Sudah menjadi rahasia umum di antara orang-orang Belanda, bahwa banyak Sultan di Nusantara yang berbaiat kepada Khalifah di Istanbul, yang berarti bahwa semua Muslim berada di bawah kekuasaan Sultan tersebut akan menjadi warga negara Khilafah Utsmani. Hal itu terungkap dalam artikel-artikel dari berbagai media massa kuno Belanda dari tahun 1618-1995 yang diterbitkan secara resmi oleh pemerintah Belanda melalui Perpustakaan Kerajaan Belanda.


“Surat kabar lama tersebut bisa memberikan informasi tentang peristiwa-peristiwa bersejarah yang ditulis pada saat peristiwa tersebut terjadi, sebelum ada pihak yang sempat duduk dan memikirkan bagaimana peristiwa tersebut ingin diingat oleh sejarah,” tulis SeraaMedia (www.seraamedia.org), 23 Mei 2017.

Bahkan, meskipun akhirnya kesultanan-kesultanan di Nusantara berhasil diinvasi Belanda, tetapi hubungan Nusantara dengan Khilafah Utsmani tak sepenuhnya putus. Berikut beberapa penggalan artikel dari beberapa media massa kuno Belanda yang dikutip SeraaMedia untuk mendukung pernyataan di atas.

Umat Islam di Aceh sangat menyadari status mereka. Surat kabar Sumatra Post menulis tentang hal ini pada tahun 1922:

“Sesungguhnya orang Mohammedan [maksudnya Islam] Aceh mengakui Khalifah di Istanbul.”

Tapi tidak hanya itu, mereka juga menyadari fakta bahwa tanah mereka adalah bagian dari Khilafah Utsmani. Inilah salah satu alasan perlawanan sengit mereka terhadap Belanda, sebagaimana yang diakui oleh surat kabar Sumatra Post pada tahun 1922:
“Hari ini, serangan terjadi sebagai hasil dari mentalitas yang dipengaruhi oleh gagasan Perang Suci. [maksudnya jihad].”


Pan-Islamisme: Konsul Belanda di Konstantinopel telah memperingatkan pemerintahnya bahwa utusan Mohammedan secara rahasia telah dikirim dari Turki ke Indonesia, dengan tugas untuk memotivasi orang-orang Mohammedan (untuk memberontak).” 

Artikel di surat kabar Het Nieuws van den Dag Voor Nederlandsch-Indiƫ, 11 November 1912.

Pan-Islamisme adalah sebuah gerakan untuk menyatukan kaum Muslimin di seluruh dunia yang digagas Sultan Abdul Hamid II setelah dirinya dibaiat menjadi Khalifah pada 1876 Masehi. Pasalnya, negeri-negeri Islam yang tadinya sudah bersatu di bawah naungan Khilafah Utsmani semasa Khalifah Sultan Sulaiman Al-Qanuni (wafat pada 1566 Masehi), satu per satu lepas ke tangan penjajah tak terkecuali kesultanan-kesultanan di Nusantara. 

Namun, meski di bawah pendudukan Belanda, ternyata kaum Muslimin di Nusantara tetap berupaya menyambut Pan-Islamisme tersebut. Salah satunya dibuktikan dengan adanya kontak reguler antara Muslim Aceh dan Khalifah di Istanbul. Misalnya, Muslim Aceh mengirim delegasi ke Khalifah untuk memberitahukan situasi mereka, meminta bantuan dan dukungan.

Pada tahun 1915 lagi, Sumatra Post menyebutkan satu delegasi tersebut, dikirimi ke Istanbul pada tahun 1868:

“Ada kontak langsung antara penduduk asli Aceh dan pemerintah Turki. (…) Tidak kurang dari 68 bangsawan (…) memohon (…) kepada Khalifah selama tahun 1868 untuk ‘membebaskan mereka dari pendudukan asing, yaitu Belanda’. Karena, kata mereka, ‘[pendudukan mereka] semakin besar dan berbahaya dari hari ke hari, dan akan tiba saatnya mereka mengendalikan seluruh Aceh’. Karena itu, mereka, orang Aceh, meminta ‘pengiriman tentara dan pejuang, dan untuk mengumumkan kepada semua orang asing bahwa kita (orang Aceh) berada di bawah perlindungan dan merupakan warga Khalifah’.”

