Penusukan Syekh Ali Jaber


Penyerangan kepada ulama kembali terjadi. Kali ini korbannya adalah ulama dan pendakwah yang bernama Ali Saleh Mohammed Ali Jaber atau yang lebih dikenal dengan Syekh Ali Jaber. Ulama kelahiran Madinah ini mendapat tusukan dibagian lengan kanan atas pada saat acara Wisuda Hafidz Alquran di halaman Masjid Falahuddin, Jalan Tamin, Tanjungkarang Barat, Bandar Lampung, Ahad (13/9) petang.

Saat itu ia sedang berkomunikasi dengan salah satu santri dan wali santri. Tiba-tiba seorang pemuda naik ke panggung melakukan penyerangan dengan melayangkan tusukan pada syekh Ali Jaber hingga mengalami luka di tangannya.

Penyerangan pada ulama, kyai, atau ustaz tidak hanya sekali ini saja. Sebelumnya juga banyak terjadi. Seperti misalnya yang menimpa pengurus PERSIS ustaz Prawoto hingga mengakibatkan korban meninggal dunia. 

Pelaku disebut mengalami gangguan jiwa?

Pada kasus yang menimpa syekh Ali Jaber, pelaku merupakan seorang pemuda usia 24 tahun yang rumahnya tidak jauh dari masjid. Setelah kejadian penusukan ini, pihak aparat masih mendalami apakah pelaku mengalami gangguan jiwa atau tidak. Hanya saja kalangan warganet justru ramai membahas foto diduga pelaku. Banyak warganet mewanti-wanti jangan sampai jika korbannya ulama, pelaku langsung dianggap gila. 

Kasus akan menjadi janggal, apabila pelaku dianggap gila. Karena kejadian ini akan menimbulkan pertanyaan pada khalayak. Mengapa bila terjadi penyerangan terhadap seorang ustadz atau ulama pelakunya seringkali dianggap gila? Apakah orang gila dapat memilih korbannya untuk dijadikan sasaran? Hal ini harus mendapatkan perhatian yang serius karena meresahkan umat Islam, khususnya dan masyarakat secara luas pada umumnya.

Akibat yang dapat terjadi apabila tidak tuntas meyelesaikan kasus. Kezaliman bisa saja terjadi apabila kasus semacam ini terus-menerus berulang dan dibiarkan tanpa adanya penanganan yang tepat. Pihak terkait harus mengusut tuntas setiap kejadian kriminal semacam ini agar tidak menimbulkan prasangka negatif dari masyarakat.

Penguasa selaku pimpinan tertinggi juga harus memberikan perhatian lebih pada kasus-kasus yang terjadi. Dikarenakan kasus semacam ini tidak terjadi sekali saja. Sebagai pihak yang bertanggungjawab melindungi setiap warganya penguasa harus mengambil sikap preventif maupun penyelesaian kasus melalui lembaga terkait hingga tuntas dengan kebijakan yang win-win solution.

Seharusnya pemerintah mampu memberikan rasa aman kepada rakyatnya, apalagi kepada para ulama. Anehnya mengapa banyak ulama yang diteror hingga meninggal? Sekalipun ada yang berhasil menangkis serangan teroris tersebut, mereka berhasil melukai ulama.

Hal ini telah mengkonfirmasi bahwa negeri ini gagal memberikan perlindungan pada ulama dan umat Islam. Lebih-lebih umat Islam dan ajarannya juga banyak yang dinista. Inilah akibat jika negeri ini menerapkan sistem aturan sekuler, yang bertentangan dengan Islam. Wajar saja jika banyak para penista dan peneror umat Islam bebas berkeliaran dan tak ada hukum yang tegas yang mampu mengadili mereka.

Di sini peran penguasa itu dibutuhkan, rakyat untuk mendapatkan keadilan.  Agar tidak dinilai berlaku tidak adil atau bersikap abai terhadap masalah yang dihadapi rakyatnya maka penguasa harus hadir untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Keadilan hanya bisa ditegakkan jika diterapkan syariah Islam, karena jika sistem masih sekuler, umat Islam tak akan mendapat keadilan.

Pertanggungjawaban penguasa
Dari Ibn Umar ra. Dari Nabi saw, beliau bersabda : 

… رَعيّتِهِ عَنْ مَسْئُوْلٌ وَكُلُّكُمْ رَاعٍ كُلُّكُمْ ..
“ Kalian adalah pemimpin dan kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan kalian. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari hadis diatas jelas bahwa setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban. Di berbagai tingkat kepemimpinan akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang ada dikepemimpinannya. Kepemimpinan dilevel RT misalnya, akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya. Begitu juga tak terkecuali kepemimpinan level Negara. Akan dimintai pertanggungjawaban kelak diakhirat atas apa yang ada didalam kekuasaannya.

Oleh sebab itu, maka sebagai pemimpin harus betul-betul memperhatikan apa yang ada didalam wilayah kekuasaannya agar selamat dari azab dari Allah SWT yang amat pedih. Ada ancaman bagi pemimpin-pemimpin yang zalim. Seperti pada hadis berikut :

“Barangsiapa yang diangkat oleh Allah untuk memimpin rakyatnya, kemudian ia tidak mencurahkan kesetiaannya, maka Allah haramkan baginya surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Selain itu juga ada hadist yang lain tentang pemimpin yang dicintai oleh Allah SWT dan yang dibenci oleh Allah SWT pada hari kiamat.

“Sesungguhnya manusia yang paling dicintai oleh Allah pada hari kiamat dan paling dekat kedudukannya di sisi Allah adalah seorang pemimpin yang adil. Sedangkan orang yang paling dibenci oleh Allah dan paling jauh kedudukannya dari Allah adalah seorang pemimpin yang zalim.” (HR. Tirmidzi)

Disisi lain, umat muslim juga tidak boleh membiarkan kemaksiyatan terjadi. Maka umat Islam akan didorong oleh sikap yang timbul dari aqidah Islam yang diyakininya untuk berbuat amar ma’ruf nahi munkar. Diantaranya menasehati penguasa sesuai hadist berikut :

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ أَوْ أَمِيرٍ جَائِرٍ
“Jihad yang paling utama adalah mengutarakan perkataan yang adil di depan penguasa atau pemimpin yang zhalim.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Sebagai seorang muslim sudah selayaknya untuk saling menasehati dalam perkara amar ma’ruf nahi munkar untuk mendapatkan ridho dari Allah SWT. Oleh karena itu dengarkan nasehat dari saudaramu jangan menutup telinga dan hati dari kebenaran. Semoga cahaya hidayah diberikan kepada pemegang kekuasaan setiap lini di negeri ini agar selalu dapat bersikap adil. Aamiin.[]

Oleh: Enggo Transinus

Post a Comment

Powered by Blogger.