Pasca runtuhnya Khilafah Utsmaniyah pada 1924 M, umat Islam mengalami banyak problematika kehidupan. Mulai dari kemiskinan, kebodohan, kelaparan, pengusiran dan sebagainya. 

Kemunduran yang dirasakan umat semakin hari semakin jauh. Hingga muncullah berbagai upaya untuk menyadarkan umat untuk bangkit dari keterpurukan.

Mulailah di tengah umat muncul jama'ah dakwah dan partai politik Islam. Sebuah Upaya untuk membangkitkan kejayaan peradaban umat Islam seperti semula. Agar rahmatan Lil 'alamin terealisasi nyata.

Umat menyadari pentingnya membentuk jama'ah dakwah dan parpol Islam. Sebagai fardhu kifayah mengemban Risalah Islam, menyeru kepada yang ma'ruf dan mencegah kemungkaran. Karena Allah SWT juga berfirman: 

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS. Ali Imran: 104).

Parpol Islam dan Kegagalannya

Namun seiring berjalannya waktu, tak ada satu pun jama'ah dakwah dan parpol Islam yang berhasil membangkitkan kesadaran umat. Yang ada justru parpol-parpol Islam di negeri umat Islam terjebak dalam kontestasi pemilu ala sistem demokrasi kapitalis.

Terjebak dalam pragmatisme, mencari suara terbanyak agar mendapat jatah kursi di pemerintahan. Dan akhirnya lupa dengan murninya perjuangan menegakkan Islam dalam seluruh aspek kehidupan.

Kalaupun ada parpol islam yang berhasil mendapat suara terbanyak di parlemen. Ujung-ujung dikudeta oleh pihak militer. Sebagaimana yang pernah dialami oleh Ikhwanul Muslimin di Mesir, partai FIS di Al Zajair serta partai Refah di Turki.

Semua kejadian pahit yang menimpa parpol berasaskan Islam tersebut akibat keterlibatan mereka dalam sistem kontestasi demokrasi. Bahwa sejak awal kelahirannya demokrasi tidak akan pernah mau menerima agama sebagai landasan bernegara.

Demokrasi sebuah sistem pemerintahan barat yang menjamin empat kebebasan. Yaitu kebebasan berkeyakinan, berkepemilikan, berperilaku dan kebebasan berpendapat. Sehingga dengan dalih kebebasan, aturan Tuhan ditiadakan. Yang ada hanyalah sekulerisme. Pemisahan agama dalam kehidupan masyarakat dan bernegara.

Partai Islam Harus Mengambil Metode Nabi

Belajar dari kegagalan banyak parpol Islam tersebut. Tentu umat harus menyadari bahwa kemenangan dan keberkahan hanya pada sisi Allah SWT dan RosulNya. Dengan kembali mengambil metode dakwah Nabi. Mencampakkan sistem demokrasi sebagai jalan meraih kemenangan.

Metode dakwah yang bisa kita pahami dari Siroh perjuangan Baginda Rasulullah Saw dalam berdakwah adalah tauladan utama. Ada tiga metode dakwah Baginda yang wajib kita ambil jika ingin meraih kebangkitan umat yang hakiki.

Pertama, tasqif. Sebuah upaya membentuk kader-kader dakwah yang berkepribadian Islam. Memiliki pola pikir dan pola sikap Islam. 

Pembinaan dilakukan dengan aqidah dan tsaqofah Islam. Sehingga terlahir pejuang-pejuang Islam yang Muhlis al-khalis. Siap dan rela berkorban untuk Islam dan umat. Serta memiliki pemikiran yang benar dan cemerlang.

Kedua, tafa'ul ma'al ummah. Menginteraksikan ide-ide Islam dan menentang segala kemunkaran di tengah umat. Sehingga umat secara mayoritas menjadi pendukung perjuangan Islam Kaffah. Terutama hal ini penting bagi para tokoh umat agar menjadi pelindung dan pejuang Islam Kaffah.

Ketiga, istilamul hukmi. Hal ini ditandai dengan semakin kuat dukungan umat terhadap perjuangan Islam Kaffah. Sehingga umat siap diterapkan Syari'at Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Umat menyerahkan kekuasaan dan berjuang menegakkan Peradaban Islam dalam bingkai Khilafah. Umat siap menjadi pelindung bagi lahirnya peradaban Islam yang gemilang. Berkorban dengan pikiran, harta, tenaga bahkan nyawa untuk menjaga institusi Daulah Khilafah.

Demikianlah jika partai politik Islam menginginkan kemenangan yang berkah. Kemenangan bagi umat dan peradaban mulia. Mengambil metode dakwah nabi Muhammad SAW adalah jalan satu-satunya. Parpol Islam harus segera keluar dari jebakan sistem demokrasi buatan penjajah. Wallahu a'lalm Bu ash-showab.[]

Oleh: Najah Ummu Salamah
Forum Peduli Generasi dan Peradaban

Post a Comment

Powered by Blogger.