Pandemi Covid-19 yang kini sudah mencapai 19,2 juta kasus di seluruh dunia, telah menghantam roda perekonomian secara global, bahkan sebagian besar negara mengalami resesi. Hingga saat ini tercatat 9 negara yang telah mengalami resesi.


Pertama, Amerika Serikat (AS). Amerika Serikat berada di jurang resesi pada kuartal II 2020. Hal ini terjadi karena pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam negatif dalam dua kuartal berturut-turut. Pada kuartal I 2020, ekonomi AS sudah minus 5 persen. Lalu, turun 32,9 persen pada kuartal II 2020. Penurunan kinerja ekonomi  AS tersebut merupakan yang terburuk sejak 1974 masuk ke jurang resesi menyusul Jerman, Korea Selatan, hingga Singapura yang sudah lebih dulu merasakan kondisi tersebut. 

Jatuhnya ekonomi negara adidaya itu tak lepas dari tekanan pandemi virus corona atau covid-19. Data Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organizations/WHO) mencatat AS merupakan negara dengan jumlah kasus positif virus corona terbanyak di dunia, yaitu mencapai 4,32 juta kasus per hari ini.(cnnindonesia.com, 30/7/2020)

Kedua, Jerman. Perekonomian negara tersebut mengalami kontraksi paling tajam pada kuartal II 2020. Ini menyusul pertumbuhan ekonomi minus yang telah dialami Jerman pada kuartal I 2020.

Dilansir dari Reuters, Jumat (31/7/2020), merosotnya perekonomian Jerman disebabkan anjloknya belanja konsumen, investasi korporasi, dan ekspor akibat pandemi virus corona. Pertumbuhan ekonomi yang dinikmati Jerman selama hampir 10 tahun pun lenyap.

Kantor Statistik Federal Jerman menyatakan, pertumbuhan ekonomi Jerman minus 10,1 persen pada kuartal II 2020. Adapun pada kuartal sebelumnya, pertumbuhan ekonomi Jerman dilaporkan minus 2 persen. Angka pada kuartal II 2020 tersebut merupakan yang terendah sejak Kantor Statistik Federal mengumpulkan data pertumbuhan ekonomi Jerman per kuartal pada tahun 1970.(kompas.com, 31/7/2020)

Ketiga, Prancis. Negara tersebut menyatakan pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi atau minus 13,8 persen pada kuartal II 2020 akibat dampak penerapan karantina (lockdown) di masa pandemi corona. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi Perancis dalam tiga kuartal terakhir mengalami kontraksi. Pencapaian pada kuartal II 2020 ini menunjukkan Perancis telah mengalami kontraksi selama tiga kuartal berturut-turut dan kian masuk kian dalam jurang resesi.(cnnindonesia.com, 31/7/2020)

Keempat, Italia. Negara dengan nilai perekonomian terbesari di zona euro ini mengalami kontraksi ekonomi 12,4% QtQ, di kuartal II-2020. Italia bahkan sudah mengalami kontraksi dalam tiga kuartal beruntun, alias PDB minus sejak kuartal IV-2019. Artinya di kuartal I-2020 Italia sudah mengalami resesi teknikal. Sementara secara YoY, PDB di kuartal II-2020 minus 17,3%, sementara di kuartal sebelumnya -5,5% YoY. Dengan kontraksi ekonomi 2 kuartal beruntun secera YoY, Negeri Pizza resmi mengalami resesi.(cnbcindonesia.com, 31/7/2020)

Kelima, Korea Selatan. Perekonomian Korea Selatan pada kuartal II tahun ini masuk ke dalam jurang resesi akibat dampak padnemi virus corona (Covid-19). Negara dengan perekonomian terbesar keempat di Asia tersebut menyusut 3,3 persen pada kuartal II yang berakhir pada bulan Juni, jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Bank of Korea menyatakan, kontraksi tersebut merupakan yang paling tajam sejak 1998.(kompas.com, 23/7/2020)

Begitu pula dengan 4 negara yang tercatat mengalami resesi di masa pandemi saat ini. Lantas, apakah Indonesia sudah memasuki fase resesi? Badan Pusat Statistik mencatat perekonomian Indonesia pada kuartal II 2020 terkontraksi atau negatif hingga mencapai 5,32% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, lebih buruk dari proyeksi pemerintah negatif sebesar 4,32%. Ekonomi juga tercatat negatif 4,19% dibandingkan kuartal I 2020 dan minus 1,62% pada sepanjang semester pertama tahun ini dibandingkan semester I 2019. Pengamat Ekonomi Institut Kajian Strategis Universitas Kebangsaan RI Eric Sugandi mengatakan dengan pertumbuhan yang negatif pada kuartal II 2020, Indonesia sudah otomatis masuk ke dalam resesi teknikal.

Ia menjelaskan resesi teknikal merupakan kondisi pertumbuhan ekonomi dua kuartal berturut-turut mengalami kontraksi.(katadata.co.id, 5/8/2020)

Beginilah, sistem perekonomian global saat ini dalam menghadapi problematika kritis. Upaya menyelamatkan roda ekonomi di satu negara pun tak mampu berdiri tegak, bahkan memperparah ekonomi negara lain. Disebabkan standar moneter pada saat ini tidak dikembalikan kepada mekanisme manual.

Menurut Merriam Webster, resesi ekonomi adalah penurunan tren di siklus bisnis, salah satunya ditandai dengan adanya penurunan produksi dan tenaga kerja. Tren ini menekan pendapatan dan belanja rumah tangga yang memicu penundaan investasi atau pembelian barang di sisi bisnis dan rumah tangga. Resesi pun dapat terbatas secara geografis, misalnya hanya terjadi di satu negara saja.

