Pada surat tertanggal 30 September 2020, Disdik Babel mewajibkan kepada siswa SMA untuk membaca buku Muhammad al - Fatih karya Felix Siauw. Tujuannya untuk melengkapi kegiatan literasi siswa di Babel selama pandemi. Akan tetapi selang sehari kemudian yakni Kamis (1/10), edaran tersebut dibatalkan (www.detiknews.com, 2/10/2020).


Kegiatan literasi memang menjadi muatan wajib dalam kurikulum 2013. Dari literasi tersebut, harapannya tertanam kegemaran membaca. Memang harus diakui bahwa budaya membaca masih sangat kurang di kalangan masyarakat Indonesia. 

Tentunya dengan banyak membaca, cakrawala wawasan menjadi luas. Menyerap inspirasi bagi upaya refleksi untuk perbaikan bangsa ke depan. 

Patut untuk diapresiasi ketika secara administrasi, Dinas Pendidikan mengambil inisiatif menyodorkan literasi sesosok pahlawan Islam. Di samping sumber - sumber literasi yang lain.

Kisah - kisah pahlawan Islam diakui atau tidak masih terdengar asing di kalangan pelajar kita. Misalnya kalau ditanyakan pada pelajar kita, siapa yang membebaskan Al - Quds, Palestina dari pasukan Salib? Pertanyaan sederhana dengan jawaban yang cukup dengan menghafal saja, masih banyak yang merasa asing. Berbeda bagi orang tua yang peduli, tentu memberikan ruang bagi putra - putrinya minimal mengenal nama sosok pahlawan agamanya. 

Mengenalkan sosok pahlawan Islam kepada generasi itu penting sekali. Mereka akan tumbuh menjadi generasi yang ibaratnya "kacang yang tidak lupa akan kulitnya". Di samping itu, akan banyak inspirasi kebaikan yang bisa diambil dari kisah - kisah heroik dalam rentang sejarah Islam tersebut.

Nilai kesungguhan dan keseriusan dalam menggapai cita - cita bisa dipetik dari kisah Al - Fatih. Bukankah cita - cita Al - Fatih yang ditanamkan oleh gurunya adalah mewujudkan janji Nabi Saw akan ditaklukannya Konstantinopel??  Tekad yang kuat dilandasi keimanan harusnya dimiliki oleh generasi umat Islam saat ini. Cita - cita yang ingin mereka torehkan di masa depannya harus dibungkus dengan tujuan ibadah. Dengan demikian, kesuksesan yang diraihnya akan linear pada kesejahteraan umat. 

Gigih, pantang menyerah,  yakin dan tidak mudah berputus asa menjadi sikap jiwa yang muncul dari sebuah kesungguhan yang dilandasi keimanan kepada Allah SWT. Hal demikian meniscayakan penyajian sejarah tidak bersifat sekumpulan maklumat yang membosankan. Ujung - ujungnya Mapel Sejarah tidak diminati. 

Sejarah yang ditampilkan dengan fragmen yang utuh, akan membawa jaman itu berada pada jaman kita. Utuh mencakup aspek pengetahuan dan mencakup pula unsur emosi kejiwaan yang melingkupi fragmen tersebut. 

Tatkala ditampilkan fragmen Muhammad al - Fatih dan pasukannya yang terhalang rantai besar di Selat Tanduk Emas, di sinilah stimulus berpikir harus ditumbuhkan pada pembaca. Tidak mungkin mundur. Pilihannya harus tetap maju, bila ingin meraih cita - cita. Maka berpikir cepat untuk mengambil keputusan yang tepat harus dilakukan. Akhirnya kapal - kapal pasukan Al - Fatih itu harus berlabuh di lautan bukit. Mustahil memang. Akan tetapi bagi orang yang landasan cita - citanya keimanan akan melahirkan hal - hal yang besar bahkan melampaui gagasan - gagasan besar yang pernah ada di dunia. Semangat jiwa yang teguh dan sabar akan menguatkan langkah perjuangan. 

Hari ini akan banyak yang berpikir bahwa terasa mustahil bagi bangsa ini bisa terbebas dari keterpurukan di segenap aspek kehidupan. Rundungan masalah itu multi kompleks masih membelit bangsa. Politik yang permisif opportunis, ekonomi liberal, budaya hedonis, dan setumpuk masalah lainnya. 

Yang patut disadari adalah bangsa Indonesia itu notabenenya adalah mayoritasnya berpenduduk muslim. Sepatutnya menjadikan keimanan kepada Allah SWT sebagai landasan dalam pengaturan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dengan begitu akan bangkit semangat untuk membebaskan diri dari neoimperialisme yang bercokol di negerinya. Rakyat akan bisa menjadi tuan di negerinya sendiri.

Patutlah untuk disyukuri adanya wacana pengharusan membaca kisah Al - Fatih tersebut, walaupun akhirnya dibatalkan. Paling tidak bisa memantik rasa penasaran generasi muda untuk memperluas kegiatan berliterasi. Dan pada harapannya kemudian, tumbuh kembang kecintaan literasinya pada sosok - sosok pahlawan Islam itu semakin meningkat. Mereka akan lahir menjadi sosok generasi yang tangguh, bukan generasi baperan, apalagi generasi micin.[]


Oleh: Ainul Mizan
Peneliti LANSKAP

Post a Comment

Powered by Blogger.