Sedangkan surat kabar Nieuw Tilburgsche Courant melaporkan pada tahun 1899 bahwa Khilafah memberikan pendidikan kepada anak-anak dari berbagai sultan, untuk mendukung perlawanan mereka terhadap Belanda:

“Selama beberapa hari terakhir, seorang koresponden di Constantinopel melaporkan bahwa tujuh anak laki-laki bangsawan telah sampai di sana dan diperkenalkan ke menteri pendidikan, karena mereka harus mengikuti kursus pendidikan tinggi. (…) Orang-orang Muslim dari Jawa, menurut laporan koresponden, telah mengirim surat kepada Sultan (Khalifah) yang berisi ucapan terima kasih karena telah membawa anak-anak mereka ke sekolah-sekolah di Khilafah. (…) Sebagai konsekuensinya, empat belas pemuda dari Indonesia menerima pendidikan Mohammedan yang keras, dengan dibayar penuh oleh Sultan Constantinopel. Begitu mereka kembali ke tanah air, setelah mendalami ajaran Islam, mereka akan menjadi pejuang alami untuk Al-Quran, melawan ‘anjing-anjing Kristen’ yang memerintah negara mereka. (…)Di sini, lihatlah bahaya Pan-Islamisme di provinsi Timur kita. (…) Belanda sendiri turut bersalah atas tersebarnya masalah yang diinspirasi oleh paham Pan-Islamisme. Sebab, sudah terlalu lama mereka ragu untuk mendukung penyebaran agama Kristen, satu-satunya metode yang efektif melawan Islam.

Khalifah juga mengirim perwakilan ke Indonesia untuk mendukung kaum Muslimin. Surat kabar Het Nieuws van den Dag, misalnya, melaporkan mengenai Konsulat Khilafah Utsmani di Batavia (Jakarta) yang mendukung gerakan Pan-Islamisme:

“Di Indonesia hanya ada satu konsul, di Batavia, dan dia telah menunjukkan cukup banyak antusiasme terhadap Pan-Islamisme. Oleh karena itu, pemerintah memintanya untuk diganti.”

Sebelum dijajah Belanda, Batavia (Jaya Karta) adalah bagian dari Kesultanan Demak. Kesultanan Demak berdiri pada 1479 M ditandai dengan dikukuhkannya Raden Patah, sebagai Sultan Demak pertama yang bergelar Khalifatullah ing Tanah Jawa, perwakilan Kekhalifahan Islam (Turki) untuk Tanah Jawa yang diangkat oleh Sultan Muhammad Al-Fatih (1451-1481). 

Surat kabar yang sama menginformasikan pembacanya pada tahun 1912 bahwa Khalifah mengirim misi rahasia ke Indonesia untuk mendukung Muslim Indonesia:

“Konsul Belanda di Konstantinopel telah memperingatkan pemerintahnya bahwa utusan Mohammedan telah dikirim dari Turki ke Belanda Indonesia, dengan tugas memotivasi orang-orang Mohammedan (untuk memberontak).”

Kerja sama juga terjadi sebaliknya. Mengenai keputusan Khalifah untuk membangun kereta api Hejaaz, surat kabar Het Nieuws van den Dag mengatakan pada tahun 1905:

“Raja Boni (Sultan Bone/Sulsel) telah memberi 200 poundsterling untuk mendukung pembangunan kereta api Hijaz ke tempat-tempat suci Islam. (…) Pada saat yang sama, utusan tersebut memberi surat dari penguasa Boni kepada (Khalifah), dia meminta Khalifah untuk mendukung dirinya dan sekutunya, dalam kesulitan mereka melawan penguasa Belanda.”

“Pan-Islamisme di provinsi wilayah Timur kita: Raja Boni (Sultan Bone/Sulsel) telah memberi 200 poundsterling untuk mendukung pembangunan kereta api Hijaz ke tempat-tempat suci Islam.”
 Artikel di surat kabar Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-IndiĆ«, 17 Juli 1905.
 
Karena dekatnya hubungan antara Muslim Indonesia dan Khilafah Utsmani, para analis di Belanda mulai khawatir ketika Inggris dan Prancis mulai melakukan kejahatan terhadap Muslim di negeri Islam lainnya:

“Saya khawatir orang-orang Mohammedan [di wilayah yang kita kuasai] akan merasakan ketidakadilan yang sedang dilakukan saat ini. Pemberontakan dan ketidakpuasan akan semakin meningkat, di Belanda juga Indonesia.”

Begitulah, meskipun secara formal, Nusantara di bawah kendali Belanda dan bukan lagi bagian Khilafah Utsmani, namun berita-berita tersebut memberikan gambaran bahwa secara informal masih satu kesatuan sehingga betapa khawatirnya Belanda melihat hubungan Nusantara dengan Khilafah yang masih terjalin erat.[] 


Oleh: Joko Prasetyo

Dimuat pada rubrik KISAH Tabloid Media Umat Edisi 234 (Awal Januari 2019)

Post a Comment

Powered by Blogger.