"Marilah kita menjadi orang kesekian juta yang mengikuti pemutaran film Jejak Khilafah di Nusantara ini, semoga ini menjadi salah satu washilah kita lebih mengenal Islam dan peduli kepada umatnya," ajaknya melalui, Ahad (16/8/2020).

Menurutnya, umat Islam tidak boleh melewatkan ini, apalagi kekuatan global telah melakukan berbagai manuver untuk menggagalkan pemutarannya. "Termasuk usaha mereka adalah menggagalkan pemutaran film ini. Mereka melakukan berbagai upaya, dari melalui teknologi informasi, pencemaran nama baik tim pembuatnya, hingga intimidasi secara langsung kepada berbagai pihak yang terlibat," tandasnya.

Bahkan Fahmi menyebut beberapa tokoh cendekiawan mengundurkan diri dan menyatakan tidak terlibat dalam pembuatan film ini. Sebuah ketakutan munculnya kekuatan publik menuntut warisan pusaka nenek moyang mereka dikembalikan lagi, menghadirkan Islam kembali ke tengah kehidupan.

Fahmi menjelaskan bahwa warisan pusaka itu telah dikaburkan dan berusaha dikuburkan dalam-dalam oleh penjajah. Semua itu adalah upaya untuk mengkerdilkan umat Islam. "Ini semua agar kita tidak menuntut pusaka warisan itu, bahkan agar kita tetap rendah diri karena menyangka kita terpuruk seperti sekarang ini memang karena faktor genetis, keturunan orang-orang yang terbelakang," jelasnya.

Film ini disinyalir akan mengembalikan ingatan umat Islam, "Film Jejak Khilafah di Nusantara ini akan mengajak kita untuk mengingat-ingat, bahwa kita pernah memiliki nenek moyang yang hebat dan mewariskan pusaka peradaban yang juga cemerlang. Dan kita perlu tahu, bahwa kehebatan itu dulu by design, karena kita bersentuhan dengan peradaban yang hebat, yakni peradaban Islam, yang diemban oleh para khalifah, sejak era Khulafaur Rasyidin, hingga Khilafah Utsmani yang akhirnya runtuh tahun 1924," pungkasnya.[]