Istilah Khilafah akhir-akhir ini kembali mengemuka diperbincangkan oleh publik kemudian banyak pihak yang bertanya, sebenarnya khilafah itu apa? Makna atau definisi khilafah itu seperti apa? Temukan jawabannya dalam wawancara wartawan TintaSiyasi.com Achmad Muit dengan Mudir Khadimus Sunnah Bandung Ajengan Yuana Ryan Tresna. Berikut petikannya.

Apa definisi khilafah itu?

Makna khilafah menurut ulama-ulama terdahulu misalnya dalam kitab Al-Ahkam as-Sulthaniyyah karya Imam Mawardi, Beliau menyampaikan Imamah itu menduduki posisi untuk khilafah Nubuwwah yakni pengganti kenabian dalam menjaga agama serta politik yang sifatnya duniawi. Jadi fungsi khilafah langsung nampak dari definisi tersebut.

Imamah sama dengan khilafah. Maknanya sama saja. Dijelaskan oleh Imam an-Nawawi Raudhathut Thalibin yang menyamakan Khalifah dengan Imam termasuk Amirul Mukminin.

Definisi menurut Imam al-Haramain, beliau menyampaikan Imamah yakni khilafah adalah kepemimpinan yang sifatnya utuh dan kepemimpinan yang berkaitan dengan hal-hal yang bersifat umum dan juga hal-hal yang bersifat khusus dalam urusan-urusan agama maupun dunia.

Menurut Imam ar-Ramli dalam kitab Nihayatul Muhtaz, beliau menjelaskan Khalifah adalah Imam yang agung, yang menduduki jabatan Khilafah Nubuwwah (pengganti kenabian) dalam melindungi agama serta melakukan pengaturan dalam urusan dunia.

Dari definisi-definisi tadi kita bisa mengambil benang merah bahwa pertama, khilafah berkaitan dengan kepemimpinan, kedua kepemimpinan itu fungsinya adalah untuk menjaga agama dan melakukan pengaturan di dunia. Itu adalah definisi-definisi yang masyhur di kalangan ulama.

Selanjutnya definisi khilafah menurut ulama kontemporer yang pertama Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani mendefinisikan khilafah sebagai kepemimpinan yang bersifat umum bagi seluruh kaum muslimin di dunia untuk menegakkan hukum-hukum syariah Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. 

Definisi ini melengkapi definisi ulama-ulama terdahulu. Sedangkan fungsinya selaras dengan ulama terdahulu. Beliau menjelaskan penjagaan agama yakni dengan menegakkan hukum-hukum syariah Islam. Sedangkan konteks pengaturan dunia yakni mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.

Ini juga yang dijelaskan oleh Dr. Mahmud al-Khalidi dalam kitabnya Qawaid Nizhamil Hukmi fil Islam.


Yang dimaksud ulil amri itu apa?

 Berdasarkan firman Allah Swt.:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ ۚ فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا

"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya."
(QS an-Nisa 4: Ayat 59)

Disitu ada lafadz ulil amri. Oleh karena itu kewajiban taat kepada ulil amri tidak dapat diragukan lagi. Artinya dia adalah sosok yang wajib ditaati. Namun kemudian siapa yang dimaksud dengan ulil amri? Tentu saja yang memegang urusan kaum muslimin dan ulil amri tersebut adalah ulil amri diantara kalian yang beriman kepada Allah, menaati Allah dan menaati RasulNya. 

Jadi, ulil amri adalah penguasa yang memegang urusan kaum muslimin secara keseluruhan yang taat kepada Allah, taat kepada Rasul-Nya dan ketika ada persoalan atau sengketa kembali kepada hukum Allah dan Rasul-Nya yaitu Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Bisa tidak republik disebut khilafah? Mengapa?

Jelas berbeda dan tidak bisa. Republik dengan khilafah jelas berbeda dan tidak dapat disamakan. Mengapa? Karena berbeda dalam prinsip dasarnya. Berbeda dalam pilar-pilarnya. Pilar pertama di dalam khilafah adalah kedaulatan ada pada hukum syariat. Sedangkan pada sistem republik justru kedaulatan untuk membuat hukum bukan pada syariat Islam tetapi ada pada manusia. Kepada rakyat yang diwakili oleh wakilnya. 

Belum lagi dalam hal yang lain. Misalnya pemimpin dalam Islam yakni Khalifah itu dibai'at untuk menegakkan hukum syariat dan mengemban dakwah ke seluruh dunia. Berbeda dengan sistem republik. Presiden itu diangkat untuk menjalankan amanah sebagaimana termaktub dalam undang-undang dasar yang merupakan produk buatan manusia. Belum lagi dari sisi yang lain tentu saja perbedaannya sangat terang benderang.

Apakah khalifah bisa disebut sebagai ulil amri? Mengapa?

Kalau kita kembalikan kepada makna dari ulil amri dalam QS an-Nisa: 59 maka ulil amri yang disebutkan spesifikasinya menurut QS an-Nisa: 59 itu terpenuhi dengan adanya khalifah. Karena ulil amri adalah seseorang yang memegang urusan kaum muslimin kemudian dia taat kepada Allah dan taat kepada Rasulullah.

Ketika ada persoalan atau sengketa di tengah masyarakat maka dia kembalikan kepada hukum Allah dan hukum Rasul-Nya yaitu Al-Qur'an dan As-Sunnah. Dan itulah esensi dari khalifah.

Khalifah itu dibai'at untuk menjalankan syariat Islam, menjalankan hukum-hukum Islam di tengah-tengah masyarakat. Dia adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslimin di dunia yang fungsinya adalah menjalankan hukum Islam dan mengemban dakwah ke seluruh penjuru alam. Jadi Khalifah adalah ulil amri yang sah menurut Islam.


Apakah presiden bisa disebut ulil amri? Mengapa?
 
Presiden tidak dapat disebut sebagai ulil amri karena dia bukan pemimpin yang diangkat untuk menegakkan ketaatan kepada Allah dan ketaatan kepada Rasul-Nya. Dia memegang urusan tetapi tidak termasuk ulil amri yang syari menurut Islam. Bahwa secara bahasa dia adalah ulil amri yakni memegang urusan tetapi secara syari dia adalah bukan ulil amri yang dimaksud oleh syariat Islam.

Barangkali itu. Alhamdulillah kita sudah  bahas lima topik sekaligus terkait dengan definisi khilafah sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama baik itu ulama mutaqadhimin maupun mutaakhirin

Kemudian yang dimaksud dengan ulil amri kita kembalikan pada QS an-Nisa: 59. Kemudian yang ketiga adalah Republik tentu tidak dapat disebut Khilafah atau sebaliknya karena keduanya berbeda. 

Yang keempat Khalifah itu adalah ulil amri yang sah menurut Islam. Karena khalifah dibaiat untuk menjalankan syariat Islam dan mengemban dakwah ke seluruh penjuru alam. Kemudian yang terakhir tadi apakah presiden bisa disebut sebagai ulil amri. Jawabannya adalah secara bahasa mungkin saja tetapi secara syari tidak memenuhi kaidah-kaidah atau prinsip-prinsip ulil amri di dalam Islam.[]

Post a Comment

Powered by Blogger.