Penganiayaan terhadap ulama kembali terjadi. Peristiwa ini merupakan duka bagi muslim tanah air, bahkan juga dunia islam. Apalagi penganiayaan disaksikan para jamaah dalam sebuah majelis ilmu. 


Ya, Syeh Ali Jaber dianiaya saat memberikan ceramah di Lampung. Pelaku penusukan seorang pria berusia 24 tahun yang tinggal tak jauh dari tempat acara. Akibatnya Syeh mendapatkan luka cukup dalam pada lengan sebelah kanan. Saat ini pelaku juga sudah diamankan pihak kepolisian Daerah Lampung (www.detiknews.com,14/9/2020).

Penganiayaan terhadap ulama bukan kali ini saja terjadi. Pada bulan Juli lalu kejadian serupa juga menimpa imam masjid di Pekanbaru, Riau. Imam tersebut ditusuk seorang pria usai memimpin salat isya. Pelaku sudah kenal dengan korban. Pelaku sering berkonsultasi pada korban, hanya saja hasil konsultasi tidak memuaskan.  Pelaku pun merasa kecewa hingga tega menganiaya korban (www.detiknews.com, 24/7/2020).

Hilangnya rasa aman di negeri ini

Kedua peristiwa pilu diatas terjadi di lingkungan tempat beribadah. Kita pasti menganggap bahwa rumah ibadah akan aman dari kejahatan manusia. Kita tahu bahwa masjid adalah rumah Allah, tempat muslim bermunajat padaNya. Pelaku setidaknya akan malu pada Allah karena berbuat dosa di rumahNya. Tapi faktanya tidak demikian. Bahkan,  SAJ dianiaya didepan para jamaah majelis ilmu. Sebuah majelis  yang dimuliakan oleh Allah. Tapi para pelaku dengan keji melakukan aksinya. Hal ini menandakan bahwa tak ada tempat yang aman dari kejahatan dinegeri ini. 

Lalu dimanakah tempat yang aman di negeri ini? Kenapa para pelaku kejahatan tak ada rasa takut dan malu berbuat aniaya. Bahkan dalam rumah ibadah sekalipun? Pertanyaan tersebut bisa kita uraikan dalam berbagai ulasan berikut :

Pertama, paham seluler telah mengikis nilai-nilai spiritual masyarakat. Paham seluler merupakan pemisahan agama dari kehidupan. Sebuah paham yang tak melibatkan keberadaan pencipta dalam segenap tingkah laku. Penganut paham ini tak akan merasa ada yang mengawasi perbuatannya. Keberadaan Allah dikesampingkan dari kehidupan. Mereka bebas melakukan perbuatan, tanpa mengkaji bahwa segalanya akan ada balasannya. Maka jangan heran, saat ini banyak lahir manusia yang jauh dari nilai-nilai spiritual. 

Kedua, hilangnya wibawa aparat keamanan dimata pelaku kejahatan. Walaupun tak semua aparat yang terbukti melanggar hukum, tapi banyak kejadian membuktikan bahwa aparat keamanan bisa diatur. Penegakan hukuman yang tak tegas pada  pelaku kejahatan menjadi saksi bahwa penegakan hukum bisa diakali. Jika pelaku kejahatan dan penegak hukum sudah berkompromi, bagaimana bisa penegakan hukum akan adil?.

Ketiga, sistem saksi  yang tak berikan efek jera. Keluar masuk penjara jadi hal yang biasa bagi para residivis. Tak ada yang mereka takutkan dari ruangan besi bernama penjara. Jangan heran keluar penjara, pelaku kejahatan akan kembali melakukan aksinya. Toh dalam penjara mereka dapat makan dan tidur gratis.

Dari ketiga uraian diatas, tak dipungkiri tak akan ada tempat yang aman jika ketiga hal diatas masih berjalan dinegeri ini.

Islam ciptakan rasa aman bagi rakyatnya 
Keamanan dalam islam merupakan kewajiban negara untuk mewujudkannya. Rasa aman akan muncul jika tak ada ancaman terhadap jiwa, psikis, fisik, harta dan kehormatan. Keamanan akan terwujud jika tidak muncul keinginan pada diri orang untuk melakukan kejahatan berkat tertanamnya keimanan dan ketakwaan pada dirinya. 

Berikut strategi islam ciptakan rasa aman bagi umatnya : 

Pertama,  islam mewajibkan negara agar secara sistematis mengokohkan keimanan dan membina ketakwaan rakyat. Hal itu bisa ditempuh melalui sistem pendidikan formal maupun non formal pada semua jenjang, level, usia dan kalangan. 

Diantaranya menanamkan pemahaman bahwa seorang muslim wajib memberi rasa aman kepada orang lain. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar _radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

المسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ 

"Yang disebut dengan muslim sejati adalah orang yang selamat orang muslim lainnya dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan dalam riwayat Tirmidzi dan An Nasa’i,

و المؤمن من أمنة الناس على دمائهم و أموالهم

“Seorang mu’min (yang sempurna) yaitu orang yang manusia merasa aman darah mereka dan harta mereka dari gangguannya.”

Kedua, seorang muslim juga haram mengacungkan senjata kepada sesama muslim, dan dilarang membawa senjata ke tengah-tengah pasar dan kerumunan orang. 

Dari Abu Hurairah _radhiyallahu ‘anhu_, ia berkata bahwa Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wa sallam_ bersabda,

مَنْ أَشَارَ إِلَى أَخِيهِ بِحَدِيدَةٍ فَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تَلْعَنُهُ حَتَّى وَإِنْ كَانَ أَخَاهُ لأَبِيهِ وَأُمِّهِ

“Barangsiapa mengacungkan senjata tajam kepada saudaranya, maka para malaikat akan melaknatnya sampai dia meninggalkan perbuatan tersebut, walaupun saudara tersebut adalah saudara kandung sebapak dan seibu.” (HR. Muslim)

Ketiga, untuk mencegah terjadinya kejahatan dan kemungkaran, Islam mewajibkan masyarakat untuk saling menasehati dan melakukan amar ma'ruf nahi munkar sesama mereka. Dan negara wajib menjamin atmosfer yang positif untuk itu. 

Dengan penerapan syariah Islam dalam semua sendi kehidupan, maka peluang terjadinya kejahatan akan minim terjadi. Jika pun ada orang yang melakukan kejahatan, maka sanksi dan pidana Islam yang diterapkan akan membuat pelakunya kapok dan orang lain tidak berani melakukan kejahatan. 

Penerapan sanksi dan hukuman itu akan efektif menjadi benteng terakhir yang bisa mencegah dan mengikis terjadinya tindak kejahatan. Pada akhirnya keselamatan dan rasa aman bisa dirasakan oleh seluruh rakyat. Allah SWT berfirman:

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

_"Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 179)

Demikianlah strategi islam dalam menciptakan rasa aman bagi umatnya. Sudah jelas bahwa islam agama yang lurus, dengannya umat akan aman, damai dan sejahtera. Wallahu alam bissowab.

Oleh: Yudia Falentina

Post a Comment

Powered by Blogger.