Foto: historia.id

Posisi Khilafah Utsmani semakin terjepit, wilayahnya di berbagai belahan bumi dijajah. Di Nusantara misalnya, Kesultanan Temasek (sekarang Singapura) dicaplok penjajah Inggris, sedangkan Batavia (sekarang Jakarta) sudah dicengkeram Belanda sejak Kesultanan Demak dihancurkan Kompeni tersebut. Sehingga terpaksalah Khilafah membuka kantor konsulat di Singapura pada 1864 dan di Batavia pada 1883.


Untung saja Kesultanan Jambi masih bisa bertahan melawan penjajahan Belanda yang sudah berlangsung setengah abad. Karena sudah kewalahan melawan Belanda, Sultan Thaha Safiuddin (1816-1909) pada 1903, mengirim utusan ke Singapura untuk bertemu dengan Konsul Khilafah Ahmet Attaullah Effendi, agar ia menyambung pesannya kepada Khalifah Kaum Muslimin Sultan Abdülhamid II, untuk menolong Jambi dari rongrongan orang-orang kafir. 

Surat Sultan Thaha Jambi diterima oleh Sultan Abdülhamid II pada 1904, dan dengan segera ia memanggil Konsul Belanda di Konstantinopel agar menghadapnya di Istana Yildiz, Turki. Khalifah menyampaikan bahwa ia mendapat surat dari seorang pemimpin yang “tidak jauh dari Singapura” yang mengaku bahwa masjid-masjid telah dihancurkan dan kaum Muslim telah ditindas. 

Kembali ke Jambi, Sultan Thaha makin terdesak tatkala para pembantunya dapat ditundukkan Belanda, sampai akhirnya beliau syahid ditikam pedang kafir Belanda dalam pertempuran di Batung Dara ketika usianya mencapai 88 tahun. 

Lima bulan kemudian, pada September 1904, Jambi kedatangan Abdullah Yusuf, tentara utusan Khilafah Utsmani berkebangsaan Hungaria yang dulunya bernama Karl Hirsch. 

Abdullah Yusuf menegaskan bahwa dirinya memiliki tugas khusus dari Khalifah untuk membantu pertahanan Jambi. Semangat jihad pun kembali berkobar. Sayangnya, perang tak berlangsung lama, Yusuf beserta 19 pemimpin pemberontakan lain segera tertangkap oleh penjajah Belanda dan dibuang dalam pengasingan. 


ilustrasi pasukan Kekhilafahan Turki Utsmani, foto: detik.com


Muslim Condet

Bukan hanya di Singapura, Konsulat Khilafah di Batavia juga menjadi tempat kaum Muslimin mengadu. Konsul Utsmani di Batavia Rafet Bey, pada 25 Maret 1916 mendapat pengaduan dari pemuka warga Condet; Enthong Maliki, Enthong Gendut, dan Enthong Modin, untuk menghadapi kesewenang-wenangan Pemerintah Belanda kepada kaum Muslim di Batavia. 

Dalam suratnya kepada Rafet Bey, Enthong Maliki menulis:

“Djikaoe toean besar tiada toeloeng sama orang Moeslim, lebi baik sekalian orang Muslim, minta mati saja. Soesah sekali orang Moeslim poenja penghidoepan. Sekalian roemahnja orang Moeslim habis di bakar. Jang datang beka dan bakar itoe roma kira kira lebi dari 100 orang Toean Tanah Tjondet Oost (Condet Timur) peonja.” 

“Dan ada lagi orang Kampong toeloeng pekerdjaan sama toean tanah soedah di hoekoem, sesoedahnja di hoekoem toean Tanah minta bayaran. Djikaloe tida di bayar sama orang Kampong toean tanah lelang apa jang ada Dale roemanja dan di ambil roemahnja orangnja di pesisir.” 

“Kessian sekali orang Moeslim di ini Negri. Hamba harep padoeka toean besar poenja pertoeloengan. Djikaloe toean besar tiada toeloeng lebi baik orang Moeslim minta mati saja. Sebab jang datang merembak (menembak) dan bakar itoe remah ada Wedana, Mantri Politik (Polisi), Opas Djoeragan, Mandor dan laen laen orang Kompanian. Begitoe padoeka toean besar Konsol jang hamba mengadoe hal di Kampong Tjondet adanja.” 

(BOA, HR. SYS 2422/19, dikutip oleh Frial Ramadhan Supratman, Rafet Bey: The Last Ottoman Consul in Batavia During The First World War 1911-1924, (Studia Islamika, Vol. 24, no. 1, 2017), hal. 62).


ilustrasi pasukan Kekhilafahan Turki Utsmani. foto: m.kaskus.id

Perang Dunia I

Ketika Perang Dunia I meledak pada 1914, Khalifah setelah Abdülhamid II, Sultan Mehmed Resad V, menyatakan keikutsertaan negaranya dalam perang tersebut di pihak Jerman dan Austria sekaligus mendeklarasikan ‘jihad’ bagi seluruh kaum Muslimin. 

Konstantinopel juga menyebarluaskan propaganda ‘perang suci’ ini melalui konsulat-konsulatnya yang berada di negeri-negeri kaum Muslim di bawah penjajahan Eropa (Inggris dan Prancis), seperti Singapura, Penang, dan Swahili (Afrika Timur). Tak terkecuali di Batavia (di bawah penjajahan Belanda). Terjadi perang urat syaraf antara konsul Inggris bersama konsul Prancis dan Rusia terhadap konsul Jerman bersama konsul Utsmani. 