Jika dilihat secara teknikal, resesi ditandai dengan penurunan PDB sampai minus selama dua kuartal berturut-turut. Contoh kasus resesi di dunia adalah krisis sub-prime mortgage 2008 dan krisis Yunani.

Sedangkan depresi adalah penurunan signifikan di dalam siklus bisnis. Penurunan ini lebih parah dan dalam dibandingkan siklus di dalam resesi. Depresi dapat dikatakan sebagai resesi dalam siklus yang panjang. Depresi ekonomi ditandai dengan merebaknya jumlah pengangguran, penurunan serius di sektor konstruksi dan penurunan tajam di perdagangan internasional dan pergerakan aliran modal.

Depresi menjangkau wilayah yang lebih luas dalam tatanan global. Tanda-tanda depresi adalah ketika angka PDB terkontraksi hingga 10 persen lebih. Contoh kondisi depresi, yaitu Great Depression pada tahun 1930-an dan Long Depression pada 1870-1890-an.

Mengutip Fortune, dalam istilah resesi, penurunan PDB berada di kisaran -0,3% hingga -5,1%. Sedangkan dalam istilah depresi, penurunan PBD berada di kisaran -14,7% hingga -38,1%. Penurunan PBD teburuk (-38,1%) terjadi pada Januari 1920- Januari 1921. Untuk penurunan PBD paling rendah berada di -14,7% terjadi pada Januari 1910-Januari 1912. Secara sekilas, nampak bila penurunan PBD pada depresi ekonomi jauh lebih buruh dari pada resesi.

Selain perbedaan besar penurunan PBD, jangka waktu krisis juga menentukan perbedaan antara resesi dengan depresi. Pada resesi, jangka waktu/ lamanya krisis berlangsung selama 6-18 bulan. Sedangkan untuk depresi, lamanya krisis berlangsung antara 18-43 bulan. Dengan kata lain, depresi ekonomi merupakan kondisi yang jauh lebih parah dari resesi.

Berdasarkan hal tersebut di atas, bagaimana dengan nasib ekonomi Indonesia? Indonesia lebih tepat dimasukkan ke dalam kategori mana? Resesi atau Depresi? Indonesia pun sama, tak lebih unggul dari negara-negara yang telah mengalami dan mengumumkan resesi. Bahkan di Indonesia tingkat pengangguran meningkat sebelum terjadi pandemi dan semakin kritis ketika pandemi melanda.

Dapat disimpulkan bahwa potensi resesi ekonomi dunia, tak terkecuali berdampak pada Indonesia. Kemungkinan besar terjadi dan semakin parah, jika wabah Covid-19 ini terus berkepanjangan. Pada dasarnya, resesi dipicu karena bermuaranya sistem ekonomi kapitalisme yang diterapkan. Fakta menunjukan bahwa sektor keuangan saat ini lebih banyak mengancam perkembangan sektor riil. Tanpa adanya perubahan sistem, potensi resesi bahkan depresi, dan krisis akan terus mengacaukan ekonomi global.

Solusikan dengan Islam

Semua permasalahan bermuara dari diterapkannya Sistem Kapitalisme, dengan prinsip 4 kebebasan (perilaku, pendapat, beragama dan kepemilikan), termasuk pada aspek ekonomi. Sudah seharusnya dan selayaknya sistem ekonomi kapitalis diganti dengan sistem ekonomi Islam. Politik Ekonomi  Islam bertujuan untuk memberikan jaminan pemenuhan pokok setiap warga negara (Muslim dan non-Muslim) sekaligus mendorong mereka agar dapat memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier sesuai dengan kadar individu yang bersangkutan yang hidup dalam masyarakat tertentu.

Pertama, dengan membumihanguskan ekonomi ribawi.

Kedua, mengubah dominasi dolar dengan sistem moneter berbasis dinar dan dirham.

Ketiga, mengganti perputaran kekayaan di sektor non-riil atau sektor moneter yang menjadikan uang sebagai komoditas menjadi ke arah sektor riil.

Keempat, dengan menghidupkan sistem distribusi. Dengan pendekatan sosial, yaitu zakat, infak, sedekah, waris, dan lain-lain. Komersial, yaitu jual-beli, sewa, kerja sama bisnis. Juga dengan menghilangkan praktek penimbunan.

Kelima, sumber perekonomian negara harus bertumpu pada empat sektor, yakni pertanian, perdagangan, industri, dan jasa. Ditambah harta milik umum yang dikelola negara maupun harta milik negara itu sendiri.

Keenam, disiapkannya pos khusus untuk mencegah krisis akibat bencana maupun perang.

Ketujuh, jika kas Baitulmal mengalami kekosongan dan pos khusus tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dalam negeri, maka negara boleh untuk memungut pajak hanya kepada orang kaya, laki-laki, dewasa, dan Muslim.

Langkah-langkah tersebut dapat diwujudkan dengan adanya Daulah Islam, yakni Khilafah. Ditegakkan oleh kaum muslimin dan ini juga menjadi bisyarah (berita gembira) dari Rasulullah Saw., adalah Daulah Khilafah yang memiliki karakter seperti Daulah Nabawiyah, yang disebut Rasul Saw., sesuai dengan minhaj kenabian (ala minhajin nubuwwah). Tidak  mungkin apa yang menjadi bisyarah Rasul Saw., dianggap sebagai sesuatu yang mustahil ditegakkan. Wallaahu a'lam bish-shawwab.[]

Oleh: Fitria Zakiyatul Fauziyah Ch
Cimalaka, Sumedang

Post a Comment

Powered by Blogger.