Pernyataan Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi, terkait cara masuk paham radikal lewat sosok good looking mendapatkan respon dari berbagai pihak, salah satunya dari Ustaz Felix Siauw. Ustaz muda ini menyayangkan pernyataan Menag yang menyebut bahwa kaum "Good Looking" adalah biang radikalisme.


"Baru kali ini ada Menteri Agama yang paling banyak menarik perhatian, menuai kontroversi dan ujung-ujungnya sama. Mengatakan sesuatu tanpa dipikir atau mungkin sengaja, kemudian setelah timbul reaksi, banyak dikoreksi, barulah klarifikasi," tutur Ustaz Felix melalui tayangan berjudul Empat Poin Menjawab Tuduhan Pola Radikalisme di Masjid pada kanal Youtube Felix Siauw, Sabtu (5/9/2020).

Beliau berpandangan jika kesalahan tersebut terjadi satu atau dua kali, sebagai manusia ini sangat wajar. Felix menduga, ini sebuah program untuk membuat masyarakat terbiasa dengan narasi-narasi yang membuat umat Islam menjauhi ajaran agamanya sendiri.

Menurutnya, dai yang juga muallaf ini, tuduhan sembrono tersebut menandakan ada problem yang seharusnya disadari oleh pemerintah. Beliau berpendapat, seharusnya pemerintah tahu bagaimana mengurusi urusan rakyat, bukan justru terkesan mencari-cari masalah.

"Pemerintah lebih baik fokus dalam penanganan pandemi atau menghadapi resesi, krisis moral generasi, juga maraknya korupsi" ujarnya. 

Ia menjelaskan ada empat poin penting yang mesti dipahami terkait isu radikalisme. Pertama, seolah-olah radikalisme ini sangat berbahaya bagi Indonesia. Kedua, penguasa menjadikan radikalisme sebagai ancaman, ketakutan lalu menjual obat radikalisme dengan membuat berbagai program.

Ketiga, padahal arti radikal itu sendiri tidak jelas. Keempat, ada banyak masalah yang lebih mengerikan dibanding isu radikalisme seperti pesta sex sejenis, kemesuman di kanal-kanal sosial-media, ekonomi tidak karuan, yang lebih perlu ditangani pemerintah.

"Jadi, radikal ini sepertinya hanya salah satu cara untuk membungkam siapapun yang berseberangan dengan penguasa agar semua diam terhadap kezaliman yang terjadi," pungkasnya.

Post a Comment

Powered by Blogger.