Belanda yang menyatakan sikap netralnya dalam Perang Dunia I tidak mau ikut-ikutan dalam konflik antara negara Sekutu dengan pihak Khilafah Utsmani-Jerman, namun Belanda tetap waspada khususnya dengan seruan jihad Sultan Mehmed V yang ditakutkan akan membangkitkan perlawanan kaum Muslim di Hindia Belanda terhadap kekuasaan Belanda. 

Tatkala satu pamflet yang dicetak di Konstantinopel pada Desember 1914 menyebut “Muslim Jawa” sebagai objek seruannya untuk membangkang pada kekuasaan kafir, Belanda kelabakan dan segera mengklarifikasi ke Konstantinopel dengan mengungkit posisinya yang netral dalam Perang Dunia I. Akhirnya Konstantinopel mengoreksi seruannya kembali enam bulan kemudian.

Mustafa Kamal Attaturk dan Refet Bele. Foto: pinterest.com


Rafet Bey selaku konsul Utsmani di Batavia mempunyai tugas khusus untuk membentuk opini umum kaum Muslim di Hindia Belanda dan meminta dukungan mereka agar Khilafah Utsmani dimenangkan dalam Perang Dunia I. Rafet Bey menulis artikel dalam koran Pantjaran Warta dalam bahasa Melayu yang isinya berupa pesan dari Sadrazam Khilafah, Said Halim Pasha. 

“Untuk kemajuan dan kejayaan kekuatan angkatan laut kita yang bertempur untuk kepentingan Allah di selat Dardanella, Dewan Kementrian berharap agar Sri Paduka Sultan ditambah namanya dengan gelar Gazi…” (BOA, HR. SYS 2323/15 (Juni 1915). Dikutip oleh Supratman, Rafet Bey: The Last…, hal. 48).

Akhirnya Rafet Bey melaporkan kembali ke Kementerian Luar Negeri Khilafah pada 11 Juni 1915 bahwa “dalam sebuah khutbah yang jelas selama salat Jumat kemarin di Masjid Agung Batavia, sang khatib menyebut Khalifah kita yang agung dengan gelar Gazi…”, di samping mendoakan akan kemenangan pasukan Muslim dan panjang umur untuk Khalifah. Deklarasi jihad oleh Khalifah juga menyebabkan ketertarikan kaum Muslim di Hindia Belanda untuk ikut serta dalam jihad bersama Khalifah. 

Pada bulan Mei 1914, beberapa bulan sebelum Perang Dunia I, Rafet Bey mendapat surat dari salah seorang pangeran Yogyakarta bernama Raden Mas Adhihardjo Ningrat IV yang menginginkan untuk bergabung di sekolah militer di Konstantinopel.

Secara umum, walaupun tidak terlibat langsung, orang-orang di Hindia Belanda mendukung Khilafah Utsmani dalam peperangannya bersama Jerman di Perang Dunia I. Mereka melontarkan dukungan mereka dalam bentuk opini-opini dan propaganda dalam koran-koran terbitan Sarekat Dagang Islam pimpinan H. Samanhoedi seperti Pantjaran Warta dan Oetoesan Hindia. 

Dukungan juga disalurkan dalam bentuk donasi kepada pasukan Khilafah (jihad bi al-amwal) melalui organisasi yang diorganisir oleh Rafet Bey, Hilal-i Ahmer Cemiyeti (Perkumpulan Sabit Merah) yang kepemimpinannya diserahkan kepada seorang Arab-Hadhrami, Mr. Sayyid Hasan bin Smith. 

Perang Dunia I berakhir dengan kekalahan koalisi Jerman-Austria-Khilafah Utsmani. Khilafah terpaksa menelan pil pahit kegagalan itu dengan kehilangan banyak wilayahnya di Timur Tengah. Khilafah juga makin direpotkan dengan pemberontakan-pemberontakan bercorak nasionalisme yang merebak di Yunani, Balkan, dan Jazirah Arab. 

Kaum nasionalis Turki pimpinan Musthafa Kemal Pasha laknatullah pun memimpin perlawanan pula terhadap Khalifah dengan mendirikan pemerintahan saingan di Ankara sampai akhirnya mereka berhasil menghapus institusi Khilafah Islamiyyah pada Maret 1924.

Seiring dengan dihapusnya Khilafah, para konsul Utsmani yang ditempatkan di berbagai negeri ditarik kembali ke tanah Turki. Rafet Bey menapakkan kakinya untuk terakhir kali di pelabuhan Tanjung Priok pada 16 Maret 1924. 

Berita penghapusan Khilafah begitu menggegerkan kaum Muslim di seluruh dunia, sampai memunculkan berbagai pergerakan untuk menegakkan kembali Khilafah di Mesir, India, dan Indonesia. Bahkan berbagai pergerakkan untuk menegakkan kembali Khilafah masih terus bergema sampai hari ini, dengungnya kian hari kian populer.[] 


Penulis: Nicko Pandawa
Editor: Joko Prasetyo 

Dimuat pada rubrik KISAH Tabloid Media Umat edisi 226 (awal September 2018)

Post a Comment

Powered by Blogger.