak ayat Alquran Allah Telah banyak Menerangkan arti dari kata merdeka, seperti dalam ayat berikut ini:

“Dan Sesungguhnya telah Kami Muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (TQS. Al-Isra’ : 70)

Dan juga dalam sebuah atsar (riwayat) disebutkan, ketika Rib’i bin Amir radhiyallahu anhu, salah seorang utusan pasukan Islam dalam perang Qadishiyah ditanya tentang perihal kedatangannya oleh Rustum, panglima pasukan Persia, ia menjawab, “Allah mengutus kami (Rasul) untuk memerdekakan manusia dari penghambaan manusia kepada manusia menuju penghambaan manusia kepada Rabb manusia, dari sempitnya kehidupan dunia kepada kelapangannya, dari ketidakadilan agama-agama yang ada kepada keadilan Islam.” (Lihat Al-Jihad Sabiluna hal. 119). Sumber dari: https://wahdah.or.id/kemerdekaan-dalam-bingkai-islam/

Kedua dalil di atas menunjukkan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan merdeka sesuai fitrahnya, yaitu sebaik-baik ciptaan Allah subhaanahu wata'ala, dengan kelebihan berupa akal pikiran dibanding makhluk yang lain. Dengan akal itulah manusia dapat memikirkan tanda-tanda kebesaran Penciptanya dengan memperhatikan ciptaan-nya.

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal." (TQS. Ali Imran: 190)

Dengan akal yang digunakan untuk memperhatikan keteraturan ciptaan-nya pulalah maka manusia akan menyadari bahwa Allah swt adalah Maha Pengatur (Al-Mudabbir).

 "Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang ?". (TQS Al Mulk :3)

Dari sini maka jelaslah bahwa manusia dikatakan merdeka ketika ia telah menemukan dan menghadirkan Pencipta-Nya dalam kehidupan, dengan menerapkan syari'atNya secara sempurna yang akan menjamin aqidah, darah, kehormatan, dan juga kesejahteraan hidup tanpa tergantung kepada pihak lain apalagi musuh-musuh Islam.

Lalu, bagaimana manifestasi kehadiran Pencipta dalam kehidupan? Tentunya hanya dapat terealisasi dalam bingkai sistem Islam, yaitu Khilafah. Telah banyak bukti yang menunjukkan bahwa Khilafah telah melahirkan peradaban Islam yang tinggi dan disegani masyarakat dunia kala itu. Tak tanggung-tanggung, 14 abad lamanya peradaban ini bertahan hingga musuh laknat perlahan meruntuhkannya melalui agen munafik Mustafa Kemal di Turki Utsmani. Bahkan jejak Khilafah tampak nyata di nusantara dengan hadirnya para wali utusan Khilafah yang lebih dikenal dengan wali songo di tanah Jawa, kesultanan Samudera Pasai hingga Kesultanan Ternate Tidore.

Demikianlah gambaran kemerdekaan hakiki yang hanya bisa diraih dengan menerapkan sistem Islam dalam naungan Khilafah atas jalan kenabian. Rasa-rasanya selama ini kita hanya menipu diri dengan kemerdekaan semu, dan harus segera sadar untuk meraih kebangkitan hakiki. Maha Suci Allah Yang Telah Memerdekakan manusia dari penghambaan terhadap selain-Nya. Wallaahu a'lam.

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (TQS. Al Maidah: 3).[]

Oleh: Lely Herawati 

Praktisi Pendidikan dan Aktivis Muslimah Pecinta Islam 

Post a Comment

Powered by Blogger.