Jumlah pasien positif Corona setiap harinya terus bertambah. Hal ini menunjukkan penyebaran virus Corona semakin tidak terkendali. Data 12 September 2020 menunjukkan jumlah penambahan kasus positif virus corona 3.806, sehingga total yang ada di Indonesia 214.746 kasus. Adapun jumlah pasien yang sembuh  152.458  orang dan yang meninggal dunia 8.650 orang. (CNN Indonesia, 12/9/2020)

 
Belum sampai satu tahun Corona hadir di Indonesia. Tetapi penambahan kasus setiap harinya seakan tidak menunjukkan bahwa semua ini akan segera berakhir. Justru semakin membuat Indonesia diambang kehancuran. Ekonomi diambang resesi, PHK terus terjadi dimana-mana, pegangguran meningkat, bahkan Indonesia telah dilockdown oleh 59 negara. Hal tersebut semakin menunjukkan rapuhnya negara dan sistem yang diterapkannya. 

Tetapi permasalahan yang dihadapi negara tidak lantas membuat pemerintah mengevaluasi kebijakannya, justru membuat mereka mulai menyalahkan rakyatnya dan bahkan menyadari tentang kesalahan sistem demokrasi yang telah dianut negara Indonesia sejak merdeka.

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19,Wiku Adisasmito mengatakan bahwa saat ini sebaiknya seluruh pihak menyoroti perilaku masyarakat yang masih kurang disiplin menerapkan protokol kesehatan sehingga masih menyebabkan penularan virus corona. (cnn ndnesia, 6/9/2020)

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian berpendapat bahwa negara-negara yang menganut pemerintahan otokrasi atau oligarki seperti China dan Vietnam lebih efektif menangani pandemi virus corona (Covid-19). Dibandingkan dengan negara demokrasi seperti Indonesia, India dan AS akan lebih sulit karena masyarakatnya sulit diminta menerapkan protokol kesehatan.(cnn Indonesia, 3/9/2020)

Pernyataan pak Tito menunjukkan bahwa ketidakberdayaan negara dan narasi keputusasaan demokrasi  dalam menghadapi pandemi. Terbukti dengan lumuhnya negara adidaya AS. Ketidakbedayaan AS menghadapi pandemi karena negara AS menerapkan sistem demokrasi.

Tapi apakah negara dengan sistem otokrasi atau oligarki  menjadi solusi pandemi?. Negara China dan Vietnam yang menerapkan sistem otoraksi ternyata tidak lepas dari serangan dan keganasan virus corona.

Di lanrsir dari BBC tentang kesuksesan negara Vietnam dalam menangani pandemi. Walaupun Vietnam berbatasan dengan China. Tetapi diawal penyebaran virus, negara yang berpenduduk 97 juta jiwa hanya mencatat sekitar 300 kasus Covid-19 di dalam negeri, dan nol pasien meninggal. (bbc news, 18 mei 2020) 

Hingga pertengahan Juli, Vietnam masih bisa mengendalikan kasus covid-19, tidak ada kematian yang dilaporkan dan selama beberapa bulan tidak ada kasus penularan secara lokal. Setelah itu keamanan di dalam negeri mulai dilonggarkan dan sektor pariwisata dibuka.

Tetapi pada akhir bulan Juli wabah Covid-19 mulai menyebar di daerah pariwisata populer yaitu Da Nang. Kasus kematian pertama ialah seorang laki-laki berusia 70 tahun. Walaupun kasus kematian pertama itu sempat ditutupi pemerintah Vietnam. Alasannya karena takut menangggung malu (detik news, 1/8/2020)

Data dari Worldometer, per 12 september 2020  jumlah kasus positif di Vietnam 1.060 oranng, dengan jumlah pasien yang meninggal 35 orang. Sedangkan di China sebagai negara asal virus Corona. Data per 12 September sudah ada 85.174 kasus positif dengan jumlah pasien yang meninggal 4.634 orang. 

Negara China bahkan sekarang memasuki gelombang kedua Covid-19. Semua itu terjadi karena pada bulan Mei lalu China bahkan mengklame tidak ada kasus positif baru. Atas dasar itu, sehingga pemeritah melonggarkan aturan dan mulai membuka pariwisata. Tetapi setelah itu pasien membeludak.

Kalau seperti itu kenyataanya, apakah pantas di sebut sebagai sukses menangani pandemi?. Walaupun ada suatu waktu kondisi terlihat membaik tetapi pemerintah lebih memilih mengambil kesempatan tersebut untuk membuka sektor pariwisata daripada menggerakkan ekonomi masyrakat. Ternyata pemerintah otoraksi tetap saja lebih loyal dengan para kapitalis daripada rakyatnya sendiri. Pelonggaran kepada pembatasan daerah dan ulai menerapkan kehidupan normal

Pandemi covid 19 telah membuka mata dunia,bahwa dunia sejatinya dunia membutuhkan sistem alternatif. Bukan demokrasi ataupun otokrasi. Sistem alternatif tersebut akan mewujudkan terselenggaranya fungsi negara secara konsisten untuk penguasa nya. Sebagai pengayom dan penanggungjawab negara akan bekerja optimal mengatasi krisis dan mensosialisasikan protokol kesehatan, untuk dijalankan rakyatnya. 

Sistem seperti itu hanya dimiliki oleh sistem islam yaitu Khilafah. Dalam sistem ini, baik penguasa (khalifah) maupun rakyatnya adalah orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Mereka mengurus kehidupan mereka berdasarkan syariat islam sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Dengan demikian, baik terjadi saat pandemi atau tidak. Khalifah akan melakukan kekuasaan terbaik sesuai syariat islam untuk mengurus kebutuhan rakyatnya. Maka ketika terjadi pandemi. 

Khalifah akan melakukan hal terbaik sesuai syariat Islam untuk mengurus seluruhr rakyatnya. Khalifah akan melakukan berbagai tindakan terbaik, bukan karena drongan materi yang sifatnya relatif, atau takut diprotes rakyat, tetapi karena ingin rnendapatkan kemuliaan akhirat.[]

Oleh:  Mia Purnama, S.Kom

Post a Comment

Powered by Blogger.