Rencana Kemendikbud menghapus Sejarah dari mata pelajaran wajib sekolah mendapatkan kecaman dari berbagai pihak termasuk sejarawan UIN SGD Bandung Moeflich Hasbullah.

“Generasi yang tidak paham sejarah itu bahaya. Mereka bisa tercerabut dari akar-akar sejarahnya dan tidak tahu sejarahnya (mulai dari jasa ulama hingga bahayanya PKI),” tuturnya, Sabtu (19/09/2020).

Menurutnya, generasi yang tidak paham sejarah, mereka tidak akan mengenal kejayaan masa silamnya. “Orang yang tidak paham sejarah Indonesia, tidak muncul nanti patriotisme, tidak paham jasa-jasa para ulama, tidak paham peran umat Islam dalam membangun bangsa, mendirikan negara, mengusir penjajah kafir, melawan kolonialisme, dan terus mendirikan negara modern. Karena itu jasanya umat Islam dan para ulama yang luar biasa besarnya dalam sejarah Indonesia. Itu bahayanya kalau tidak dipelajari,” ujarnya.

Lebih lanjut, Moeflich menjelaskan selain mereka tidak mengenal kejayaan masa silamnya, mereka juga tidak mengetahui kegelapan masa lalunya. “Misalnya yang dilakukan oleh PKI itu, bagaimana jahatnya PKI pada bangsa Indonesia yang dulu pernah melakukan kudeta untuk merebut kekuasaan dan membunuh para jenderal dengan sangat kejam di Lubang Buaya. Itu akan menjadi berkurang diketahui oleh para siswa bila sejarah masa silamnya tidak diketahui,” terangnya.

Dia merasa sangat aneh dan tidak percaya kalau pelajaran sejarah itu dihilangkan. Tapi kalau itu dijadikan pilihan, menurutnya mungkin ada pertimbangan dari Mendikbud. Namun, tetap dia sayangkan karena belajar sejarah secara agama dan ilmu pengetahuan adalah wajib.

“Jadi kalau digeser menjadi pilihan, (akan) mengurangi peranan penting sejarah dalam ilmu pengetahuan,” pungkasnya.[]

Post a Comment

Powered by Blogger.