Selama berlangsungnya pandemi di Indonesia sejak awal Maret 2020, jumlah yang terkonfirmasi positif serta yang meninggal terus meningkat. Tidak terkecuali dari tenaga medis. 

Berdasarkan data Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) bersama Perhimpunan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) dan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), hingga Sabtu (3/10/2020) terdapat 130 dokter, 9 dokter gigi dan 92 perawat yang meninggal dunia akibat Covid-19. (kompas.com, 4/10/2020). Dari 130 dokter yang wafat, 67 merupakan dokter umum dengan 4 di antaranya guru besar. Kemudian, 61 merupakan dokter spesialis dengan 4 di antaranya guru besar dan 2 orang residen. Keseluruhan dokter tersebut berasal dari 18 IDI wilayah (provinsi) dan 61 IDI cabang (kota/kabupaten). 

Di sisi lain Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto menuding banyaknya tenaga medis yang gugur tersebut, lantaran kurang disiplinnya penegakan protokol kesehatan oleh tenaga medis. “Jadi kenapa masih terkena (Covid-19), ya pasti karena tidak disiplin, di situ celahnya,” kata Terawan. (republika.co.id, 27/8/2020). 

Para tenaga medis berjuang sepanjang waktu siang malam tak kenal lelah melaksanakan tugas mulianya melakukan perawatan demi kesembuhan para pasien. 

Penuturan dari seorang suster di sebuah rumah sakit di Jakarta bahwa kewalahan dan kelelahan adalah hal yang sama dialami oleh tenaga medis. Ketika merasakan lelahnya dalam bekerja maka di antara tenaga medis saling menguatkan. Saling curhat dan ada momen mengharukan saat lelah dan takut. Kemudian juga di masyarakat mendapat stigma negatif, penolakan dari masyarakat karena khawatir tenaga medis menyebarkan virus di lingkungannya. 

Banyaknya tenaga medis yang meninggal karena positif Covid-19 merupakan konsekuensi logis karena mereka berhadapan langsung dengan pasien. Di tengah banyaknya kasus pasien yang dirawat di rumah sakit. Belum lagi sarana dan prasarana kesehatan yang tidak memadai. 

Hal ini terjadi karena kelalaian dari penguasa dalam melindungi kesehatan dan keselamatan jiwa para tenaga medis serta masyarakat secara umum. Pandemi bermula di negeri ini dan seluruh dunia karena pengabaian lockdown di area wabah. Padahal secara penelitian, lockdown syar'i terbukti menekan pandemi, tetapi hingga sekarang hal itu tidak dilakukan. 

Selain itu penguasa juga telah abai terhadap isolasi dan pengobatan bagi yang terinfeksi yang tampak dari rendahnya testing dan lemahnya upaya tracing. Ditambah lagi buruknya edukasi yang mencerdaskan bagi masyarakat dan pengabaian jaminan pemenuhan kebutuhan hidup termasuk perawatan kesehatan itu sendiri, membuat masyarakat meremehkan pandemi. Sehingga muncul klaster-klaster baru di berbagai fasilitas publik, termasuk di sejumlah rumah sakit yang mengakibatkan dokter dan tenaga medis lainnya terinfeksi bahkan meninggal. 

Pengabaian peran penguasa adalah buah diterapkannya sistem politik demokrasi dengan ekonomi kapitalisme, di mana penguasa hanya mengutamakan ekonomi dibandingkan keselamatan jiwa rakyat bahkan tenaga medis yang menjadi garda terdepan dalam menghadapi pandemi. Kalaupun ada pelayanan yang diberikan kepada rakyat semata-mata hanya demi kemaslahatan para korporasi. Jadi penguasa bekerja untuk kepentingan pengusaha. 

Oleh karena itu, Indonesia dan dunia butuh sistem shahih yang berasal dari wahyu Allah SWT yaitu sistem politik Islam yang akan mampu menjadi solusi atas segala bentuk permasalahan yang dihadapi umat manusia secara keseluruhan termasuk dalam menghadapi pandemi global ini. Sistem yang pernah pernah diterapkan selama kurun waktu lebih dari 13 abad yaitu Khilafah. 

Islam meniscayakan berjalannya fungsi negara yang shahih dalam mengatasi kekurangan sarana dan prasarana kesehatan dan menjamin perlindungan terhadap tenaga kesehatan. Sehingga keselamatan jiwa rakyat maupun tenaga kesehatan akan terjaga dalam masa pandemi. Wallahu a'lam bi ash shawab.[]

Oleh: Haryati
Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

Post a Comment

Powered by Blogger.